Desember, 2007
Pada saat aktif kuliah, mereka biasanya sering menghabiskan waktu bersama di akhir pekan untuk sekedar bercerita dan mengerjakan tugas bersama. Ada kalanya juga mereka pergi bermain ke tempat-tempat pariwisata seperti layaknya pasangan pada umumnya. Jika musim libur semester sudah tiba, barulah mereka memilih untuk bepergian ke luar kota menaiki bis bersama. Dan mencicipi kuliner baru dari kota itu.
Salah satunya saat liburan semester di tahun 2007. Mereka sempat pergi ke kota Yogya yang hanya untuk menikmati soto daging yang menjadi salah satu makanan kesukaan Raya.
***
12 April 2009
Hari ini tepat 1000 hari jadi Sena dan Raya. Di hari yang istimewa ini Sena mengajak Raya untuk berkenalan dengan keluarganya. Disana Raya berkenalan dengan kedua orang tuanya dan juga adik perempuan Sena.
Selama menghabiskan waktu bersama dengan keluarga Sena. Raya berbicara banyak hal dengan Ibu Sena sambil membuat sebuah kerajinan tangan dompet kecil untuk koin. Disana ia juga sempat ditunjukkan beberapa foto Sena saat masih kecil, dan Ibu Sena yang bercerita banyak tentang anaknya yang sangat nakal, hiperaktif, dan jahil dulu.
…
Seminggu kemudian, gantian Raya yang mengajak Sena untuk bertemu dengan keluarganya juga. Di rumah Raya, mereka menghabiskan waktu sambil makan malam bersama. Setelah makan bersama, ayah Raya mengajak Sena untuk pergi keluar melanjutkan pembicaraan di antara mereka. Sepertinya malam itu Sena mendapat banyak wejangan dari Ayahnya Raya sambil bermain catur bersama
***
2011
Di tahun ini Sena dan Raya, merayakan kelulusan wisuda bersama.
2013
Beberapa tahun setelah kelulusan, Sena kini sudah bekerja menjadi staf pengendalian mutu produk dan kesehatan di sebuah perusahaan obat-obatan di kota Jakarta. Setelah bekerja satu setengah tahun yang lalu, Sena sudah mulai jarang pulang ke rumah dan memutuskan untuk menyewa sebuah kos yang lebih dekat dengan tempat kerjanya. Tidak hanya pulang ke rumah, semenjak sama-sama sibuk bekerja Sena menjadi jarang bertemu dengan Raya. Untungnya Raya juga bekerja sebagai seorang script writer di Jakarta. Jadi mereka masih bisa bertemu di hari Sabtu. Yang membedakan saat bekerja adalah ketika masa liburan tiba terkadang mereka tidak sempat bertemu karena sama-sama sibuk.
Karena kesibukan ini, Sena dan Raya selalu menyempatkan waktu untuk menelpon satu sama lain di akhir hari. Biasanya mereka akan bercerita tentang apa saja yang mereka alami seharian itu.
Malam ini Raya berkata jika ia harus berlembur dan tidak bisa menelpon Sena seperti biasanya. Sena memaklumi hal ini. Tapi ternyata adalah sebuah panggilan lain yang masuk datang padanya malam itu.
“Halo.”
“Kapan kamu pulang ke rumah? Ibu kangen.”
“Tidak tahu Bu, masih banyak hal yang harus ku urus disini.”
“Ajaklah Raya juga ya, saat kamu kesini.”
“Baiklah, aku akan mengajaknya nanti.”
“Apa kamu masih bersama Raya? Kami sudah jarang mendengarmu bercerita tentangnya.”
“Masih kok. Hubungan kami baik-baik saja. Maaf aku dan Raya akhir-akhir ini sibuk bekerja.”
“Kamu tidak putus kan dengannya? Kapan kamu mau melamarnya?”
“Gak segampang itu Bu. Aku belum sempat memikirkan pernikahan”
Sena menghembuskan nafas panjangnya mendengar suara Ibunya yang sedang dalam mode cerewet.
“Hei, anak orang itu jangan dibuat menunggu. Kamu sudah bersama dengan Raya selama bertahun-tahun dan kalian sudah saling mengenal orang tua satu sama lain. Jangan lama-lama.”
