Di Rumah Ini, Kesempatan Datang Dua Kali

Nurina Listya
Chapter #8

Bab 8 Pagi yang Biasa Saja (Bagian 1)

Entah bagaimana Emran merasa jadi penyusup di sebuah lokasi syuting serial televisi. Terlebih ketika sosok aktor (KW) di hadapannya mengelus janggut hologram itu dengan raut muka dan gerak-gerik persis sang aktor sungguhan. Sungguh absurd.

Sosok itu terdiam sesaat. Lalu menjelaskan, “Aku akan mengantarmu. Kita bisa mundur di sepanjang garis waktu kehidupan. Di titik manapun. Melihat apa yang sebenarnya terjadi di masa itu.”

Emran mendengarkan dengan seksama. Jika tidak ada tragedi dalam hidupnya, mungkin Emran bakal pilih mundur terus. Sampai bertemu Nabi Adam dan Hawa saat masih di surga. Bertanya-tanya apa sih alasan leluhurnya itu - di tengah segala kelimpahan surga, malah ngotot makan buah Khuldi. Lalu mungkin, mungkin saja kan, berhasil membujuk manusia pertama itu untuk tidak meraih buah tersebut.

“Kamu yang pilih. Setelah yakin, kamu bisa memulai ulang hidup dari titik pilihan terakhirmu itu,” Mall lanjut memaparkan aturan mainnya.

 Wah. Sebuah kesempatan kedua. Sesuatu yang jarang sekali didapatkan dalam hidup. Apalagi ini soal waktu yang diputar kembali. Lelaki itu berdehem, gugup.

“Coba dipikirkan. Kamu mau mulai dari mana dulu?”

 Pertanyaan sulit. Dia berharap diberi waktu lebih panjang untuk memikirkan baik-baik soal ini semua. Sejenak Emran merenung.

Dengan gentar, mulutnya berkata, “Pagi sebelum kejadian. Aku perlu tahu apa yang menyebabkannya terjadi.”

Aktor berukuran ekstra itu mengangguk. Jennie memperhatikannya, sebelum beranjak pindah pada pelukan tangan Mall. Tangan Mall yang satu lagi memberi kode untuk mendekat.

 Emran beringsut pada aktor setinggi pintu rumah itu. Kelima indranya menajam, berdebar menunggu apa yang terjadi selanjutnya.

Tetapi ada satu yang mencolok. Dia bisa mendengar sayup-sayup untaian nada berulang. Tik, tik, tik. Suara tetesan kecil-kecil pelan aliran air, layaknya seseorang ceroboh tidak penuh mematikan putaran sebuah keran.

Kemudian, tanpa aba-aba, bersama-sama mereka bertiga berpusing dalam pusaran cahaya. Tidak ada apapun di sekelilingnya, tidak juga tubuhnya. Hanya ada tornado cahaya yang memporakporanda realita.

Lihat selengkapnya