Di sini, Kita Pernah Jatuh Cinta.

Venia Amanda Putri
Chapter #4

Lalu Kita Pulang

Seisi ruang makan kini resah karena sudah lebih dari dua jam sejak waktu Adimas pulang seperti biasanya, tapi laki-laki itu masih belum sampai juga. Bekerja di sebuah badan usaha milik negara, membuat Adimas menempuh jarak cukup jauh dengan waktu satu setengah jam perjalanan dari kantornya. 

Pukul tujuh, semestinya Adimas sudah sampai di rumah, menyapa istri dan anaknya, terlebih Juni sudah memberi tahu suaminya itu bahwa kedua orang tuanya sedang berkunjung ke rumah, dan Adimas mengatakan bahwa dirinya akan pulang lebih cepat. 

“Coba kamu terlfon, nduk,” ucap Hanung yang juga ikut khawatir. 

Kelana kecil sudah terlelap di kamar tidur, anak itu tidak sanggup menunggu ayahnya pulang karena seharian sudah diajak main oleh kakek dan neneknya. 

“Sudah, Pak. Enggak ada jawaban.”

Lantas sepuluh menit kemudian mereka masih diam di meja makan, Juni menerima telepon dari suaminya, dengan cepat perempuan itu mengangkatnya, buru-buru Juni melancarkan seribu pertanyaan kenapa suaminya itu tidak pulang-pulang.

Jika ditanya, apakah Juni menyayangi Adimas atau tidak, maka jawabannya adalah, ya. Tidak ada alasan bagi Juni untuk tidak mencintai laki-laki itu. Seseorang yang bahkan dapat menerima ragamu meski hatinya bukan untukmu.

“Mas, dimana kamu, bapak sama ibuk sudah tunggu di rumah dari tadi?”

“...”

“Hah? Rumah sakit?”

Sepersekian detik kemudian, jantung Juni bagaikan dilepaskan dari tempatnya. Sambil menangis ia menutup telepon itu, lantas diam dulu, membuat bapak dan ibunya semakin penasaran. Masalahnya adalah, Juni sebenarnya juga tidak ingin mempercayai apa-apa yang sudah dia dengar barusan.



Kelana kecil masih terlelap di gendongan ibunya, walaupun Juni berjalan cepat dengan beberapa barang bawaan anak dan suaminya, Kelana seperti tidak terganggu dengan itu. Dibelakangnya, Hanung dan Rum ikut mengantar puterinya menuju rumah sakit. 

“Pasien kecelakaan atas nama Adimas Wira.”

Dari meja resepsionis, Juni dan keluarganya segera diarahkan ke UGD. Orang yang bicara di telepon dengannya tadi mengatakan bahwa suaminya mengalami kecelakaan beruntun dengan dua mobil lainnya, kondisinya parah dan semakin menurun meski telah diberikan pertolongan pertama. Sekarang Juni diminta untuk menandatangani surat persetujuan operasi. 

“Pasien sudah tidak sadarkan diri dan harus segera diberi penanganan serius. Terjadi pendarahan internal karena dada mengalami benturan benda tumpul kemudian menyebabkan retak pada tulang rusuk. Beberapa organ dalam yang juga ikut mengalami trauma karena mobil yang dikendarai suami anda rusak parah di bagian depan. Beberapa pecahan kaca juga mengenai perut beliau. Untuk itu, kami harus segera melakukan operasi.”

Kaki Juni terpasung, mulutnya mendadak bisu, ia tidak tahu apa yang dikatakan dokter itu pada garis eksplisitnya, tapi yang Juni tahu, di sana Adimas pasti sedang kesakitan, dan yang bisa menolongnya saat ini hanya operasi itu.

“Berapa tingkat keberhasilannya dokter?” Tanya Juni. Karena apa pun yang dilakukan dokter nanti di dalam sana, ia ingin Adimas kembali ke sisinya. Namun, dokter itu hanya menghela napas lalu membuangnya dengan berat. Tentu saja semua orang selalu ingin tingkat keberhasilan itu seratus persen, seperti operasi sunat, tapi dokter itu bukan Tuhan. Pada dasarnya hidup dan matinya seorang manusia tetap berada di tanganNya.

“Kami akan berusaha sebaik mungkin,” kata dokter. 

Kata dokter di seluruh dunia yang Juni harap kini bisa ia percaya dengan sepenuh hati. 

Lihat selengkapnya