Ayah Sena memberi masukan pada anak laki-lakinya. Sena kembali terdiam tidak habis pikir dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Iya ... iya ... aku akan memikirkan hal ini.”
***
Hari ini sepulang bekerja Sena sudah memutuskan untuk mampir sebentar ke apartemen Raya. Pagi tadi, Raya sempat menelponnya untuk memberitahu jika ia tidak masuk kerja karena sakit. Sesaat sebelum meluncur ke apartemen Raya dengan mobilnya. Sena menelponnya terlebih dahulu.
“Halo.”
“Halo, apa kamu sudah makan?”
“Belum.”
“Kamu ingin makan apa?”
“Hmm aku ingin makan soto daging seperti yang pernah kita makan saat di Yogya.”
“Hanya itu?”
“Iya”
“Baiklah, kalau begitu tunggulah aku disana.”
…
Sena datang ke apartemen Raya dengan membawa soto daging permintaan Raya dan sebuah Terang Bulan. Disana dia melihat lampu ruang tamu apartemen Raya yang dalam keadaan gelap karena belum dihidupkan. Spontan Sena segera menghidupkan lampu disana dan menuju ke arah dapur untuk menghangatkan makanan yang ia bawa tadi.
‘Tok ... Tok ...’
Sena mengetuk pintu kamar Raya.
“Apa kamu di kamar? Aku membawakan makanan untukmu.”
Seru Sena mencoba memanggil Raya.
“Masuklah!”
Sena segera membuka pintu kamar apartemen Raya perlahan. Dilihatnya Raya yang kini tengah terbaring dengan badan yang tertutup selimut, dan dahinya yang menggunakan gel penurun panas.
“Makanlah! Ayo kamu harus makan. Biar cepet sembuh.”
Sena meletakkan sebuah meja kecil untuk makan di atas kasur Raya dan mentata beberapa makanan yang dia bawa ke meja itu. Raya segera melahap makanan yang Sena bawakan untuknya. Disisi lain Sena kini membereskan beberapa baju Raya yang belum sempat ia cuci hari ini. Raya makan di kasur sambil terus memerhatikan gerak-gerik Sena dari sana.
“Apa makanannya gak enak?”
Tanya Sena memecah keheningan.
“Gak, ini enak kok. Banget.”
Jawab Raya. Sena merasa lega setelah mendengar respon Raya barusan.
“Karena Kota Yogya terlalu jauh. Aku membeli soto daging dari restoran yang disarankan oleh seorang paman petugas kebersihan di kantor.”
Jelas Sena menjelaskan makanan yang dia beli tadi.
“Kalau begitu aku mau makan Terang Bulan sambil nemenin kamu makan.”
Gumam Sena mengambil sebuah Terang Bulan dan mulai memakannya.
Kini keheningan kembali menyelimuti pembicaraan diantara mereka berdua.
“Sena….”
Sena mengernyit.
“Kenapa? Kamu mau Terang Bulan juga?”
Raya menggeleng pelan, lalu terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. Melihat Raya yang seketika terdiam, membuat Sena terheran dan kembali menatap ke arah Raya sambil mengangkat alisnya.
“Ayo kita menikah.”
Ujar Raya pelan yang membuat Sena terkejut mendengarnya.
“Hei, habiskan dulu makananmu! Jangan bicara yang aneh-aneh!”
Sena tersedak, segera mengambil air minum lalu tertawa canggung setelah mendengar ajakan Raya barusan.
“Gak. Aku beneran serius kali ini.”
Raya membalas dengan nada yang meyakinkan.
“Biar aku pikirkan dulu nanti.”
“Apa kamu gak mau menikah denganku?”
“Bukan-bukan begitu.”
“Terus?”
“Yang harusnya melamar adalah laki-laki. Jadi berikan aku waktu.”
16 Maret 2013
Setelah memikirkan matang-matang tentang ajakan menikah dari Raya kapan hari dan ucapan orang tuanya waktu itu. Hari ini Sena sudah membulatkan tekadnya untuk melamar Raya. Sebenarnya ia sudah mantap untuk melamarnya jauh-jauh hari. Tetapi karena kesibukannya di tempat kerja, membuatnya mengurungkan hal ini.