Di Rumah Ini, Kesempatan Datang Dua Kali

Nurina Listya
Chapter #3

Bab 3 Kematian adalah Teman Setia Kita Semua

Seorang lelaki plontos berpakaian cokelat-cokelat ala polisi – yang dengan semangat berpikir positif, Emran menambahkan pilihan identitas lain bagi si lelaki itu: Atau anggota pramuka? Atau hanya seorang lelaki yang sangat suka warna cokelat? Tapi dari bentuk bahu tegapnya, mau tak mau, lelaki itu sungguh seperti polisi betulan. Hanya dia tidak paham kenapa ada polisi di sini – menghampirinya. Dia meletakkan telapak tangan di punggung Emran, lalu memandunya menyusuri jalan, sebelum masuk melalui pagar rumah.

 Di balik pagar rumah, ada Pak RT yang air mukanya janggal. Juga dua lelaki tegap yang mengapit seorang laki-laki berkumis, yang entah bagaimana bisa lebih besar lagi dibanding keduanya.

 “Dengan Bapak Emran?”

 Dia mengangguk. Nada suara lelaki di depannya itu membuat perutnya terasa tidak enak, seperti baru saja minum segalon es cendol yang terlalu manis.

 Lelaki berkumis itu maju selangkah di hadapan Emran.

 “Pak Emran.” Terdengar nada setengah segan dalam sapaannya - tidak cocok dengan perawakannya yang besar dan tulangnya yang tebal. Polisi itu melanjutkan, “Ada sesuatu yang terjadi di dalam rumah bapak, dan ketiga korb…” Lelaki itu menarik napas terlebih dahulu baru meneruskan, “Ketiganya telah kami evakuasi…”

 Tiga apa? Atau siapa?

Sejak hari-harinya di masa sekolah dan kuliah, Emran tahu dia bisa menjadi cukup pintar karena tekun belajar. Bukan tipe keajaiban jenius seperti beberapa orang spesial yang pernah ia kenal, dan persis di detik seperti inilah dia tahu pada dasarnya dia memang tidak pandai-pandai amat. Pikirannya buram dan sel-sel saraf neuron di otaknya - dia yakin - tidak tersambung kemana-mana.

 Tangan kanan Pak RT mengusap bahu Emran, sambil menuntunnya, “Innalillahi…wa inna ilaihi raajiuun…” Selagi tangan kiri lelaki tua itu mendekap dadanya sendiri, meski kurang jelas apa yang Pak RT pegang dengan tangannya.

 Otaknya masih kosong meski bibir Emran ikut membuka perlahan. Dia tidak dengar apa lidahnya membeo kata-kata Pak RT dengan tepat atau tidak.

 Dulu dia pernah dengar ceramah di masjid. Manusia kadang menjalani hidup sehari-hari tanpa ingat bahwa kematian adalah teman yang setia. Di telinganya, suara penceramah itu saat ini terdengar bergema bersama ribuan gaungnya, seolah terpantul dari dinding-dinding gua di dasar laut.

Lihat selengkapnya