Mahardana Group terlihat semakin sibuk dalam beberapa bulan terakhir. Keberhasilan produk terbaru mereka berhasil menarik perhatian pasar internasional. Sejumlah perusahaan tekstil dari luar negeri bahkan mulai menjalin kerja sama jangka panjang dengan Mahardana Group.
Dalam enam bulan terakhir, keuntungan perusahaan meningkat pesat. Sebuah pencapaian yang membuat para pemegang saham merasa puas sekaligus penasaran dengan strategi yang diterapkan oleh Darren Mahardana.
Namun, tidak semua orang mengetahui bahwa di balik keberhasilan tersebut, ada seorang wanita yang bekerja dengan ketelitian luar biasa.
Hanin Claudya.
Perpaduan desain tradisional dengan sentuhan modern yang diciptakannya menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen. Ia mampu mempertahankan ciri khas kain lokal tanpa membuatnya terlihat kuno. Setiap desain memiliki karakter, keindahan, dan nilai jual yang tinggi.
Tidak mengherankan jika namanya mulai dikenal di kalangan perusahaan yang bekerja sama dengan Mahardana Group.
Sayangnya, keberhasilan itu justru menarik perhatian seseorang yang tidak menginginkan Darren semakin kuat.
Di sebuah ruangan luas dengan jendela yang menghadap ke taman, Arman duduk di sofa sambil mendengarkan laporan putrinya melalui sambungan telepon.
"Jadi, keuntungan perusahaan meningkat karena desain wanita itu?" tanya Arman memastikan.
"Sebagian besar, iya, Pa. Hanin memang sangat berbakat. Banyak desainnya yang disukai konsumen luar negeri. Bahkan, beberapa klien secara khusus meminta agar produk mereka dikerjakan oleh tim yang dipimpin Hanin."
Cintiya menjawab dengan jujur. Selama bekerja bersama Hanin, ia memang tidak menemukan sesuatu yang patut dicurigai dari wanita itu. Hanin bersikap profesional, ramah kepada rekan kerja, dan tidak pernah berusaha mencari perhatian dari siapa pun.
Justru karena itulah, Cintiya tidak merasa perlu menyembunyikan kemampuan Hanin dari ayahnya.
Namun, Arman memiliki pemikiran yang berbeda.
Baginya, siapa pun yang membuat Darren semakin kuat adalah ancaman. Terlebih jika orang tersebut memiliki pengaruh besar terhadap keputusan-keputusan yang diambil keponakannya itu.
"Bagaimana hubungan Darren dengan wanita itu?" tanyanya lagi.
Cintiya terdiam sejenak.
Ia teringat beberapa kejadian yang belakangan ini menarik perhatiannya. Darren yang biasanya dingin dan sulit didekati terkadang menunjukkan perhatian yang tidak biasa kepada Hanin.
Pria itu bahkan beberapa kali mendatangi divisi tempat Hanin bekerja. Sesuatu yang jarang dilakukan Darren tanpa alasan penting.
"Aku tidak bisa memastikan, Pa. Tapi sepertinya Kak Darren memang menyukai Hanin."
Raut wajah Arman berubah.
"Menyukai?"
"Iya. Aku pernah melihat bagaimana Kak Darren memperhatikan Hanin. Sikapnya berbeda ketika bersama wanita itu."
Arman menyandarkan tubuhnya ke sofa. Jemarinya mengetuk sandaran tangan perlahan, sementara pikirannya mulai menyusun berbagai kemungkinan.
Selama ini, ia selalu berusaha mencari kelemahan Darren. Akan tetapi, pria itu terlalu pandai menjaga diri. Darren tidak pernah membiarkan urusan pribadi mengganggu pekerjaannya, apalagi memberi orang lain kesempatan untuk menjatuhkannya.
Namun, jika benar Darren mulai menyukai seorang wanita, mungkin kali ini ia telah menemukan celah.
"Selain Hanin, apakah ada pria lain yang dekat dengannya?" tanya Arman.
"Ada. Namanya Roni. Mereka bekerja dalam divisi yang sama. Roni sepertinya menyukai Hanin dan beberapa kali memberikan perhatian kepadanya."
Senyum tipis muncul di wajah Arman.
Roni.
Nama itu terdengar seperti jawaban atas persoalan yang sedang dipikirkannya.
"Apakah Hanin membalas perasaan pria itu?"
"Aku tidak tahu pasti. Hanin tidak pernah bercerita tentang masalah pribadinya. Tapi sejauh yang kulihat, Roni memang berusaha mendekatinya."
Arman mengangguk kecil meskipun putrinya tidak bisa melihat gerakannya.
"Baiklah. Terus perhatikan mereka. Aku ingin kamu menceritakan apa pun yang terjadi di perusahaan, terutama yang berkaitan dengan Darren dan Hanin."
"Memangnya ada masalah, Pa?"
"Kamu tidak perlu mengetahui semuanya sekarang. Lakukan saja apa yang Papa minta."
Cintiya menggigit bibir bawahnya.
Ia memang sudah terbiasa mengikuti keinginan ayahnya. Sejak kecil, Arman selalu mengajarinya bahwa keluarga Mahardana memiliki kedudukan yang harus dijaga. Setiap keputusan, katanya, harus mempertimbangkan kepentingan keluarga.
Namun, Cintiya tidak pernah membayangkan bahwa pekerjaannya di Mahardana Group akan membuatnya terlibat dalam urusan pribadi Darren.
"Baik, Pa. Aku akan memperhatikan mereka."
Sambungan telepon berakhir.
Arman meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menatap lurus ke depan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa memiliki kesempatan untuk mengubah keadaan.
Jika Darren terus memperkuat kedudukannya, semakin sulit bagi Arman untuk mengambil alih kendali Mahardana Group. Karena itu, ia membutuhkan cara untuk membuat Darren kehilangan kepercayaan orang-orang di sekitarnya.
Dan Hanin bisa menjadi awal dari semuanya.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka.
Crish Mahardana masuk dengan langkah tenang. Pria yang telah berusia lanjut itu masih memiliki sorot mata tajam yang membuat orang lain segan kepadanya.