Kalau hidup adalah sebuah film, lensa kamera film Emran pasti telah dinodai oleh seorang kameramen yang sembrono. Kemungkinan besar dengan polesan jemari bernoda minyak bekas pegang gorengan: tahu isi atau bakwan sayur.
Ia tidak terlalu yakin sudah tiga hari ataukah tiga pekan berlalu. Atau malah tiga bulan? Kalaupun itu tiga tahun, sebetulnya dia juga tidak terlalu peduli.
Hari-harinya penuh pusaran bayangan. Suatu waktu ia agak sadar, melihat Pak Y atasannya, didampingi sejumlah rekan sejawat mendatangi. Setelah ucapan, “Kami turut berduka cita, Pak…” yang diwarnai rona muka bak ‘Baru mau ambil uang di Atm tapi kartunya ditelan mesin, mana malam dan tidak ada satpam’, ia tidak terlalu berminat memahami perkataan lain bosnya itu.
Tanpa bermaksud tak hormat, bagi Emran semua hal terasa sebagai iklan yang berseliweran dalam jeda di televisi – atau di youtube. Dia menunggu dan berharap sekali lagi melihat siaran acara utama dalam kehidupannya. Cuma itu yang ia pikirkan. Jadi dia hanya menangkap ujung pembicaraan atasannya soal dia diberi cuti sekian waktu.
Bukannya Emran buka-buka kalender akhir-akhir ini, tetapi ia bisa sedikit tenang tahu bahwa hidupnya tidak ditambah malapetaka dipecat dengan tidak hormat.
Pertemuan itu diakhiri dengan Emran mengantar punggung atasan dan rekan sekantornya sambil mencengkeram bilah pagar besi di rumah orangtuanya. Garis-garis tekanan besi itu ramai tercetak di telapak tangannya. Persis waktu ia bocah yang main kemalaman lalu dihukum tidak boleh masuk rumah.
Seperti yang tadi ia bilang, ia tidak begitu paham bagaimana hari-harinya berlalu, Namun, ia ingat menonton ayahnya dan suami adiknya berkejaran mengepulkan asap rokok di teras belakang tiap pagi datang dan petang yang menjelang. Seolah keduanya lokomotif uap yang diburu waktu. Dalam pekatnya kepulan asap, adiknya sering sekali berurai airmata. Dengan canggung, Emran menepuk-nepuk punggung perempuan beranak satu itu, yang malah membuat adiknya makin heboh terisak.
Mereka empat bersaudara. Kedua kakaknya semua laki-laki. Emran nyaris jadi bungsu ketika akhirnya adiknya terlahir sebagai perempuan. Dan, ibunya, oh, betapa terang mata ibunya waktu tahu anak bungsunya seorang perempuan. Makanya meski sudah menikah, adiknya itu tinggal tak jauh dari rumah orangtua mereka. Sejak Emran tinggal di rumah orangtuanya (lagi), ia hampir setiap hari melihat adik dan adik iparnya ikut menginap juga.