Esok sorenya begitu sampai di depan pagar rumah, layaknya penagih hutang, dua sosok lelaki sudah menunggu. Pak RT, di sebelahnya ada Seto. Saat motor adiknya mendekat, kedua lelaki itu membukakan gembok pagar rumah Emran. Seakan-akan rumahnya sendiri itu disita dan pindah tangan pada lelaki tua itu. Emran turun dari boncengan motor kemudian melepas helm di depan pak RT.
“Sore, Pak Emran.” Pak RT menyapa.
Sejurus kemudian lelaki beruban itu menambahkan kalimat yang ia susun hati-hati sebelumnya. “Kalau ada perlu apapun, boleh hubungi saya. Barangkali butuh bantuan, bisa panggil Seto juga. Saya lagi nongkrong di pos,” tangannya mengarah pada bangunan kecil di ujung jalan.
Emran memutuskan menganggukkan kepala, tambah senyum sedikit. Akhir-akhir ini ia perhatikan orang-orang nampak maklum kalau ia tidak banyak bicara.
Motor melaju parkir dalam garasi dengan canggung. Sebetulnya tadi adiknya ingin parkir saja di pinggir jalan depan rumah. Tapi dipikir-pikir tentu lebih menakutkan kalau motor hilang akibat parkir sembarangan di jalan dibandingkan masuk ke dalam rumah bekas TKP pembunuhan.
Adiknya ragu-ragu melangkahkan kaki, tapi cukup sopan untuk tidak berdiri di depan pintu. Ia meilipir di pinggir teras. Tangannya pegangan pada sandaran kursi teras dari besi.
Ia pelan berujar, “Bang. Abang baik-baik aja kan?”