Waktu pagi tadi mengambil satu kardus bekas kemasan rim kertas di gudang kantor, Emran sama sekali tidak menyangka akan mengisinya dengan seekor kucing.
Lelaki itu memang tidak pernah menendang kucing yang biasanya meminta makan di sela kaki waktu makan siang di warteg. Namun, seumur hidup dia juga tidak pernah memelihara hewan peliharaan, atau dikenal sebagai seorang pencinta binatang di antara teman-temannya. Dia sama seperti laki-laki kebanyakan saja. Wajahnya rata-rata, perawakannya pada umumnya, pekerjaan dan kehidupannya pun tidak jauh berbeda dengan lelaki lain.
Pagi itu, beberapa menit yang lalu, setelah tiba di kantor, dia memasukkan kehadiran lewat sidik jari seperti biasa. Kemudian menuju ruangan divisi kantornya, meletakkan tas kulit kecil di meja kerja, dan menyalakan komputer di mejanya – untuk ‘mengabarkan’ keberadaannya di kantor. Setelahnya dia turun dengan lift ke lantai rubanah satu, tempat gudang berada. Jam kerja kantor belum dimulai, dia bisa mengurus satu keperluannya dahulu.
Diingatnya sebelum ke kantor, waktu di rumah, istrinya berujar di sela menggendong anak bungsu mereka dan menyeduh susu bubuk di gelas, “Abi, jangan lupa titip bawa kertas bekas buat prakarya Ezra.”
Emran mengunyah nasi goreng sosisnya sebelum menggumam, “Ok.” Samar dia ingat sepertinya sudah tiga hari berurutan dia lupa perkara bawa kertas bekas itu dari kantor.
Dia menengok ke anak sulungnya, “Ezra, kapan dipake kertas bekasnya?”
Anaknya mengernyit sebentar, “Senin depan, Bi. Kata bu guru, mau dibikin kertas daur ulang sama papier mache…”
“Nanti pulang kantor, Abi bawa ya,” dia menjawil pipi Ezra. Bocah itu cuma cengengesan sambil pipinya terus menggembung karena menyendokkan terlalu banyak nasi goreng.
“Daurrr ulang apa tuh?” Ehsan, si anak tengah menimpali. Tentu sambil memamerkan lepasnya ia dari kutukan lidah cadel setelah beberapa lama kenyang diolok-olok geng mainnya di sekitar rumah.
Istrinya menaruh gelas seduhan susu tadi di depan Ehsan, meraih gelas Ezra yang sudah kosong sambil lalu menjawab, “Daur ulang itu proses mengembalikan bahan yang sudah tidak berguna, menjadi berguna kembali.”
Ehsan membeo kata per kata jawaban ibunya, tak lupa ditambahi, “Berarti gelas Ehsan juga daurrr ulang tiap hari, Mi?”
“Kan gelas Ehsan tiap hari juga masih berguna, jadi bukan daur ulang, dong,” sahut perempuan itu dari sisi bak cuci piring, sibuk membilas cucian piring. Sementara Eshal, si putri bungsu, yang bergelayutan menempel di gendongan meraih ujung rambut ibunya dan mengunyahnya tanpa dosa.
“Oh iya, benerrr juga,” Ehsan masih ceriwis. “Sok tahu, sih…” Kakaknya ikutan ribut.
Emran yang menonton, cuma meneguk kopinya sampai tandas. Dia masih tidak tahu bagaimana cara istrinya menekel urusan ketiga anak mereka, dan masih mampu menjawab pertanyaan iseng seperti tadi dengan jawaban yang serius.
Dia berpikir, mungkin ada kaitannya dengan kata-kata kalau otak perempuan mampu-mampu saja melakukan tugas ganda atau bahkan multitugas, sementara otak laki-laki hanya bisa fokus melakukan satu tugas saja dalam satu waktu. Makanya dia pagi ini serius ke gudang ATK. Keluar lift dia berjalan sedikit sampai deretan pintu dan pintu gulung besi di sisi samping rubanah.
Emran melongok dari ambang pintu gudang. Dia menunggu sampai muncul wajah Pak Edi – yang kontrol gudang – di jendela kaca ruangan sebelah. Emran mengangguk.
“Eh, Pak Emran,” lelaki beruban itu menyapa.