(Dunia Paralel Pertama Sena)
Sena terbangun di kamar lamanya dulu. Saat ia terbangun sontak ia terkejut mengetahui sosok Tuan Malaikat yang sudah berada di depan kaca.
“Aku tidak ingin berlama-lama disini. Aku hanya ingin berkata pergilah ke arah Raya. Jika kamu tidak bisa menemukannya, biarkan takdir semesta yang bekerja untuk kalian. Semoga beruntung.”
“Oh ya, jangan pernah menyinggung tentang dunia paralel selama berada disini. Atau menjelaskan tentang kehidupanmu saat berada di dunia sebelumnya. Karena itu semua melanggar aturan.”
“Sena! Apa kamu sudah bangun? Cepat bersiap-siaplah ini adalah hari pertamamu ke sekolah baru!”
***
Hari ini Sena pergi ke sekolah diantar oleh ayahnya.
“Perkenalkan dia adalah Pak Teguh yang akan menjadi walikelasmu di kelas 3–5.”
Sena terdiam sejenak. Ada sesuatu yang aneh disini. Seingatnya dulu wali kelas nya adalah seorang perempuan.
"Kamu bisa ikut denganku. Akan kuantar ke kelas sambil berkeliling sekolah ini."
Sena mulai melangkah bersama dengan Pak Teguh. Saat ia menyusuri koridor kelas banyak wajah murid yang sangat familiar untuknya dulu. Saat pindah ke sekolah ini, ia ingat jika dulu ia dengan mudah berteman dengan murid tingkat 3 dari semua kelas. Apalagi Sena sering menghabiskan waktu bermain sepak bola bersama dengan murid kelas lain kala itu.
Saat ia memasuki kelas, jelas sesuai dengan dugaannya. Ia tidak menemukan sosok Raya disana. Jika satu hal ini tidak berubah, harusnya Raya berada di kelas 3-2. Sedangkan jarak kelas 3-2 dan 3-5 lumayan jauh. Jadi Sena berharap agar waktu bisa berjalan lebih cepat agar ia bisa mencari Raya disini.
Sesaat setelah Bel istirahat berbunyi Sena segera bergegas lari keluar. Ia memutuskan untuk mencoba meneriakkan nama Raya ke kelas-kelas tingkat 3 disana.
Saat sampai di kelas 3-2 salah seorang siswi berkata jika Raya sedang makan siang bersama dengan Bima di dekat lapangan bola. Mengetahui hal ini sontak Sena segera berlari menuju ke tempat yang dimaksud itu.
'BRUAK,,,'
“Aduh,,”
Sebuah bola mendarat dengan keras di kepala Raya.
“Hei motomu!, lihat-lihat kalau main bola itu! Kamu gapapa?”
Sena berteriak memarahi siswa yang sedang bermain bola disana. Ia segera mendekat ke arah Raya yang beranjak kehilangan kesadaran saat itu. Sena terdiam sejenak berusaha berfikir, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menggendong Raya menuju UKS.
***
"Dia kenapa?"
Tanya seorang petugas UKS sesaat setelah Sena meletakkan badan Raya di atas kasur untuk mendapat perawatan.
"Pingsan kena bola di lapangan tadi."
Jelas Sena. Petugas UKS itu mengangguk, tangannya yang sudah ahli itu segera menggunakan senter kecilnya untuk memeriksa pupil Raya.
"Siapa namamu? Dari kelas apa?"
Tanya Petugas UKS.
"Sena, kelas 3-5."
Gumam Sena pelan.
"Dia hanya kehilangan kesadaraan untuk sesaat. Paling sebentar lagi dia sudah sadar. Kamu bisa kembali ke kelasmu!"
Ujar Petugas UKS sesaat setelah memeriksa Raya. Sena mengangguk lalu ia pergi keluar dari ruangan itu. Sepanjang jalan di koridor tiba-tiba ia menyesali apa yang barusan ia lakukan. Seketika kakinya memilih untuk pergi ke kantin sekolah membeli sebuah camilan dan minuman untuk diberikan pada Raya nanti.
“Aku akan menunggunya sampai sadar disini.”
Ucap Sena yang kembali ke ruang UKS.
“Tapi kamu sudah kelas 3 dan akan ada pelajaran fisika di kelas 3–5. Lagipula dia beda kelas dengan mu.”
“Aku pintar pelajaran fisika dulu. Gapapa aku bisa nungguin dia disini..”
Sena berusaha keukeuh untuk tetap berada disana. Samar-samar ia melihat bayangan Raya yang bergerak dibalik tirai itu.
“Apa kamu sudah sadar?”
Sena membuka gorden tempat tidur Raya.
“Aku belikan camilan kacang goreng dan susu kedelai. Oh ya namaku Sena Pradipta, kelas 3–5 aku murid pindahan.”
Ujar Sena berusaha memperkenalkan dirinya pada Raya di dunia ini. Raya hanya terdiam mengamati Sena disana.
“Raya, kamu disini? Maaf ya aku tadi pilih tempat yang dekat dengan sama anak main bola.”
Suara Bima terdengar. Tiba-tiba ia yang barusan datang dan langsung memeluk Raya.
Sena yang melihat hal itu kembali terdiam berusaha memahami situasi disana.
“Terima kasih karena sudah membawa Raya kesini.”
Ucap Bima pada Sena.
Sena membalasnya dengan tersenyum sesaat lalu segera berpamitan untuk pergi dari sana. Jujur ia tidak bisa menahan rasa cemburunya saat itu.
