“Di mana pun itu, tempatmu bukan bersamaku.”
Juni pikir, tidak ada kalimat lain yang lebih menyakitkan daripada selamat tinggal, dan mungkin saja itu benar. Diucapkan terang-terangan atau tidak, perpisahan akan selalu jadi perpisahan.
Dari sekolah anak-anak jalanan itu, Kelana mengantar Juni pulang. Mereka pergi ke tujuan terakhir dan Kelana mengatakan untuk yang ke sekian kali, “Jangan ikut lagi, ya.” Juni diam saja, pasalnya waktu itu Juni juga tidak yakin, semakin dilarang semakin ingin dia mengetahui lebih jauh soal Kelana, bukan hanya soal hari Senin, Juni juga mau tahu soal hari-hari lainnya.
Sambil menunggu metro mini datang, dari jauh Juni melihat Eka yang mondar-mandir mencari penumpang dengan modal beberapa lembar uang kertas yang ada di tangannya. Ia juga melihat Bejo dengan gitarnya dari satu ruang tunggu lain ke yang lain, beberapa orang langsung menganggkat tangan dan membuat Bejo pergi dari kerumunan.
“Nih, buatmu.”
“Hah?”
Juni menerima bungkusan plastik itu, isinya sepuluh sate usus, lengkap dengan hati dan ampela ayam, juga ada telor puyuh dengan bumbu kuning khas tukang bubur. “Suka nggak?” Jika mengangguk, maka Juni akan betulan terlihat lapar, lagi pula sepiring nasi uduk tadi pagi tidak bisa mengganjal perutnya sampai tengah hari, kan?
“Terima kasih.”
Sambil duduk-duduk di bangku yang biasa digunakan untuk menunggu metro mini di terminal, Kelana menatap lurus ke arah teman-temannya. Sedikit banyaknya, Kelana harus bersyukur, di dunia ini ia masih memiliki ibu, tidak seperti Bejo dan Eka yang sebatang kara.
Namun, Kelana sering membayangkan dirinya sendirian, mungkin saja setelah lulus nanti, nasibnya tidak akan jauh dari apa yang sudah ia lakoni selama ini. Itu kenapa Kelana meminta Juni untuk berhenti saja. Untuk berhenti pensaran, untuk tidak ingin tahu lagi soal dirinya.
Toh, waktu mereka di kelas tiga ini hanya menghitung mundur enam bulan dari sekarang. Kelana harus lebih giat untuk bisa ikut ujian akhir sekolah, dan ketika itu terjadi, Kelana berharap Juni akan melupakannya, Juni harus bertemu dengan orang-orang yang baik. Perempuan itu harus berteman dan berhubungan dengan orang-orang yang sepadan, tidak seperti dirinya.
Kelana yakin, itu tidak akan sulit untuk dilakukan. Mereka baru saja bertemu, baru saja berkenalan satu bulan, dan itu tidak akan memengaruhi Juni sama sekali.
“Aku nggak akan ikut kamu bolos lagi,” ucap Juni.
“Tapi masih boleh kan ketemu kamu?” Imbuhnya, setelah lima sate ususnya habis tinggal lidi.
“Ketemu di sekolah saja.”
“Lalu, di sini tidak boleh? Di warung bibi nggak boleh juga? Di sekolah kuning tadi nggak boleh juga?” Juni menyebutnya sekolah kuning karena tidak tahu harus menyebut sekolah itu dengan sebutan apa. Papan nama di depan bangunan itu menggunakan besi, dan sudah cukup karatan, membuat yang terlihat oleh Juni hanya dua huruf, T dan I.”