Sena Pradipta
“Terima kasih sudah mau mengantar kami!”
“Tidak apa-apa. Jika kamu butuh bantuanku, aku akan selalu siap untuk membantumu.”
…
“Apa-apaan kalimat itu! Asal kau tahu Tuan malaikat, dia dulu menyukai istriku. Dan keliatan si Bima itu masih suka sampai sekarang. Dasar kurang ajar!”
“Sudah bagus ada seseorang yang mau mengantar istri dan anakmu saat larut malam seperti ini. Mengapa kau tidak mengucapkan terima kasih juga padanya? Dasar manusia selalu melihat dari sisi buruk saja.”
Balas Si Malaikat ketus. Aku melirik ke arah Malaikat itu, menatapnya dengan tatapan tajam dan serius selama beberapa detik sambil mencengkram bahunya. Sebelum akhirnya memutuskan untuk berlutut memohon kepadanya disana.
“Tidak bisakah anda membuatku hidup kembali? Selama aku menjadi seorang suami dan ayah aku selalu berusaha sebaik mungkin sebisa ku. Tidak melakukan hal yang buruk untuk keluargaku. Tapi kenapa aku tiba-tiba harus koma dan jadi roh seperti ini?”
Ucapku yang kini bersujud memohon kepada tuan malaikat.
“Aku tidak bisa membantumu apa-apa jika tidak ada keajaiban dari harapan dan doa yang tulus. Tugasku hanya menemani roh-roh yang dalam keadaan koma sepertimu.”
Ucap Malaikat itu lalu langsung pergi.
Aku yang sekarang berbentuk roh dan tidak terlihat ini benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Mula-mula aku mencoba mengikuti aktivitas Raya dan Naya di dalam rumah. Kulihat Naya yang sudah tertidur di gendongan Raya. Kasihan dia banyak menangis di rumah sakit tadi. Pasti itu sangat menguras tenaganya.
Raya meletakkan Naya di kamar kami berdua. Hari ini sepertinya Raya tak tega kalau harus tidur beda kamar dengan Naya. Tak lama kemudian aku mendengar perutnya yang mulai keroncongan. Sepertinya sewaktu di rumah sakit tadi dia belum sempat makan sama sekali.
Aku yang dalam bentuk Roh ini hanya bisa melihat nya dari jauh.
Kulihat sosok Raya yang pergi ke dapur dan membuat sebuah mi instan. Saat makan mi instan, biasanya ia hanya menggunakan kecap dan minyaknya saja karena Raya tidak bisa makan makanan pedas. Hari ini dia memasukkan semua bumbunya bahkan menambahkan beberapa bungkus sambal dan juga cabe bubuk disana. Saat tangannya mulai makan, aku beberapa kali melihat matanya memerah karena pedas. Dan setelah memaksa makan mi pedas itu untuk beberapa saat tiba-tiba ia mulai menangis kembali. Air matanya turun begitu deras dari pipinya. Aku dalam bentuk roh yang kini duduk di hadapannya hanya bisa terdiam. Tanganku sesekali mencoba untuk menghapus air matanya tapi tetap saja nihil. Tembus semua.
Setelah menangis tersiksa dengan mi pedasnya itu Raya segera pergi ke kamar sambil membawa sebuah kotak paketan yang ia terima hari ini dari Ibuku.
‘Ini ada masakan untukmu, jaga kesehatanmu dan Naya. Jangan telat makan. Semoga keadaan Sena segera membaik.
Saat beberes rumah sebelum pindahan tadi tanpa sengaja Ayahmu menemukan foto-foto ini. Karena kami tidak tahu harus menyimpannya dimana. Kami memutuskan untuk mengirim foto ini padamu.
Jaga kesehatanmu ya.
Dari Ibu dan Ayah.’
Aku masih mengikuti setiap gerak gerik Raya. Di dalam kotak pemberian orang tuaku itu ada sebuah foto bersama kelas setelah kegiatan lomba 17-an belasan tahun yang lalu. Di salah satu foto itu ada foto kami berdua yang tersenyum bangga membawa sebuah voucher untuk makan daging sepuasnya di restoran All you can eat. Tiba-tiba Raya tertawa pelan, sepertinya dia merasa sedikit konyol mengingat-ingat waktu itu sangat tergila-gila pada sebuah daging sapi.
