Di Semua Dunia, Raya

Tegrid Chintya Ifareyne Rauf
Chapter #3

BAB 3.1

Flashback

Maret, 2006


“Baiklah kita akan memulai pemilihan ketua kelas 3–2. Apa ada yang mau mengajukan diri atau mengajukan nama?”


Dandi mengangkat tangannya dengan penuh antusias.


“Aku Bu! Aku mau mengajukan Sena Pradipta. Dia cocok untuk menjadi ketua kelas, meskipun anak baru kenalannya banyak, dan dia gampang bersosialisasi juga bu!”

Ucap Dandi yang menyebut nama Sena. Mengetahui hal ini Sena melirik sinis ke arah temannya itu.


“He, kurang ajar! Opo-opoan?” (He, kurang ajar! Apa-apaan?)

Ujar Sena berbisik menepuk pundak Dandi. Namun hal ini tidak digubris olehnya karena dia berpura-pura tidak mendengar suara Sena barusan. Bu Hindun mengangguk dan mulai menulis nama Sena sebagai kandidat ketua kelas di papan tulis.


“Apa ada lagi yang lain?”

Seisi kelas terdiam, saat itu hampir separuh kelas memandang ke arah Sena.


“Sepertinya banyak yang sudah setuju jika Sena menjadi ketua kelas. Baiklah mulai hari ini Sena resmi menjadi ketua kelas 3–2. Mohon kerjasama satu tahun ke depan ya!”

Bu Hindun menutup pemilihan ketua kelas waktu itu. Dandi dan kawanannya bertepuk tangan dengan keras merayakan Sena yang baru saja terpilih menjadi ketua kelas.


“Oh ya, hampir saja Ibu lupa. Kita belum memilih wakil ketua kelasnya.”


“Bu bagaimana jika wakil ketua kelasnya adalah seseorang yang paling pintar di kelas ini?”


“Benar Bu! Kelas 3–2 butuh seorang perwakilan yang mudah bergaul dan pintar.”

Seru dua siswi disana. Bu Hindun terdiam sambil melihat ke arah buku absen di tangannya setelah mendengar beberapa saran barusan.


“Peringkat paralel tertinggi di kelas 3–2 semester kemarin diraih oleh Raya Adhistira. Apakah Raya hadir hari ini?”


Raya yang sedang asik menyelesaikan soal matematika dari buku lesnya. sontak mengangkat tangannya begitu mendengar namanya yang baru saja dipanggil.


“Baiklah kita sudah menentukan ketua dan wakil ketua kelas untuk satu tahun ke depannya. Selamat untuk Sena dan Raya. Mohon kerjasamanya. Nanti pada jam istirahat kalian tolong datang ke ruang guru ya.”

Bu Hindun menutup diskusi hari itu. Raya yang masih tidak tahu situasi apa yang barusan terjadi mencoba bertanya pada Tiara yang duduk di depannya.


“Apa itu tadi di absen?”


“Bukan. Itu kamu kepilih jadi wakil ketua kelas. Selamat yaa.”

Balas Tiara sambil menjulurkan tangan ke arah Raya.


“Apa maksudmu?”


***


Selama minggu pertama melakukan tugasnya menjadi wakil ketua kelas bersama dengan Sena. Raya merasa sedikit kewalahan karena harus mengurusi banyak hal. Mulai dari mengumpulkan buku tugas untuk diserahkan pada Guru, mengingatkan teman sekelasnya untuk melakukan tugas sesuai jadwal piket, belum lagi harus menerima banyak kritik dan saran dari temannya.


Kemarin ia dan Sena harus melakukan negosiasi dengan kelas 3–1 sebelah, karena saat melakukan sesi ‘belajar mandiri’ banyak temannya yang merasa terganggu karena siswa siswi di kelas sebelah dinilai terlalu berisik. Sehingga membuat banyak murid di kelasnya tidak bisa fokus berkonsentrasi.


Masalah yang kedua adalah saat kaca kelas mereka yang pecah akibat ulah siswa kelas 3-1 yang bercanda dengan temannya saat berada di koridor. Untungnya tidak ada siswa yang menjadi korban dari insiden pecahan kaca itu. Raya berkata ia harus segera melaporkan kepada Guru agar murid kelas 3–1 yang memecahkan kaca itu segera dihukum. Tapi disisi lain Sena mencegah aksi Raya itu dan berkata jika ia akan berbicara secara baik-baik pada mereka. Karena hal itu Sena sebagai perwakilan dari kelas 3–2 dan murid kelas 3–1 akhirnya sepakat jika masalah ini tetap akan dilaporkan kepada Guru agar mereka mendapatkan ganti rugi kaca baru yang pecah. Tetapi untuk biaya perbaikan 70% ditanggung oleh kelas 3–1 dan 30% ditanggung oleh kelas 3–2. Tak lupa Sena juga membuat sebuah perjanjian agar kelas 3–1 tidak berisik saat kelas 3–2 sedang dalam sesi ‘belajar mandiri’.


