DI PERTEMUAN YANG KEDUA

sudiani
Chapter #44

Chapter 44

Malam itu, Hotel Yasmin menjadi pusat perhatian para pengusaha dan keluarga terpandang yang menghadiri perayaan ulang tahun Mahardana Group. Hotel mewah tersebut telah dihias dengan begitu elegan. Lampu-lampu kristal menerangi ballroom, sementara rangkaian bunga berwarna putih dan emas menghiasi setiap sudut ruangan.

Perayaan itu bukan sekadar pesta tahunan. Bagi Mahardana Group, acara tersebut merupakan bentuk penghargaan kepada seluruh karyawan sekaligus kesempatan untuk mempererat hubungan dengan para mitra bisnis dari berbagai negara.

Seluruh karyawan diundang, termasuk Hanin Claudya dan rekan-rekan satu divisinya.

Sore itu, Hanin masih duduk di depan meja kerjanya ketika Maya menghampirinya dengan wajah penuh semangat.

"Hanin, kamu sudah siap untuk nanti malam?"

Hanin mengangkat wajah dari layar komputernya.

"Siap untuk apa?"

Maya memandangnya tidak percaya.

"Ya ampun! Pesta ulang tahun perusahaan kita. Jangan bilang kamu lupa."

Hanin tersenyum kecil.

"Aku ingat. Tapi sepertinya aku tidak akan datang."

"Apa?" Maya langsung menarik kursi di sebelahnya. "Kenapa tidak datang? Ini acara besar, Hanin!"

"Aku kurang suka keramaian."

"Justru karena itu kamu harus ikut. Kapan lagi kita bisa menghadiri pesta semewah ini tanpa mengeluarkan uang sepeser pun?"

Hanin hanya menggeleng pelan.

Baginya, menghadiri pesta bukanlah sesuatu yang menarik. Ia lebih nyaman menghabiskan waktu di tempat yang tenang daripada harus berada di tengah banyak orang, berbasa-basi, dan tersenyum kepada orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya.

Namun, Maya belum menyerah.

"Cintiya! Tolong bujuk Hanin!"

Cintiya yang baru saja datang langsung menghampiri mereka.

"Memangnya kenapa?"

"Hanin tidak mau datang ke pesta nanti malam."

Cintiya menatap Hanin.

"Kamu tidak mau datang? Padahal seluruh karyawan diundang."

"Aku hanya kurang nyaman dengan keramaian."

"Tapi, Hanin, bekerja di Mahardana Group adalah impian banyak orang. Tidak semua karyawan mendapatkan kesempatan untuk menghadiri acara seperti ini. Lagi pula, ini perayaan keberhasilan kita bersama."

Hanin terdiam.

Ucapan Cintiya memang ada benarnya. Ia tahu betapa sulitnya mendapatkan pekerjaan di perusahaan sebesar Mahardana Group. Selama bekerja di sana, ia mendapatkan banyak pengalaman dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya.

Ia juga merasa diterima dengan baik oleh rekan-rekan kerjanya.

Tidak ada alasan untuk terus menghindari acara perusahaan hanya karena dirinya tidak terbiasa dengan keramaian.

"Baiklah. Aku akan datang," jawabnya akhirnya.

Maya langsung bersorak kecil.

"Nah, begitu dong! Nanti kita berangkat bersama."

Hanin tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.

Ia tidak tahu bahwa keputusannya menghadiri pesta malam itu akan membawanya pada sebuah kejadian yang hampir menghancurkan hidupnya.

Sementara itu, di sebuah restoran yang terletak tidak jauh dari Hotel Yasmin, Arman sedang duduk bersama Roni dan Cintiya.

Pertemuan itu sengaja diatur beberapa jam sebelum pesta dimulai. Arman memilih tempat yang cukup tenang agar tidak ada orang yang mengenali mereka atau mendengar percakapan yang seharusnya tidak diketahui orang lain.

Roni duduk dengan gelisah.

