Begitu mendudukkan bokong di kursi kerja, Emran langsung ingat. Dia belum melepas kucing hitam itu di deretan warteg dan warung makan belakang gang kantor ketika istirahat makan siang. Dia kelupaan membawa kardus dan isi makhluk di dalamnya waktu istirahat siang tadi.
Sekarang istirahat siang sudah lewat lima belas menit. Makan siang dan shalat dzuhur sudah, dia agak malas turun lagi ke bawah. Jadi, dia memutuskan untuk melanjutkan saja pekerjaannya. Nanti pulang kantor, ia pikirkan lagi bagaimana nasib kucing itu.
Beberapa jam berlalu, layar gawainya menyala. Ada sebuah panggilan telepon masuk. Gawainya dipasang mode senyap, tapi kalau Emran pas melirik ponselnya, tentu dia bakal tahu ada pemberitahuan chatting atau telepon masuk.
Dia mengeklik simpan pada pembaharuan pekerjaannya sebelum meraih gawainya dan menggeser tombol jawab telepon masuk itu.
“Halo?” Suara di seberang sana terdengar ragu-ragu.
Emran membaca layar gawainya, memastikan benar lelaki di ujung sana adalah Pak RT di lingkungan rumahnya, lalu menjawab dengan suara pelan, supaya rekan seruangannya tidak terganggu, “Halo. Ada apa Pak RT?”
“Assalamualaikum, Pak Emran…” Suaranya masih terkesan gugup. Setelah jeda yang tak perlu, Pak RT menambahkan lagi, “Ini saya Pak Z, Pak RT di perumahan…”
“Wa alaikumsalam. Iya, ada apa, Pak RT?” Ia merasa Pak RT agak bertele-tele.
“Pak Emran posisi sedang di kantor?”
Ya iya, kan ini hari kerja dan saya belum pensiun, pikir Emran. Tapi dia ladeni juga pertanyaan lelaki tua itu, “Iya, Pak RT. Saya sedang di kantor.”
“Anu…”
Dia mengernyitkan kening, masih menunggu Pak RT melanjutkan bicara.
“Anu, Pak Emran bisa pulang sekarang?”
Normalnya tidak bisa sih. Mau gimana, kan saya cuma pegawai, Pak, tidak bisa suka-suka pulang jam berapa saja, sahutnya dalam hati. Sejurus kemudian dia jawab dengan diplomatis saja, “Ada keperluan apa ya, Pak? Kalau pulang kantor saja gimana? Nanti saya temui Pak RT?”
“Ah… Lebih baik sekarang, Pak Emran. Apa sulit izin ke kantornya, Pak?”