Raya terus melihat beberapa foto yang lain. Ada foto kami saat menikah, foto mereka saat kami kencan di toko es krim, beberapa lembar foto dari photobox dari jaman sekolah.
“Baru sehari, tapi aku kangen….”
Gumam Raya pelan. Aku yang melihat hal ini sudah benar-benar kehabisan kewarasanku dan memilih untuk meninggalkannya sendiri disana.
***
“Baru sehari, tapi aku kangen….”
Tuan Malaikat yang sedari tadi menyaksikan hal ini dari jauh seketika merasa terenyuh dan memutuskan untuk mencoba berbicara kepada Raya..
“Anda bisa kembali dengan Tuan Sena jika anda benar-benar mau.”
Ucap Tuan Malaikat berbisik di telinga Raya. Raya yang mendengar suara ini sontak terkejut.
“Sebenarnya insiden yang menimpa suamimu hari ini karena di beberapa peristiwa di dunia lain salinan dirimu dan Tuan Sena mungkin tidak menjadi pasangan, mungkin tidak pernah saling kenal, atau ada kemungkinan terburuk lainnya. Padahal biasanya hal ini tidak terlalu berpengaruh, tapi sepertinya kasus kalian sedikit berbeda.”
Lanjut Tuan Malaikat panjang lebar.
“Maaf siapa anda? Mengapa anda bisa berada disini? Apa yang anda bicarakan?”
Tuan Malaikat terdiam dan seketika menghentikan waktu disana mencoba meyakinkan Raya tentang siapa dirinya.
“Karena anda barusan berharap aku bisa membantumu untuk kembali bersama Tuan Sena.”
“Aku tidak paham dengan yang anda maksud.”
“Katakan saja anda bersedia apa tidak. Jika iya maka anda bisa mendapat kesempatan bersama dengannya ya meskipun mungkin akan butuh beberapa usaha lagi.”
Raya terdiam. Tuan Malaikat melirik ke arah jam tangan miliknya.
“Ini tawaran terbatas. Aku tidak bisa berlama-lama disini karena ada hal yang harus aku selesaikan di zona lain. Katakan bersedia dan kamu akan mendapat kesempatan bersama dengan Tuan Sena.”
(Dunia Paralel Pertama Raya)
Raya Adhistira
“He, Raya! Bangun!! Kamu semalam tidur jam berapa? Kamu gak lupa kan harus ngajarin aku materi Matematika bangun ruang hari ini.”
Aku terbangun dan melihat sosok Bima yang baru saja menggoyang-goyangkan pundakku.
“Dimana ini?”
“Di sekolah. Kamu habis pingsan ta?”
Padahal tadi aku masih di rumah, dan jelas barusaja menidurkan Naya. Seketika aku mencoba mencubit pipiku sendiri.
“Sakit. Sekarang tahun berapa?”
Tanyaku yang mulai tersadar mencoba mencari ponsel untuk memastikan waktu.
“Tanggal 23 bulan Maret 2006. Hari ke 15 di tahun ke 3 SMA. Kamu kurang-kurangin begadang ya. Kalau gitu lain kali saja aku akan ajarin materi bangun ruang.”
Ucap Bima yang kini pergi kembali ke bangkunya.
Tak berselang lama bel tanda istirahat usai berbunyi. Semua murid disana segera masuk ke dalam kelas. Selama jam pelajaran berlangsung aku terus mencoba untuk mengabsen teman-teman sekelas yang masih ku ingat. Semuanya gak ama persis. Ada beberapa yang familiar dan ada juga sosok yang aku gak kenal. Padahal harusnya ada Sena di tahun ketiga SMA.
Aku mencoba menghitung jumlah bangku dan murid yang berada di kelas itu. Tapi tidak ada yang ganjil, benar-benar sesuai dengan ingatannya dulu 18 bangku untuk 36 siswa. Apa yang sebenarnya terjadi sekarang??