Sejak Cintiya menghubunginya dan mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakan ayahnya, ia tidak pernah membayangkan akan bertemu langsung dengan Arman Mahardana.

Sebagai karyawan, Roni mengetahui bahwa pria tersebut memiliki pengaruh besar dalam keluarga pemilik perusahaan.

"Jadi, kamu Roni?" tanya Arman.

"Benar, Pak."

Arman mengamati pria di hadapannya selama beberapa saat.

"Cintiya mengatakan bahwa kamu menyukai salah satu rekan kerjamu."

Wajah Roni seketika berubah.

Ia melirik Cintiya, yang hanya membalasnya dengan senyum tipis.

"Maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau pembicaraan ini berkaitan dengan masalah pribadi saya."

"Justru karena itu aku mengundangmu."

Arman menyandarkan tubuhnya.

"Siapa nama wanita itu?"

Roni tidak langsung menjawab.

Namun, setelah beberapa saat, ia akhirnya mengucapkan satu nama yang selama ini memenuhi pikirannya.

"Hanin Claudya, Pak."

Arman tersenyum tipis.

"Ternyata benar."

Roni menunduk. Ia tidak tahu harus berkata apa.

Selama ini, ia memang menyukai Hanin. Wanita itu berbeda dari perempuan lain yang pernah dikenalnya. Hanin tidak banyak bicara, tidak suka mencari perhatian, dan selalu bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya.

Akan tetapi, semakin ia berusaha mendekati Hanin, semakin ia menyadari bahwa wanita itu memiliki jarak yang sulit ditembus.

Bahkan, belakangan ini Roni mulai merasa ada sesuatu yang berubah.

Darren Mahardana, pria yang biasanya sulit ditemui karyawan biasa, semakin sering memperhatikan Hanin.

Roni tidak tahu apa hubungan mereka sebenarnya, tetapi hal itu membuatnya gelisah.

"Pak Arman, saya memang menyukai Hanin. Tapi saya tidak ingin memaksanya menerima perasaan saya."

Arman mengangkat alis.

"Kamu yakin?"

"Tentu, Pak."

"Kalau aku bisa memberimu kesempatan untuk mendapatkan wanita itu, apakah kamu bersedia mengambilnya?"

Roni terdiam.

Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi ada sesuatu di balik tatapan Arman yang membuatnya merasa tidak nyaman.

"Apa maksud Bapak?"

Arman tersenyum.

"Aku hanya ingin membantumu. Kamu pria yang cukup baik, memiliki pekerjaan tetap, dan pantas mendapatkan pasangan yang kamu inginkan. Kalau kamu serius terhadap Hanin, mengapa tidak berusaha lebih jauh?"

Cintiya yang duduk di sebelah Roni ikut berbicara.

"Roni, Paman Arman hanya ingin membantu. Aku juga mengenal Hanin dengan cukup baik. Mungkin selama ini kamu hanya belum menemukan kesempatan yang tepat untuk mengungkapkan perasaanmu."

Roni mengusap wajahnya.

"Aku sudah mencoba mendekatinya, Cintiya. Tapi aku tidak tahu apakah dia memiliki perasaan yang sama."

"Kalau begitu, bukankah sebaiknya kamu mencari tahu?"

Arman mengambil gelasnya, lalu meletakkannya kembali.

"Ada satu hal lagi yang ingin kutawarkan kepadamu."

Roni menatapnya.

"Jika semuanya berjalan sesuai rencana, aku bisa mempertimbangkanmu untuk posisi yang lebih baik di perusahaan."

Mata Roni sedikit membesar.

"Kedudukan yang lebih baik, Pak?"

"Benar. Orang yang memiliki kemampuan dan keberanian mengambil kesempatan pantas mendapatkan penghargaan."

Arman sengaja membiarkan kalimat itu menggantung.

