Di sini, Kita Pernah Jatuh Cinta.

Venia Amanda Putri
Chapter #1

Dari Sebuah Pisang Goreng

Sejak pertama kali aku pindah dari Jogja ke Jakarta, jarak di antara mereka baiknya aku gulung saja, dan tidak pernah aku gelar lagi di cerita ini. Tapi sejak saat itu juga, orang yang ada di sana, di dalam kota itu, membuatku terjebak di sebuah ruangan yang pintunya saja aku tidak tahu berada di mana. 

Aku benar-benar tidak bisa keluar dari pesona laki-laki itu. 

Namanya Kelana Adjie, dia bilang jika kami serupa karena sama-sama berasal dari Jogja—kampung halaman ibunya. Berada di kelas yang sama waktu kami SMA, ternyata umur Kelana terpaut lebih tua dua tahun dariku. Butuh waktu enam bulan untuk mengetahui apa alasannya bolos sekolah selama itu. 

Di tengah kasmaran, cerita kami juga tidak bisa terlepas dari perbedaan-perbedaan yang Kelana bilang, terlampau jauh jika kami memaksakannya. Risikonya bukan cuma jatuh, bisa jadi itu adalah awal dari mimpi buruk yang hampir setiap hari menjadi hal yang tidak ingin aku bayangkan. 

Banyak yang terjadi di tahun 2005, termasuk saat Transparency International Indonesia mengumumkan Jakarta sebagai kota paling korup di Indonesia. Itu juga yang membuat angka putus sekolah pada tahun itu merambat naik dan berimbas pada Kelana.

Padahal bulan Juni, bulan yang namanya seperti namaku, Juni Atsani—semua sekolah serempak akan melaksanakan ujian nasional pada tingkat SMA dan sederajat, tapi Kelana tidak pernah berangkat lagi ke sekolah, keberadaannya tenggelam di terminal bis kota di sebelah timur dekat dengan rumahnya. 

Pernah satu waktu aku menanyakan padanya soal cita-cita, soal apa yang sebenarnya paling manusia inginkan di dunia ini. Apakah itu hidup kaya dengan penghasilan tetap, kerja di kantor bagus tetapi setia menjadi budak korporat ibu kota. Atau hidup dengan mengerjakan apa yang kita sukai, lalu bertemu dengan seseorang yang menerimamu, lalu menikah dan bahagia, apa benar begitu?

Kemudian Kelana mengatakan begini, “Jun, nyatanya hidup tidak hanya soal apa yang paling kita inginkan. Beberapa orang justru ada yang merasa menyesal telah dilahirkan ke dunia. Kata orang, kalau hidup hanya sekadar hidup, monyet juga hidup. Lalu tujuan hidup itu sendiri sebenarnya tidak ada yang pernah tau, termasuk kita berdua. Tapi, kalau aku bisa milih, aku ingin begini terus.”

“Begini gimana?” tanyaku yang saat itu masih berusia tujuh belas tahun.

“Makan nasi uduk sama kamu tiap pagi.”

Lalu semesta mempertemukanku dengan orang lain, namanya Adimas. Aku tidak tahu kenapa kita harus bertemu dengan orang lain pada saat kita sudah memiliki yang lainnya. Itu menjadi hal yang membuat manusia di cap sebagai makhluk paling tidak tahu diri.

***

Rum, ibunya Juni selalu masak pisang goreng, dan itu hampir setiap pagi meskipun Juni sudah bilang pada ibunya bahwa ia sangat bosan mencium aroma itu-itu lagi. Apa boleh buat, ayahnya yang pernah kerja di restoran itu, menjadikan pisang goreng menjadi salah satu makanan favoritnya melebihi makanan apapun, terlebih jika Rum yang menggorengnya. Aromanya bisa keluar pintu lalu menyapa tetangga samping kanan dan kiri rumah. 

Juni sering mendapati ibunya membagikan pisang goreng itu ke para tetangga, dan yah, mereka juga hampir tidak pernah bosan dengan buah goreng itu. Yang dilakukan ibunya sekarang juga sama, membuat pisang goreng yang lebih banyak untuk dibagikan ke tetangga barunya di Jakarta. 

“Emang orang Jakarta kalau sarapan pakai pisang goreng tiap hari juga, Pak?”

“Selagi yang masak itu ibumu, semua orang dari Sabang sampai Marauke, pasti suka. Percaya sama bapak,” kata Hanung sambil menyuap pisang goreng ketiganya. 

Juni hanya mengangguk setuju. Kedua orang tuanya itu memang tidak pernah salah kalau soal masakan. Itu juga yang membuat Hanung memboyong keluarganya jauh-jauh ke Jakarta untuk mengadu nasib. Hanung merasa bahwa ia bisa membuka rumah makan sendiri di kota dengan uang pensiunannya bekerja belasan tahun di sebuah resto di hotel ternama di Jogja. 

Laki-laki itu juga mau tidak mau harus merelakan rumahnya untuk tambahan modal usahanya yang baru, kemudian membeli rumah sederhana di bilangan Jakarta Timur untuk keluarganya. Rum dan Hanung juga baru selesai mencari info tempat yang akan mereka jadikan sumber penghasilan nantinya. Tentu setelah urusan kepindahan mereka selesai, dan hari ini, haro pertama Juni pindah sekolah. 

Lihat selengkapnya