Rum dan Hanung memutuskan untuk menginap di rumah anak semata wayang mereka, setelah puas bermain dengan Kelana kecil, Rum menuju ke dapur, melihat Juni sedang sibuk memperisapkan makan malam untuk keluarga besarnya. Tidak mungkin dia hanya memanaskan makanan cepat saji untuk suaminya seperti hari kemarin di saat orang tua nya sedang berada di rumah.
“Masak apa, nduk?”
Juni tersenyum, dia hanya harus menunggu sayurnya matang, sebab ayam dan tempe gorengnya sudah selesai dengan cantiknya di meja makan, “Biasa saja, buk. Nggak akan seenak masakan ibuk, kok.”
Rum menepuk-nepuk pundak anaknya, sebentar perempuan yang sudah bisa dipanggil nenek oleh cucunya itu merasa bersalah. Kini Juni harus memberikan seluruh bakti dan hidupnya untuk orang lain, untuk seseorang yang bahkan tidak pernah ada pada cerita-cerita Juni sepulang sekolah, tidak pada laki-laki yang pertama kali menghadap Hanung dan mengatakan bahwa ia mencintai puterinya, bukan, Juni tidak menikah dengan orang itu.
Namanya Adimas, pertama kali ia bertemu dengan Juni di universitas setelah mereka lulus SMA. Juni melanjutkan pendidikannya di fakultas bahasa Indonesia di universitas Indonesia. Sayangnya nasib Kelana tidak sebagus milik Juni.
Adimas Wira sendiri adalah senior Juni dari fakultas teknik, mereka bertemu setelah mengadakan galang dana untuk korban gempa yang terjadi pada 27 Mei 2006 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Gempa dengan kekuatan 5,9 SR yang mengguncang Bantul dengan kedalaman 33 km itu, sedikitnya menewaskan 1500 orang dan ribuan bangunan hancur.
Yang ada d pikiran Juni saat itu hanya Kelana. Dia sangat ingat, betapa laki-laki itu sangat mencintai ibunya lebih dari apa pun di dunia ini, dan wanita itu berada di Jogja.
Setidaknya itu adalah sekian dari banyak hal yang baru Juni ketahui soal Kelana di masa SMA. Anak sendirian dan hanya punya ibu dan dua adiknya di dunia ini. Seorang anak yang bahkan tidak pernah tahu siapa ayahnya, tidak pernah tahu siapa laki-laki yang membuat hidup ibu dan dirinya menderita.
Saat itu, saat mereka baru saja berhasil bolos sekolah berdua, Kelana membawa Juni menyusuri jalanan kampung yang di sampingnya masih ramai dengan rumah warga, beberapa ada yang sedang menjemur pakaian, menyuapi anak-anak mereka atau menunggu tukang sayur keliling.
“Kita mau ke mana?” Tanya Juni karena mereka sudah cukup berjalan kaki. Meski sebenarnya Juni masih bersemangat sebab Kelana mengatakan soal tempat yang paling tidak bisa dia lupakan.
“Sedikit lagi,” kata Kelana, dan sampailah mereka di sebuah warung yang berukuran tiga kali empat meter. Namanya warung nasi ‘Berkah’ tertulis jelas dengan cat warna merah di sebuah papan nama sedang yang terbuat dari triplek kemudian dipaku di sebuah tiang kayu. Setiap orang yang lewat di sana sudah pasti bisa membacanya.
“Ini?”
“Iya, dan ini teman-temanku.”