Karena kesepakatan ini sesi ‘belajar mandiri’ kelas 3–2 menjadi lebih tentram selama 9 bulan ke depan. Sejak saat itu Raya diam-diam mengagumi kemampuan diplomatis Sena.


***


Hari ini sesampainya di tempat les. Raya sera pergi ke papan pengumuman disana untuk melihat peringkatnya pada ujian try out minggu lalu.


“Oh jadi kamu les disini juga?”

Seru Sena yang kini berdiri di belakang Raya. Raya menoleh.


“Kamu juga les disini?”


Balas Raya yang kembali melanjutkan aktivitas mencari namanya di papan pengumuman itu. Sena mengangguk sambil mengangkat alisnya.


“Ah ketemu!!.”


Seru Raya sesaat setelah melihat namanya tertera disana.


3. Raya Adhistira | 90 | 93 | 93 | 85 | 90 | 95 | RATA2 91


*keterangan = | Bahasa Indonesia | Bahasa Inggris | Matematika | Fisika | Kimia | Biologi



“Kamu pintar di pelajaran bahasa ya. Kapan-kapan aku ajarin ya!”

Gumam Sena sesaat setelah melihat nilai dari Raya. Raya melihat ke arah Sena dengan tatapan jail sedikit sombong.


“Apa kamu sudah mencari peringkatmu?”


Sena mengangguk sesaat setelah mendengar pertanyaan Raya.


“Sudah tetapi nilai bahasa ku jelek sekali.”

Balas Sena pelan sambil menunjuk ke sebuah nama di papan itu.


2. Sena P. | 85 | 95 | 100 | 95 | 90 | 90 | RATA2 92.5


Raya terdiam melihat hasil peringkat Sena yang ternyata berada tepat diatasnya. Saat ia ingin membalas ucapan Sena, ternyata dia sudah pergi menjauh dari sana sambil menjulurkan lidah menggoda Raya dari kejauhan.



Malamnya seusai les seperti biasa Raya pergi ke halte untuk menunggu angkot menuju ke rumahnya. Dari kejauhan Sena datang mendekat ke arahnya dan hendak bersiap-siap untuk mengagetkannya.


“Haa!”

Seru Sena mengagetkan Raya dari belakang. Raya spontan terkejut.


“Apaan sih??”

Balas Raya yang masih terkejut dengan nada tingginya. Sena tertawa melihat ekspresi Raya yang terkejut itu.


“Kamu naik Lyn W?”

Tanya Sena mencoba memastikan. Raya terdiam dan hanya mengangguk menjawab pertanyaan Sena barusan.


“Kalau begitu berarti rute kita searah.”

Ucap Sena lagi. Raya kembali terdiam untuk kesekian kalinya. Ia menunjukan bombastic side eye pada Sena kala itu.


“Semoga untuk kedepannya aku gak sering ketemu sama kamu.”

Gumam Raya ketus, lalu segera masuk ke dalam bus sesaat setelah bus itu datang.


Di dalam bus Raya sengaja memilih duduk di bangku depan sebelah pak sopir agar tidak ada yang bisa mengganggunya. Namun, karena Sena yang memilih untuk duduk di bangku dekat pintu tepat belakangnya dan merasa sedikit bosan. Ia terus-terusan mencari cara agar bisa berbicara pada Raya. Karena Raya tidak menggubris, alhasil Sena mengajak Pak Sopir bicara ngalor ngidul. Dia membuka sesi interview mulai dari pendapatan, biasanya sehari keliling rute berapa kali, sekali isi bensin berapa, kalau ngetem di tempat tertentu apakah harus bayar.

Berada di dalam angkot bersama Sena pertama kali benar-benar membuat energinya terkuras cukup habis kala itu. Ia tidak pernah menyangka jika Sena benar-benar tipe orang yang sangat banyak bicara. Benar-benar tidak ada jeda.


