Di Semua Dunia, Raya

Tegrid Chintya Ifareyne Rauf
Chapter #1

BAB 1

"So we beat on, boats against the current,

borne back ceaselessly into the past.”

-The Great Gatsby


Seseorang di hadapannya memberi aba-aba. Bima yang melihat hal itu segera mengangguk dan mulai membaca naskah yang sudah berada di tangannya sejak tadi.


“Untuk lagu terakhir hari ini kami mendapat surat dari Tuan Bayu. Untuk cinta pertamaku yang besok menjadi istriku. Terima kasih untuk lima tahun ini. Mohon bantuan untuk kedepannya aku mencintaimu.”


“Sepertinya malam ini akan ditutup dengan lagu cinta yang bahagia.”

Ujar perempuan bernama Silvia yang kini berada di depan Bima.


“Firasat dari Silvia emang gak pernah salah. Lagu terakhir untuk malam ini Andra and The Backbone - Sempurna.”

Sebuah lagu segera terputar di sana itu adalah lagu yang cukup populer belasan tahun lalu.. Bima bersama dengan partnernya Silvia segera keluar dari sana dan mengucapkan terima kasih kepada para staf yang sudah bekerja dengan mereka malam itu.


“Terima kasih banyak untuk kerja kerasnya.”

Ujar Bima dan Silvia membungkuk kepada para staf sebelum berpamitan pulang.


“Lo mau langsung pulang malam ini Bim? Pak Andri nanti ngadain makan malam bersama perayaan setahun acara radio kita.”

Ucap seorang staf kepada Bima. Bima terdiam, tidak mungkin ia akan melewatkan hari spesial perayaan acara yang berhasil membesarkan namanya akhir-akhir ini.

Meskipun Pak Andri sebagai penyelenggara acara pamit undur diri setelah menyelesaikan diskusi dengan timnya disana. Perayaan anniversary acara radio malam ini cukup ramai, beberapa dari staf nampak sedang asik makan malam sambil mulai membuka botol anggur setelah selesai membicarakan tentang apa saja yang akan mereka lakukan untuk episode ke depannya.

Beberapa staf yang masih memilih untuk disana terlihat sedang diskusi hal-hal diluar pekerjaan sambil saling melempar jokes untuk mengisi obrolan diantara mereka. Disisi lain kini Bima yang sudah kekenyangan ini memilih untuk diam dan menyimak pembicaraan diantara mereka.


“Bim, gue jadi kepikiran gara-gara acara tadi. Bukannya lo dulu kan atlet sepak bola famous ya? Kenapa sampai sekarang lo masih jomblo aja?”

Silvia yang sudah habis beberapa kaleng bir tiba-tiba berpindah posisi duduk disebelah Bima itu mulai berbicara ngawur. Kondisinya sudah lumayan mabuk kala itu.


“Kayanya Lo udah mabuk parah Sil. Gue anterin pulang naik taksi aja ya..”

Balas Bima. Di hadapannya kini tampak Silvia yang sudah mabuk, mulai kehilangan kesadarannya dan sedang menelungkupkan wajah di atas meja. Bima menghela nafas panjang berusaha untuk mengontrol emosi, setelah melihat tingkah Silvia barusan.


“Terima kasih buat perayaannya malam ini, sepertinya aku harus pulang duluan buat anterin Silvia. Terima kasih atas kerja samanya.”

***

Bima Arka Pratama

Aku dulunya adalah seorang atlet sepak bola saat masih remaja dan sempat menjadi atlet perwakilan timnas Indonesia selama bertahun-tahun. Hingga 10 tahun yang lalu akhirnya aku memilih buat gantung sepatu dan mulai mengajar di sekolah sepak bola. Saat reuni dengan teman sekolah beberapa waktu lalu aku ditawari buat jadi sebuah pembawa acara radio seminggu sekali. Acara radio itu punya konsep yang cukup sederhana, membaca pesan dari pendengar dan memutar lagu permintaan mereka. Jujur aku juga gak expect kalau acara ini ternyata cukup sukses dan bisa dinikmati oleh banyak orang.

Pertanyaan Silvia yang mabuk tadi cukup membuatku ingat sama kenangan lama. Kayaknya malam ini aku pengen minum beer sendirian di rumah.