Ia tahu bahwa Roni bukan berasal dari keluarga kaya. Kedudukan yang lebih tinggi dan masa depan yang menjanjikan tentu menjadi sesuatu yang sulit ditolak.

Namun, yang tidak disadari Roni adalah bahwa tawaran tersebut bukanlah hadiah cuma-cuma.

Ada harga yang harus dibayar.

"Jadi, apa yang harus saya lakukan?" tanya Roni akhirnya.

Arman mencondongkan tubuhnya sedikit.

"Kamu hanya perlu mengikuti arahan Cintiya malam ini. Dia akan membantumu mendekati Hanin."

Roni menoleh kepada Cintiya.

Wanita itu membalas tatapannya, tetapi kali ini senyumnya tidak setenang sebelumnya.

"Tenang saja, Roni. Aku akan membantumu," katanya.

Roni mengangguk perlahan.

Saat itu, ia belum sepenuhnya memahami ke mana arah rencana tersebut.

Ia hanya tahu bahwa untuk pertama kalinya, seseorang menawarkan kesempatan yang mungkin bisa mengubah hidupnya.

Dan tanpa disadarinya, ia baru saja melangkah ke jalan yang salah.

Menjelang malam, Hanin tiba di Hotel Yasmin bersama Maya dan beberapa rekan kerja lainnya.

Ia mengenakan gaun sederhana yang membuat penampilannya terlihat anggun tanpa berlebihan. Rambutnya ditata rapi, sementara riasan tipis membuat wajahnya terlihat segar.

Hanin tidak berusaha menjadi pusat perhatian. Ia hanya ingin menikmati acara bersama teman-teman kantornya, lalu pulang setelah semuanya selesai.

Begitu memasuki ballroom, Maya langsung mengajaknya melihat dekorasi dan meja hidangan.

"Bagaimana? Bagus sekali, kan?"

Hanin mengangguk.

"Iya. Tempatnya indah."

"Kamu tahu siapa yang akan memberikan sambutan nanti?"

Hanin menoleh.

"Siapa?"

Maya mendekatkan wajahnya, seolah sedang membisikkan rahasia besar.

"Pak Darren Mahardana sendiri."

Hanin terdiam sesaat.

Ia tentu sudah mengetahui bahwa Darren akan menghadiri pesta tersebut. Namun, berada di rumah bersama pria itu setiap hari membuatnya terkadang lupa bahwa Darren adalah pemimpin perusahaan yang disegani banyak orang.

Di rumah, Darren bisa menjadi pria pendiam yang menanyakan apakah ia sudah makan atau belum.

Di kantor, pria itu adalah CEO yang keputusan-keputusannya menentukan arah perusahaan.

Dan malam ini, Hanin harus bersikap seperti karyawan biasa di hadapan suaminya sendiri.

Pikiran itu membuatnya sedikit canggung.

"Kamu kenapa?" tanya Maya.

"Tidak apa-apa."

"Jangan bilang kamu gugup bertemu Pak Darren."

Hanin tersenyum kecil.

"Aku hanya ingin mencari minuman."

Ia segera mengalihkan pembicaraan.

Hanin tidak ingin Maya mengetahui sesuatu yang belum siap ia ceritakan kepada siapa pun.

Terlebih, pernikahannya dengan Darren bukanlah pernikahan yang dibangun atas dasar cinta. Setidaknya, itulah yang selalu ia yakini.

Di sisi lain ballroom, Darren baru saja tiba bersama Steve.

Kehadiran CEO Mahardana Group langsung menarik perhatian para tamu. Beberapa mitra bisnis menghampirinya untuk menyampaikan ucapan selamat, sementara sejumlah karyawan berdiri dengan sikap hormat.

Darren melayani mereka dengan profesional.

Namun, di balik sikap tenangnya, pandangannya terus menyapu ruangan.

Ia sedang mencari seseorang.

"Hanin sudah datang?" tanyanya kepada Steve ketika mereka mendapat kesempatan untuk menjauh dari kerumunan.

Lihat selengkapnya