Dokter yang sejak tadi memeriksa kondisi Hanin akhirnya berdiri di hadapan Darren. Wajah pria paruh baya itu terlihat serius ketika menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada istri sang CEO.
"Pak Darren, berdasarkan gejala yang muncul, minuman yang dikonsumsi istri Anda kemungkinan telah dicampuri zat perangsang. Efeknya memang belum sepenuhnya terlihat ketika beliau masih tidak sadarkan diri. Namun, setelah kesadarannya mulai kembali, zat tersebut akan bereaksi lebih kuat."
Rahang Darren mengeras.
Jemarinya mengepal di sisi tubuh. Bayangan Hanin yang terbaring lemah di ranjang membuat amarahnya semakin sulit dikendalikan.
"Apakah kondisinya berbahaya?" tanyanya dingin.
"Kami sudah memberikan penanganan awal. Saya juga menyiapkan obat penawar yang harus diminum setelah beliau sadar sepenuhnya. Tolong pastikan beliau meminumnya sesuai petunjuk."
Dokter menyerahkan sebuah obat kepada Darren.
"Minumkan ini setelah dia sadar. Jika kondisinya memburuk atau tidak segera membaik, segera hubungi saya kembali."
Darren menerima obat tersebut dan mengangguk.
"Terima kasih, Dokter."
Setelah memberikan beberapa instruksi tambahan, dokter meninggalkan kamar hotel itu.
Darren berdiri diam selama beberapa detik. Pandangannya beralih kepada Hanin yang masih terbaring di atas ranjang.
Wanita itu sama sekali tidak pantas mengalami hal seperti ini.
Siapa pun yang berani mencelakai Hanin, Darren tidak akan tinggal diam.
Namun, untuk saat ini, keselamatan istrinya adalah prioritas utama.
Darren segera menghubungi Steve dan meminta asistennya itu memastikan tidak ada seorang pun yang memasuki kamar. Maya yang sejak tadi menunggu dengan wajah cemas juga diminta pulang setelah mengetahui Hanin sudah mendapatkan penanganan.
"Pak, apa Anda yakin tidak membutuhkan bantuan?" tanya Steve sebelum pergi.
"Aku bisa mengatasinya. Pastikan tidak ada yang mengganggu kami."
Steve mengangguk. Ia mengenal Darren cukup lama untuk mengetahui bahwa ketika bosnya berbicara dengan nada seperti itu, tidak ada gunanya membantah.
Setelah pintu tertutup, Darren kembali menghampiri ranjang.
"Hanin, bertahanlah sebentar lagi."
Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan istrinya dengan hati-hati.
Beberapa menit kemudian, Hanin mulai bergerak.
Keningnya berkerut. Kelopak matanya terbuka perlahan, tetapi pandangannya masih kabur. Ia mencoba mengangkat tubuhnya, lalu kembali menjatuhkan kepala ke bantal.
"Gerah..."
Suara lirih itu membuat Darren segera mendekat.
"Hanin?"
Hanin menggeleng kecil. Napasnya mulai tidak teratur. Ia merasa tubuhnya panas dan pakaiannya begitu tidak nyaman. Dengan gerakan gelisah, tangannya berusaha membuka bagian atas gaun pestanya.
Darren segera menahan tangannya.
"Hanin, jangan. Dengarkan aku."
Namun, Hanin seperti tidak benar-benar memahami perkataannya.
"Aku panas..." keluhnya. "Tolong, aku tidak nyaman."
Darren menarik napas panjang, berusaha mempertahankan ketenangannya.
Ia tahu zat itu mulai bereaksi.
"Hanin, lihat aku. Ini aku, Darren."
Wanita itu menoleh. Tatapannya tidak fokus, tetapi tangannya justru meraih lengan Darren seolah mencari sesuatu untuk dijadikan pegangan.
"Aku ingin minum..."
"Baik. Tunggu sebentar."
Darren mengambil segelas air dan obat penawar yang sudah disiapkan dokter. Ia membantu Hanin bersandar, lalu mendekatkan obat itu ke tangannya.
"Hanin, minum ini. Setelah itu kau akan merasa lebih baik."
Namun, ketika obat tersebut hendak diberikan, Hanin tiba-tiba menepis tangannya.
Gelas kecil berisi obat terlepas dan jatuh ke lantai.