Setelah sesi interview dengan Pak Sopir selesai. Sena kembali mengajak Raya berbicara tentang banyak hal. Saat ia yang takjub karena menjadi teman satu les dengan Raya si peringkat pertama di kelasnya, cerita tentang alasan dia yang pindah ke sekolahnya, kekonyolan siswa kelas 3–1 yang memecahkan kaca karena melempar sebuah sepatu, dia yang menyukai warna biru, tentang dirinya yang tidak bisa memakan makanan pedas dan masih banyak lagi.


“Apa kamu suka warna ungu? Aku sering melihatmu memakai barang berwarna ungu.”

Tanya Sena sambil menunjuk ke arah gantungan di tas Raya lewat jendela kecil.


“Tidak, aku suka warna merah muda.”


“Hei apa kamu sudah tahu ini? Kalau warna biru ketemu warna merah muda bakal jadi ungu. Keren bukan?”

Sena berbicara dengan nada penuh antusias. Kalimat terakhir yang diucapkan Sena tidak dihiraukan Raya karena ia sudah bersiap-siap untuk turun di halte depan. Seketika ia segera berdiri dan mengucapkan kalimat berpisah pada Sena dan mengakhiri pembicaraan mereka hari ini.


“Aku turun disini. Aku pulang dulu.”

Raya berpamitan pada Sena. Sena tersenyum pahit sambil melihat sosok Raya yang turun ke Halte. Di halte itu sudah ada Bima, atlet sepak bola yang juga teman sekelasnya, sudah menunggu Raya untuk pulang bersama.


***


Ternyata kesabaran Raya menghadapi Sena tidak hanya diuji sampai disini. Selain sosok Sena yang tiba-tiba menjadi banyak bicara semenjak mereka bertemu di tempat les kemarin. Hari ini dia nyaris saja berteriak kencang saat kelas seni rupa, karena Sena menaruh mainan kecoa palsu di tempat pensilnya.


Raya yang terkaget lantas terjatuh dari bangku tempat duduknya. Disisi lain Sena yang puas dengan itu tertawa melihat Raya yang baru saja terjatuh. Lagi-lagi ketika mereka berdua saling bertukar pandangan, Sena mengejek ke arah Raya dengan memberikan mimik wajah jeleknya.



“Tolong ajari aku materi bahasa, dan aku akan mengajarimu ilmu sains.”

Seru Sena memecah konsentrasi Raya yang sedang belajar sebelum les dimulai.


“Kenapa aku harus mengajarimu? Kamu diatas peringkatku.”


“Tapi nilai bahasaku dibawahmu.”


Raya memutarkan matanya tak habis pikir dengan jawaban Sena.


“Aku akan mengajarimu materi matematika dan fisika jika mungkin ada materi yang kamu masih belum paham. Tapi tolong ajari aku bahasa kali ini.”


Raya terdiam mencoba memikirkan penawaran dari Sena kala itu.


“Minggu depan sudah ulangan harian. Tenang aku akan bersaing secara sehat.”

Ujar Sena mencoba meyakinkan. Raya mengangguk menerima penawaran itu.


“Baiklah mohon bantuannya. Untuk ulangan minggu depan aku tidak akan kalah darimu mengerti.”


***


Setelah melakukan negosiasi kemarin mulai hari ini Sena dan Raya akan belajar bersama 30 menit sebelum les dimulai. Sebelum itu biasanya mereka sudah bertukar latihan soal untuk dikerjakan sendiri-sendiri, lalu kemudian membahas soal itu bersama-sama. Terutama untuk beberapa soal yang mereka anggap cukup sulit.


Sepulang dari les juga biasanya mereka akan bermain tanya jawab materi ilmu sosial dan biologi untuk meningkatkan hafalan mereka. Akibat dari hal ini saat pengumuman nilai ulangan, Raya meraih peringkat satu di kelasnya, sedangkan Sena berada di peringkat dua. Nilai mereka tidak terpaut jauh hanya selisih tiga poin karena Sena yang masih belum bisa mengungguli Raya di materi bahasa indonesia.


***


(Juli, 2006)

Dua minggu sebelum lomba 17-an.


“Baiklah untuk lomba beregu sudah kita tentukan siapa saja yang akan berpartisipasi. Kurang satu lomba lagi yang masih belum. Lomba estafet. Ini dilakukan oleh satu laki-laki dan satu perempuan. Oh ya info dari kepala sekolah, kelas yang memenangkan lomba ini akan dapat voucher makan all you can eat Hamamasa gratis.”

Lihat selengkapnya