Di sini, Kita Pernah Jatuh Cinta.

Venia Amanda Putri
Chapter #5

Kamu Menjelma Banyak Keraguan

“Kelana ini paling anti sama yang namanya perempuan. Kamu berbuat apa sampai dia bisa ajak kamu ke sini, nona?”

Dibilang begitu, Juni menjadi salah tingkah, masa iya dia harus mengatakan bahwa caranya membuat Kelana sampai begini adalah karena pisang goreng ibunya? Lagipula perempuan itu belum bisa percaya dengan perkataan teman Kelana yang kini juga ikut makan nasi uduk bersama mereka. Tidak mungkin Kelana tidak pernah bersama dengan perempuan kan?

“Kamu suka sama dia, ya?” lanjut Eka bertanya, tatapannya menelik ke arah Kelana yang sama sekali tidak terganggu dengan pertanyaan semacam itu. “Eh, nggak kok. Kami temenan, dia adalah orang yang pertama saya kenal waktu pindah ke Jakarta,” jelas Juni tidak ingin membuat salah paham mereka lebih jauh. 

Di antara mereka bertiga, wajah Bejo yang paling menyiratkan rasa tidak percaya, alis tebalnya itu bertaut, membuat kerutan sejumlah tiga lapis di dahi hitamnya, “Apa pun itu sepertinya tidak penting, yang penting adalah, kamu ada di sini, bukan di kelas.”

“Jo, dia cuma ikut-ikutan saya, dia penasaran kenapa saya selalu bolos hari Senin.”

Juni mengangguk-anggukan kepalanya tanda bahwa apa yang dikatakan Kelana adalah benar. Keberadaannya ia di sini hanya untuk itu, tidak lebih. Dan mendapatkan sepiring nasi uduk plus ditraktir adalah hal yang cukup sebanding dengan bolos sekolah hari ini.

Perempuan itu meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ini adalah kali pertama dan terakhir. Rasa penasarannya sudah terbayarkan. Mungkin.

“Setelah ini, kalian biasanya ngapain?”

Tidak mungkin Senin ini berakhir hanya dengan nasi uduk kan? Juni tahu, ada hal lain yang akan Kelana kerjakan hampir setiap hari, untuk itu, Juni memutuskan untuk bersama Kelana sepanjang hari ini. Membayangkan hal hebat apalagi yang akan mereka lakukan membuat Juni tidak sabar.

Satu hal yang bisa Juni nilai pertama kali adalah, untuk jangan pernah melihat apapun dari luarnya, termasuk seseorang. Jika dilihat dari radius lima meter, mungkin warung ini beserta Kelana dan teman-temannya yang ada di dalamnya adalah sekelompok orang-orang yang tidak jelas, urakan dan berpengaruh buruk. 

Satu seorang pemuda yang masih berseragam putih-abu yang sedang bolos sekolah, bertemu dengan seorang pengamen jalanan yang banyak tatonya, lalu di sebelahnya ada mahasiswa dengan rambut sebahu yang dibiarkan tergerai, telinganya ditindik sambil merokok, satunya lagi seorang kenek bus berperawakan gemuk rambut keriting dan ada rantai yang terhubung dari dompet ke celana jeansnya yang lusuh. 

Namun, ketika duduk di sini, apa yang berada di matanya sirna sudah. Yang ada dipikiran Juni adalah, mereka hanya tidak cukup beruntung ketika berada di dunia ini. Mungkin juga tidak seberuntung Juni yang tidak perlu berpikir, harus makan apa besok pagi, tidak harus tertekan karena orang tuanya mendukung apa pun pilihan untuk pendidikannya.

“Saya ya pasti ngamen,” ucap Bejo

“Ngerjain skrpsi ke kampus, alias tidur di perpus,” kata Satria.

“Kalo saya sudah pasti ke terminal, Mbak.” 

“Kamu?”

Umur mereka seperti hanya terpaut sekitar lima sampai tujuh tahun, yang paling tua dianatara mereka adalah Bejo, dan Kelana adalah yang paling muda, lebih muda dua tahun dari Satria. Mereka sepakat memanggil satu sama lain dengan sebutan nama saja, Juni sedari tadi tidak mendapati Kelana memanggil teman-temannya dengan sebutan apa-apa. 

“Kamu mau ikut aku lagi?”

Juni mengangguk antusias. 

Setelah makan, dan berpamitan dengan bibi si pemilik warung, mereka berpisah di pertigaan depan gang yang tidak jauh dari gerbang sekolah, mereka tetap bertahan hidup meski rasanya sulit.

“Kita mau ke mana lagi?” 

Lihat selengkapnya