***
Sepulang sekolah Raya berjalan bersama dengan Bima. Di dalam perjalan pulang bersama dengan Bima, ia mencoba mengingat-ingat memorinya dulu. Seingatnya Sena masuk sebagai murid baru di kelasnya pada hari ke 10 dari tanggal ajaran baru.
“Oh ya, sebelum kamu masuk ke tempat les aku punya sebuah hadiah untukmu.”
Ujar Bima sambil membuka tas dan membuat Raya menghentikan lamunannya.
“Selamat 3 bulanan.. Aku beli gantungan ponsel. Kita punya item couple sekarang.”
“Couple?”
“Iya? Minggu kemarin saat kita ke Mall kamu bilang pengen gantungan kunci ini. Kenapa? apa aku salah pilih?”
Tanya Bima yang ikut kebingungan sesaat setelah melihat ekspresi dari Raya. Disisi lain disini Raya masih terdiam mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.
“Jangan begadang mulu karena belajar ya. Kalau ngantuk itu tidur aja. Kamu kaya orang linglung seharian ini. Kalau begitu aku pulang dulu ya.”
Bima mengelus puncak kepala Raya sebelum berpamitan sambil memberikan kecupan ringan pada pipi Raya. Raya yang tahu hal ini sontak terkejut memegang pipinya. Apa yang sebenarnya terjadi hari ini? Ia tiba-tiba berpacaran dengan Bima adalah hal yang benar-benar gila. Sepeninggalan Bima barusan Raya segera berlari cepat untuk pulang kerumah.
…
Sesampainya di rumah Raya segera masuk ke dalam kamarnya dan mencoba melihat barang-barang miliknya di sana. Belum sampai semenit ia sampai, matanya tercekat melihat sebuah sebuah pigura kecil disamping tempat tidurnya dengan foto dirinya bersama Bima saat bermain di THR Surabaya. Mustahil, sangat gila, benar-benar tidak masuk di akal pikirnya.
Mengetahui hal ini Raya segera menuju ke arah dapur untuk berbicara dengan Ibunya yang sedang sibuk memasak untuk makan malam.
“Ibu, sejak kapan aku pacaran sama Bima?”
Seru Raya memulai pembicaraan.
“Kamu kenapa to? Kamu berantem lagi sama Bima? Padahal kemarin malam kamu ngajak Bima makan bareng sama kita.”
Jawab Ibunya masih sambil asik memasak.
“Wah gila! Benar-benar gak masuk akal.”
Kali ini Raya sontak memegang kepalanya tanda masih tidak percaya.
“Apa bolos les sekarang??”
“Les?”
“Aduh, kamu tuh ya. Bapak sama Ibu susah-susah sisihin uang buat kamu les. Tapi kamu malah lupa. Kalau kamu sakit istirahat aja sana. Kalau udah sembuh ndang berangkat les lagi. Jangan sia-siain uang Bapak Ibu”
***
“Ayo jajan ke kantin!”
Ajak Bima sesaat setelah bel tanda istirahat berbunyi. Raya mengangguk pelan menerima tawarannya dan mulai berjalan di samping Bima. Selama perjalanan menuju ke kantin, sesekali Raya mengamati keadaan setiap kelas 3 yang ia lewati. Berharap menemukan sosok Sena disana.
Keadaan kantin saat jam istirahat yang cukup ramai membuat mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat lain. Mereka berdua akhirnya memilih untuk makan di kursi panjang pinggir lapangan. Saat baru saja duduk, Bima berkata jika ia lupa belum membeli es teh jadi dia berpamitan pergi meninggalkan Raya untuk kembali ke kantin.
“Tunggu aku disini, kantinnya rame. Jadi aku sendiri aja kesana." Ucap Bima.
Raya mengangguk dan menunggu di bangku sambil mulai memakan bekalnya. Tiba-tiba sebuah bola dari siswa yang bermain sepak bola di sana berhasil mendarat tepat mengenai kepalanya. Akibat hal ini Raya terjungkal dari bangku.
“Aduh....”
Raya merintih kesakitan.
“Hei motomu! lihat-lihat kalau main bola itu! Kamu gapapa?”
Sebuah suara yang cukup familiar di telinganya. Tapi tak berselang lama Raya pun pingsan.
…