Dulu aku adalah salah satu orang yang dulu sangat percaya pada sebuah kalimat ‘cinta pertamamu adalah cinta terakhirmu’. Tapi di kehidupan ini kayanya cupid begitu bodoh dan tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Jadi aku harus terpaksa merelakan cinta pertama itu dan masih tetap melajang di usia sekarang yang hampir menginjak 40 tahun.

Raya Adhistira namanya. Aku kenal dia saat di sekolah menengah pertama. Kala itu Raya sekeluarga pindah ke kota Surabaya mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai arsitek dan sering dapat proyek keluar kota. Rumah Raya yang ada di sebelah rumahku pun mereka putuskan untuk jadi tempat tinggal permanen, setelah sempat nomaden berkali-kali.

Saat SMA kita akhirnya jadi teman satu sekolah. Dan juga kebetulan selama tiga tahun berturut-turut kita jadi teman sekelas disana. Saat SMA dulu aku gak benar-benar bisa menikmati kehidupan sekolah layaknya siswa SMA umumnya. Karena aku sering menghabiskan waktu buat latihan dan latihan sebelum menjadi anggota timnas U-16.

Jika ada kesempatan, kadang aku sama Raya selalu berangkat dan pulang ke sekolah bersama-sama. Naik angkot. Namun, jika ada jadwal latihan, biasanya aku akan menjemput Raya di tempat lesnya atau menunggu dia di warung bakso dekat tempat angkot Raya turun. Biar aku bisa habisin waktu pulang dengan jalan bareng ke rumah.


Aku masih ingat pas hari valentine. Karena waktu SMA imej ku atlet ganteng, aku dapat beberapa coklat di kolong meja dan surat rahasia disana. Tapi sudah jelas diantara semua barang itu, cuma pemberian dari Raya aja yang kutunggu.

Aku dapat hadiah cokelat homemade buatan Raya cuma sekali. Waktu itu tiba-tiba dia datang ke rumah buat ketemu dan langsung ngasihin coklatnya tanpa banyak basa-basi.


“Ini coklat buat kamu. Aku bikin sendiri. Ojok protes kalau gak enak ya. Spesial itu aku gak buat banyak.”

Ucap Raya dengan bahasa Jawa dengan aksen medoknya.


“Makasih”

Balasku datar tanpa tersenyum dan langsung menutup pintu


Jelas bahagia banget pas itu. Biar gak ketara kalau aku suka sama dia, aku pura-pura akting cool. Tapi sewaktu di kamar aku gak bisa bohong, jadi aku teriak pakai bantal biar gak kedengeran.

Singkat cerita pada 2006 aku bergabung dengan klub lokal dan sedang fokus dengan persiapan Liga saat itu. Waktu itu aku bernazar, aku akan ungkapin cinta ke Raya setelah memenangkan medali emas di liga nanti.

Jujur firasatku udah ngerasa sedikit cemas kala itu. Sebenarnya saat kegiatan kerja kelompok di kelas kemarin, aku sempat mendengar kabar jika Raya terpilih menjadi ketua kelas tahun ini. Alasannya terpilih karena Raya adalah siswi dengan peringkat tertinggi di kelas. Pada saat itu aku gak terlalu berfikir aneh tentang pencapaian Raya yang menjadi ketua kelas. Namun, hal ini adalah salah satu penyebab penyesalanku yang berlanjut sampai sekarang.

Selama Raya jadi ketua kelas, ia berpasangan dengan seorang siswa pindahan bernama Sena Pradipta. Sena adalah laki-laki yang sangat berbeda denganku. Dia sering masuk sekolah, mudah bersosialisasi, pintar dalam akademis dan juga hampir menguasai semua bidang olahraga meskipun bukan seorang atlet. Di kelasnya ia meraih peringkat dua, tepat di bawah Raya. Yang aku tahu saat itu, Raya dan Sena tidak pernah akur karena mereka selalu bersaing secara akademis. Dan juga Bima sering melihat mereka bertengkar karena Sena yang jail selalu menggoda Raya setiap kali ada kesempatan.


Agustus 2006


“Bima, kamu bisa libur latihan hari ini. Kudengar sekolahmu sedang mengadakan acara lomba 17-an. Kamu bisa kembali ke sekolah dan bergabung disana!”


