Di Rumah Ini, Kesempatan Datang Dua Kali

Nurina Listya
Chapter #6

Bab 6 Seekor Kucing dan Sebuah Cahaya (Bagian 1)

Jika ada yang bilang pada Emran kematian datang serupa cahaya, ia pasti percaya kalau ia sudah mati sore itu – di dak jemuran rumahnya.

 Dalam latar dak dengan lantai plur semen beratap lempeng fiber murahan warna bening, tiga dekade hidupnya ia tidak pernah melihat hal seperti ini dengan mata kepalanya sendiri. Di film genre fantasi mungkin ia pernah menontonnya. Seakan matahari – atau bintang, atau apapun benda langit besar- turun di dak jemuran rumahnya dan berkelindan dengan tali-tali plastik jemuran.

Lelaki itu bergetar. Sekujur tubuhnya berguncang seperti di dalam mesin cuci dengan mode memeras yang brutal. Emran tidak tahu dapat kekuatan darimana, tapi mulutnya berhasil terbuka. Seperti naskah film, terbata-bata ia bersuara, “Si… Siapa kamu?”

 “Jangan takut!” Cahaya raksasa di dak jemuran meledakkan kata-kata.

 Gigi lelaki itu makin bergemeletuk. Sejak kapan dibilangi ‘Jangan takut’ otomatis tidak membuatmu ketakutan? Apalagi dengan suara memekakkan begitu.

 Ruang jemurnya sama terangnya dengan studio foto, kontras dengan langit di luar dak jemuran yang perlahan meremang dalam pelukan malam. Bergumul dalam hawa mencekam, kedua mata Emran berkedip-kedip. Dari sudut matanya, ia lihat kucing hitam dari rubanah kantor. Kucing itu duduk di atas tutup kardus. Kedua kaki depannya dilipat, ekornya meliuk-liuk. Matanya yang kehijauan menatap Emran.

 “Sore, Bang.”

Seseorang menyapa. Kali ini suaranya kecil, tidak menggelegar. Tidak ada makhluk lain di dak jemuran itu kecuali dirinya, seekor kucing, dan entah-apa yang besar bercahaya itu. Masih gemetaran, lelaki itu memicingkan matanya.

 “Di sini.”

Lelaki itu menoleh-noleh. Kebetulan kucing hitam itu membuka tutup mulut, mungkin binatang itu baru saja menguap.

“Kucing yang ngomong, Bang.”

Lihat selengkapnya