Di Rumah Ini, Kesempatan Datang Dua Kali

Nurina Listya
Chapter #7

Bab 7 Seekor Kucing dan Sebuah Cahaya (Bagian 2)

Lelaki itu langsung teringat sebuah lagu lawas dari Barat ‘It’s now or never’. Kalau mau dihayati, situasinya saat ini mirip begitu. Sekarang, atau tidak selamanya.

Emran menghirup napas dalam-dalam. Sebanyak udara yang bisa menjernihkan kepalanya. Dia perlu lebih tenang supaya bisa fokus. Ia mengedarkan pandangan pada dua makhluk lain di dak jemuran, tanpa banyak pikir lalu berujar.

 “Gimana aku menyebut kalian? Si kucing dan Si cahaya?”

“Panggil aja aku Jennie,” sambar si kucing hitam.

 “Kok Jennie?”

 Kucing itu mengangkat bahu, “Pernah ada yang bilang aku cocok namanya Blackpink aja, sambil mereka bilang Jennie Blackpink gitu.” Si kucing menunjukkan satu telapak kaki depannya. Kulit di telapaknya warna merah jambu, dikelilingi bulu-bulu hitam pekat.

 Emran memutar bola matanya. Dia nggak paham kesukaan anak zaman sekarang.

 Ada satu lagi yang harus ia tanyai.

 “Aku harus menyebutmu apa?”

 Lelaki itu gantian menoleh pada sesosok semburan cahaya yang luar biasa besar.

 Pendar cahaya itu menyuarkan suara – yang masih terlalu kencang, “Aku makhluk yang tidak berpikir!”

 Emran merasa kupingnya kembali berdenging. Untuk ukuran sesuatu yang mengaku tidak berpikir, makhluk itu memang betul-betul tidak nyambung dengan pertanyaan. Kalau ini acara talkshow komedi di televisi, mungkin di antara penonton bakal ada yang menyahuti ‘Jaka Sembung bawa golok, gak nyambung bok…’

Kucing hitam itu kelihatan pusing juga, dia berseloroh, “Tampilan dan suaramu masih belum cocok untuk di bumi.”

Lihat selengkapnya