Bima tersenyum lebar setelah mendengar kabar dari pelatihnya barusan. Sepertinya hari ini dewi fortuna sedang berpihak padanya.


“Terima kasih Pak. Akan kunikmati bonus liburnya!”

Seru Bima berpamitan kepada sang pelatih dan segera menaiki bus menuju ke sekolah.


Keadaan sekolah saat itu jelas saja riuh. Semua orang sudah menanti lomba 17-an ini jauh-jauh hari. Kapan lagi coba menghabiskan waktu tanpa belajar seharian penuh. Sesampainya di kelas Bima segera meletakkan tas ranselnya dan mencoba mencari sosok Raya. Sebelumnya ia sempat mengirim sebuah pesan padanya, jika ia akan bergabung ikut acara lomba 17-an tahun ini. Raya membalas pesan Bima jika ia tidak boleh melewatkan pertandingan utama pada jam dua siang untuk mendukungnya.


“He Rek! Raya tibo teko tangga!” (He Rek!, Raya jatuh dari tangga)

“Temen ta? Nak ndi?” (Beneran? Dimana?)

“Ketokane areke mau wes nak UKS.” (Sepertinya dia tadi sudah ke UKS)


Beberapa siswi membicarakan Raya. Bima yang mendengar percakapan mereka seketika pergi menuju ruang UKS yang terletak di bawah kelas mereka.


“Raya!”

Bima berseru memanggil Raya sesaat setelah membuka pintu UKS namun nihil tidak ada sosok Raya di sana.


“Raya baru aja pergi, dia bilang dia harus ikut lomba utama. Sepertinya dia sudah mau berlomba disana!”

Ujar Petugas UKS sembari menunjuk ke arah lapangan lewat jendela. Disana ia melihat sosok Raya yang sudah bersiap bersama dengan Sena, untuk mengikuti lomba jalan cepat tiga kaki berpasangan. Mengetahui hal itu Bima segera memutuskan untuk pergi ke lapangan melihat Raya lomba.


Bima mengamati mereka dari kejauhan. Hari itu Raya dan Sena berhasil memenangkan perlombaan utama. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Bima melihat senyum Raya yang jarang sekali dilihatnya selama ini. Senyuman Raya saat berhasil memenangkan lomba utama saat itu benar-benar berbeda.

***

Beberapa minggu berlalu sejak lomba 17-an, dan hari ini adalah hari turnamen musim panas Bima. Beberapa jam sebelum perlombaan Raya sempat mengabari jika ia akan datang untuk mendukungnya. Jadi saat itu Bima benar-benar punya firasat yang baik. Karena firasat baik ini, Bima berhasil menjadi penyumbang dua gol untuk timnya dan membawa timnya memenangkan sebuah medali emas di Liga itu. Dan seperti apa yang sudah ia pikirkan sebelumnya, ia sudah bertekad bulat untuk mengungkapkan perasaannya pada Raya sekarang.

Sesaat setelah menerima medali emas, Bima segera berjalan ke arah kursi penonton untuk memeluk orang tuanya. Disana ia juga melihat sosok Raya yang sedang berjalan mendekat membawa sebesek kue klepon kesukaannya..


“Selamat untuk medali emasnya. Usaha atlet Bima Arka Pratama emang TOP gak sia-sia. Kamu keren PUOLLl!!”

Ujar Raya mengucapkan selamat sembari memberikan jempol ke arahnya. Bima tersenyum sesaat mendengar pujian dari Raya.


“Selamat atlet pemain bola kebanggan kelas IPA 3–2. Tuan Bima peraih medali emas.”

Seru Sena yang ternyata juga hadir disana dan berdiri di samping Raya.


“Apakah kalian datang dengan rombongan kelas?”

Tanya Bima. Raya menggeleng.


“Tidak. Kami hanya datang berdua, lagipula sepertinya yang lain sudah repot belajar untuk ujian masuk kuliah nanti.”

Balas Raya panjang lebar.


“Raya, apa kamu mau pulang bareng sama kita nanti? Mobilnya masih cukup jika berempat.”

Tawar ayah Bima mengajak Raya untuk pulang bersama.


“Ah gak perlu repot-repot paman. Lagipula aku akan pergi ke tempat lain bareng Sena setelah ini.”

Lihat selengkapnya