Seakan mereka ada di dalam pemutar film raksasa, adegan kembali beberapa saat waktu istrinya mulai duduk untuk mencuci.
Pakaian bayi harus dicuci dengan tangan. Kalau sudah agak besar, baru bisa masuk mesin cuci. Sebuah suara – suara istrinya, namun tanpa perempuan itu membuka mulut – terdengar persis waktu perempuan itu menggosok pakaian bayi dengan tangan.
Oh, mirip subtitles – barisan kata-kata terjemahan pada bagian bawah sebuah film. Cuma ini berupa suara bak editan di sinetron dan film galau penuh kontemplasi diri, batin Emran takjub.
Tapi kenapa, kan sama saja pakaian juga? Lelaki itu masih heran.
Bagai menjawab pertanyaannya, sebuah gelembung yang nampak berembun terbit di atas kepala perempuan itu. Mirip balon pikiran dalam sebuah komik.
Di dalam gelembung yang agak berbayang itu, ada mertua Emran – ibu kandung istrinya. Perempuan itu bilang: ‘Pakaian bayi, apalagi yang masih kecil, jangan masuk mesin cuci. Nanti bayinya sakit’. (Hubungannya apa, pikir Emran)
Lalu wajah ibunya Emran muncul, ikutan berkata: ‘Pernah dengar juga. Tapi, daripada cepat rusak, atau takutnya kena kotor dari pakaian yang dewasa kan’. (Bisa pakai mode mencuci lembut, sahut lelaki itu)
Beberapa wajah lain bergantian nampak: ‘Nggak boleh diputar masuk mesin cuci, takut bayi pusing’, ‘Kalau diperas di mesin cuci katanya bikin bayi diare’, dan ‘Emang ibunya gak sayang anak? Cuma cuci perlengkapan bayi pakai tangan aja kok ngeluh. Lebih baik dengerin kata-kata orang dulu, daripada kenapa-kenapa’. (Emran memutar bola matanya)
Jelas-jelas itu mitos. Kenapa istrinya mendengarkan itu? Kan malah menyusahkan diri sendiri? Kalau orangtua mungkin di-iya-kan saja, tanpa wajib dilakukan. Sementara yang tidak begitu dekat, buat apa diikuti. Lagipula banyak wajah yang tak begitu dikenal, siapa sih itu tadi. Emran ribut dalam hatinya. Dia masih ingin membahas ini panjang lebar.
Tetapi dia lalu sadar, sebelum subuh itu istrinya hanya tekun bergerak, tidak banyak pikir. Jadi lelaki itu kembali memantau istrinya.