Di sini, Kita Pernah Jatuh Cinta.

Venia Amanda Putri
Chapter #7

Kau Tahu, Sendirian Itu Tidak Baik.

Kehidupan Juni di SMA tidak jauh berbeda dengan di Jogja. Gadis itu tidak sulit mendapatkan banyak teman di tahun terakhirnya ini, rupanya memang karena ia dan Kinan sama-sama mudah dekat dengan orang lain, supel dan periang, siapa yang tidak senang? Patut saja mereka itu cocok, ke mana-mana berdua, ke kantin, ke perpustakaan, bahkan ke toilet. Sayangnya saja, arah rumah Kinan dan Juni berbeda, jadi mereka harus berpisah saat sudah berada di gerbang sekolah.

Juni menepati janjinya untuk tidak ikut Kelana bolos lagi, ternyata pada hari Selasa, Kelana diizinkan untuk membantu di perpustakaan kota satu minggu satu kali untuk membereskan buku-buku pinjaman atau mengembalikan sesuai dengan urutannya di rak buku. Kata Kelana, saat mereka di metro mini kemarin, dia bisa mendapatkan tambahan uang bulanan jika melakukan itu. 

Banyak yang dilakukan Kelana untuk tetap bisa bersekolah, untuk bisa bertahan sampai dengan ujian akhir nanti. Dibandingkan mereka yang mengira bahwa Kelana adalah bocah nakal yang suka bolos, lebih dari itu, di mata Juni justru Kelana lah yang punya semangat lebih dibandingkan dengan yang lainnya. 

Sewaktu itu, Kinan tidak percaya, satu minggu setelah kejadian itu, Juni menceritakan semuanya pada Kinan, soal dia yang kabur lewat pagar belakang, soal dia yang pergi ke sekolah anak jalanan dan bertemu dengan teman-teman Kelana, sampai kepada terminal tempat mereka makan sate usus.

Kinan cuma bisa geleng-geleng kepala, mengatakan bahwa Juni sedang mendongeng. Selama Kinan berada di sekolah, ia sama sekali tidak pernah mendengar berita baik soal Kelana, dalam bentuk apa pun, itu juga karena dia tidak pernah melihatnya secara langsung apa yang dilakukan Kelana. Yang sering ia dengar justru kebalikannya. Kelana adalah orang yang paling tidak berguna hidupnya di mata Kinan. Namun, itu sebelum Juni mencubit keras lengannya ketika bicara sembarangan. 

“Kelana bukan orang yang seperti itu, Nan.”

“Kamu mau nggak nanti temani aku ketemu sama dia, kamu juga penasaran kan?”

“Juni, jangan aneh-aneh deh, ah. Mending kita fokus sama ujian-ujian yang akan datang, katanya mau masuk Universitas Indonesia,” kata Kinan sambil membuka buku pelajarannya. Gadis itu ambisius sekali untuk jadi dokter, ayahnya meninggal dua tahun lalu karena tidak mendapatkan penanganan yang cepat di UGD, sejak saat itu Kinan berjanji, bahwa ia akan menjadi dokter, bagaimana pun caranya. 


Sulit rasanya meyakinkan banyak orang soal Kelana. Setiap ada kesempatan, Juni sering memperhatikan Kelana di kelas. Tidak seperti laki-laki yang menemaninya seharian pekan lalu, di sekolah entah kenapa Kelana sangat jauh berbeda, dia diam saja, tidak banyak bicara apalagi tersenyum. Tidak suka berinteraksi dengan banyak orang, dan lebih suka tidur di meja. Tidak ada orang yang mau semeja dengannya, itu juga karena Kelana lebih suka duduk sendiri, dan tidak ada yang keberatan dengan itu. 

“Eh, Jun. Aku baru inget sesuatu.”

Juni yang sedari tadi masih memerhatikan Kelana yang tidur tiba-tiba ditarik tangannya oleh Kinan, “Apa, Nan?”

“Gosip dua tahun lalu, kenapa Kelana sampe nggak naik kelas dua kali.”

“Kenapa?”

Kinan memajukan badannya sampai dengan jarak mereka hanya sebatas jengkal. Kepala Kinan bergerak lebih dekat ke telinga Juni dan gadis itu mulai bicara sambil berbisik, “Dia nggak bisa bayar uang ujian.”

“Hah?”

Tidak ada yang bisa dilakukan Juni selain menutup mulutnya dengan kedua tangan, seolah benar-benar tidak percaya. “Terus kenapa dia masih di sekolah.”

Lihat selengkapnya