Ingatan Juni kembali pada tahun terakhirnya di SMA, saat itu tahun 2005, lewat sepiring pisang goreng—ya, pisang goreng lagi— yang dibawa oleh Rum dari rumah untuk cucu pertamanya yang ternyata diberi nama Juni dengan nama yang sama seperti laki-laki yang paling tidak bisa pergi jauh dari hatinya.
Kelana kecil kini berusia empat tahun, usia yang cukup untuk merasakan pisang goreng paling enak di dunia, kata Hanung. Melihat itu, mata Juni tidak pernah tidak berkaca-kaca, karena untuknya, ingatan soal Kelana selalu berhasil meporak-porandakan apa yang yang seharusnya bisa ia lupakan dengan keluarga kecilnya saat ini.
Anaknya, Kelana, sekarang sudah menjadi bagian dari hidup Juni termasuk dalam separuh hatinya yang dulu seumur hidup sudah ia janjikan untuk Kelana yang satunya lagi, meski ia percaya kenyataan itu tidak akan pernah berubah, tapi setelah ia punya anak, semuanya tidak akan lagi sama seperti masa-masa sekolahnya dulu.
Setelah hari itu, Juni baru tahu bahwa mereka sekelas setelah tiga hari bersekolah. Dua hari sejak mereka berbagi pisang goreng, Kelana ternyata selalu absen dari panggilan guru. Gadis itu awalnya tidak ingin ambil pusing, untuknya saat itu, Kelana tidak lebih dari sekadar orang asing yang ia temui dari sekian banyak teman barunya.
Yang paling berkesan yang kedua adalah teman barunya yang bernama Kinantari Cinta Mentari. Perempuan yang berasal dari Jawa Barat itu sama sekali tidak ingin dipanggil dengan nama tengahnya, katanya itu terlalu berlebihan jika yang menyebutnya adalah seorang laki-laki. Maka dari itu sepanjang SMA, ia dipanggil dengan nama depannya, Kinan.
“Kelana itu memang suka kabur-kabur, ya?”
“Dia itu sudah nggak naik kelas dua kali, Jun. Mending kamu nggak usah deket-deket sama dia kalau kamu nggak mau ketularan malesnya.”
Tapi bukan seperti itu kesan yang Juni tangkap. Ia bahkan masih ingat jelas raut wajah Kelana saat memakan pisang goreng buatan ibunya. Juni sama sekali tidak menemukan hal yang tepat yang Kinan ceritakan soal laki-laki itu.
“Yang bener kamu, Nan?”
“Sumpah demi Tuh—”
“Hus, nggak usah bawa-bawa Tuhan, ah, Nan. Serem.”
“Emang kamu ketemu dia kapan, Jun?”
Meski baru tiga hari, Kinan dan Juni sudah akrab seperti sudah bertemu selama tiga tahun. Itu bagus, Juni jadi tidak harus repot-repot sok dekat dengan orang lain. Karena untuk Juni, satu teman saja sudah cukup untuk hari-harinya di sekolah.
“Waktu pertama kali datang ke sini, dia yang ngasih tahu aku ruangan kepala sekolah sama ruangan guru.”
Kinan hanya ngangguk-ngangguk sambil menutup bekal makan siangnya yang baru saja selesai. “Dia pasti kabur lagi,” tambah Kinan.
Setelahnya aku tahu, bahwa Kelana akan selalu bolos pada hari Senin dan Selasa. Kinan bilang, pada hari itu ada pelajaran biologi yang ternyata adalah pelajaran yang menjadi musuh bebuyutan untuk Kelana. Sedangkan Selasa, Kinan juga tidak pernah tahu, apa yang laki-laki itu lakukan pada hari itu.
Kelana akan datang pagi-pagi sekali ke sekolah, bahkan kadang dia tidur di pos satpam, kemudian setelah bel sekolah dia akan kabur entah menghilang ke mana. Juni yang baru tahu kenyataan itu juga ikut mengangguk-angguk mengikuti penuturan Kinan.
Yang paling membuat Juni penasaran adalah, alasan mengapa Kelana sampai harus mengalami tidak naik kelas selama dua tahun berturut-turut. Mungkin, saat ia bertemu lagi dengan laki-laki itu, Juni bisa mengetahui alasannya cepat atau lambat.
Namun, yang terjadi adalah, rasa penasaran Juni semakin hari semakin tidak terkendali. Semakin hari, Juni semakin tidak mngerti apa yang ada di kepala laki-laki yang suka tidur di hari Rabu, kemudian menghabiskan waktu istirahatnya dengan main gitar di hari Kamis. Tdak punya teman dan suka menyendiri. Juni sangat ingin tahu soal itu.
Sampai hari itu, bertepatan dengan Rum yang membawakan Juni pisang goreng sebagai bekalnya ke sekolah lagi. Gadis itu ingat, jika Kelana masih menyukai makanan itu, dan memintanya untuk membawakan lagi makanan buatan ibunya.