***
‘Jangan Lupa hadir ke tempat les di dekat sekolahmu. Kami sudah mendaftarkan mu kemarin.’
Sena membaca sebuah pesan singkat yang baru saja masuk dari Ibunya.
Ia melangkahkan kaki menuju ke tempatnya les dulu. Sepanjang perjalanan. Sena mencoba mencari sosok Raya disana. Namun, hasilnya nihil.
Bahkan saat sampai di tempat les. Ia sama sekali tidak melihat batang hidung Raya disana.
Hadir di tempat les dan mengikuti pelajaran yang sudah lama ia tidak familiar terasa begitu berat. Ia terus merasa ngantuk sepanjang jam belajar di les. Apalagi tujuannya sekarang hanyalah untuk bertemu dengan sosok Raya disini.
Keesokan harinya ia melihat seorang perempuan tinggi dengan kaki jenjangnya berdiri di depan pintu masuk les.
“Akhirnya kamu datang kesini. Kenapa kemarin gak masuk?”
Seru Sena membuyarkan lamunan Raya.
“Perkenalkan aku Sena Pradipta.”
Lanjutnya sambil mengulurkan tangan mengajak berkenalan.
“Aku sudah tau namamu.”
Balas Raya pelan.
“Syukurlah kamu sudah tau aku. Oh ya hari ini kita belajar Kimia, apa kamu masih ingat materinya?”
Sena tersenyum lebar lalu mencoba memulai pembicaraan dari awal. Raya menggeleng.
“Berarti kita sama, kalau begitu nanti mohon kerja samanya ya!”
(Dunia Paralel Kedua Sena)
“Hei, kau akan selesai kerja jam berapa nanti?”
Seru Dira adik perempuan Sena sambil menarik selimutnya agar ia segera bangun.
“Hei! Apa yang kau lakukan?”
“Datanglah, di pertunjukkan dramaku nanti! Aku akan memberimu tiket gratis yang khusus untuk penonton undangan VIP.”
Mendengar celotehan adiknya barusan membuat Sena rindu dengan masa-masa saat masih berada di rumahnya dulu.
“Aku tidak janji. Ada urusan yang lebih penting harus aku selesaikan daripada itu.”
Jawab Sena acuh tak acuh. Mendengar hal ini adiknya Dira segera mendekat dan duduk di samping Sena. Mencoba membisikkan sesuatu.
“Asal kau tahu, di drama itu ada Kak Tiara yang menjadi pemeran utama. Kamu tahu kan? Tiara itu temen deketnya Raya cewek dari kelas 3-2! Jika kau datang ada kemungkinan jika Raya juga hadir disana karena mendapat undangan dari Kak Tiara. Kapan lagi kau akan dapat kesempatan eksklusif begini. Ayolah mau sampai kapan kamu jadi secret admirenya.”
Ujarnya panjang lebar. Mendengar hal ini Sena hanya bisa mengernyitkan dahinya.
“Aku kemarin melihat interview Raya Adhistira di TV. Dan WAH! Sepertinya dia SANGAT-SANGAT INDEPENDENT WOMAN. Aku gak yakin dia bakal luluh sama kamu. Si anak kelas lain yang suka sama dia bertahun-tahun. Tapi ingat ada kemungkinan sepersekian persen untuk bertemu dengan Raya saat menghadiri pentas nanti, jelas kau tidak boleh melewatkan pertunjukan ku!”
Lanjut Dira lagi mencoba meyakinkan Sena.
“Peran apa yang akan kau mainkan?”
“Figuran sih. Tapi tidak apa-apa, drama ini berisi banyak bintang terkenal. Malam ini aku akan jadi anak buah mafia. HAHAHA.”
Sena yang terkekeh melihat tingkah adiknya spontan mengelus kepala adiknya itu.
“Baiklah, aku akan datang malam nanti. Terima Kasih untuk undangannya.”
***
Seusai menyelesaikan pekerjaannya Sena segera pergi menuju ke halte bis. Keadaan halte bis sore itu cukup ramai dipenuhi dengan orang-orang yang pulang bekerja. Di dunia paralel kali ini Sena masih belum tahu akan menghadapi sosok Raya yang seperti apa. Tetapi di dalam hatinya sangat berharap jika ia bisa bertemu Raya di pertunjukkan drama nanti.
Saat tengah asik mengamati keadaan disana, seberkas parfum yang sangat familiar untuknya berhasil membuat Sena penasaran. Itu adalah parfum favorit Raya, dan dia sudah familiar dengan wangi ini. Dia mencoba mengikuti wangi parfum orang itu, yang juga naik bis yang sama seperti dirinya. Orang itu berjalan cepat masuk ke bis ditengah-tengah jam pulang kerja ini. Sepersekian detik tiba-tiba orang-orang mulai berhimpitan ingin segera masuk ke bis itu juga. Di tengah-tengah himpitan itu, Sena mendapati jika orang dengan wangi familiar itu menjatuhkan sesuatu dari tasnya.
Hal ini spontan membuat Sena mengambil barang itu, dan terus mengikutinya dari belakang. Hingga ia mendapati sesosok Raya dengan rambut cepolnya, tengah asik mendengarkan lagu duduk di bangku bis.
“Permisi,,”
Ucap Sena berbisik, takut mengganggu Raya. Namun, tidak ada respon.
“Pemisi,, permisi!”
Ujar Sena dengan nada sedikit lebih kencang sekarang. Raya mendongak.
“Anda menjatuhkan ini dari tasmu.”
Sena memberikan sebuah naskah drama yang terjatuh dari tas Raya tadi.