Baru kali ini Kelana melihat berita jujur di televisi. Biasanya yang ia dapatkan hanya berita-berita yang kurang atau bisa jadi dilebih-lebihkan. Dia sama sekali tidak percaya dengan benda kotak bertabung itu, yang kadang antenanya harus digeser ke kanan atau ke kiri jika saluran yang diinginkan dipenuhi semut elektronik.
2005, Jakarta menempati peringkat pertama sebagai kota paling korup di Indoensia, yang kemudian disusul Medan dan Surabaya setelahnya. Seorang dengan baju batik Pekalongan yang khas itu begitu percaya diri mengatakan sesuatu di depan mikrofon yang membuat Kelana semakin mual.
Laki-laki yang kerap disapa Todung Mulya Lubis itu adalah Ketua Dewan Pengurus TII tahun 2005. Dia bilang, bahwa indikator mengenai survei yang dilakukan berdasarkan kinerja layanan publik dan probabilitas suap dan nepotisme dalam penerimaan dan pencarian kerja.
“Sedangkan tempat yang paling sering ditemui kasusnya adalah pada instansi lembaga peradilan dan bea cukai,” lanjutnya. Sayangnya, Kelana justru seperti mendapatkan semuanya, di seluruh aspek kehidupannya seperti ada yang mencuri paksa, seperti setiap hak yang sudah Tuhan turunkan dan beralamat padanya justru nyasar entah ke mana.
“Gimana?”
Itu adalah pertanyaan ke lima yang Satria lontakan untuk Kelana, dan laki-laki itu masih lurus menatap televisi. Sejujurnya dia juga tidak tahu harus seperti apa lagi. Lebam ditubuhnya saja belum sembuh sejak kemarin, seragam sekolahnya juga masih menyisakan bercak darah. Kelana sedang menimang, apakah ia harus melepaskan seragam abu-abunya untuk selamanya atau tidak.
“Udah, Sat. Apa yang mau kamu tanya lagi, Mending dia berhenti sekarang juga dan ikut ujian paket C.”
Sudah bukan rahasia umum, jika Kelana telah melewati masa SMA lebih lama dua tahun daripada orang lain. Ia terpaksa harus tinggal kelas karena tidak bisa membayar ujian sekolah akhir, dan selalu mendapat predikat murid nakal dari sekolah.
Dua tahun lalu sebenarnya sekolah memberikan keringanan untuk Kelana. Laki-laki itu bisa saja lulus tepat waktu dengan mengajukan sejumlah beasiswa yang disarankan para guru. Dengan penuh harapan, Kelana melewati seluruh tahapan penerimaan beasiswa. Namun, saat hari pengumuman tiba, justru anak kelas sebelah yang bapaknya merupakan anggota kepolisian dengan pangkat tinggi yang mendapatkannya.
Pihak sekolah mengatakan jika nilai Kelana hanya berselisih koma lebih rendah daripada yang menerima beasiswa, karena itu pihak sekolah hanya akan memberikan kelulusan bersyarat untuknya, dengan catatan Kelana harus tetap melunasi tunggakannya meski sudah lulus.
Dengan kepala keras Kelana menolak itu. Harga dirinya merasa terluka. Laki-laki itu paham betul siapa sosok anak yang mendapatkan beasiswa yang seharusnya menjadi miliknya. Jika bukan karena posisi sang ayah, anak itu bukan apa-apa untuk Kelana. Lebih baik Kelana menanggung malu dengan tetap berada di kelas tiga daripada harus lulus dengan cara yang melukai harga dirinya.
“Kenapa? kamu lebih baik lulus dan cari kerja. Kenapa kamu harus repot-repot begini?”
“Kalau begitu, keluarkan saja saya dari sini, Pak!”
Semua wajah yang ada di ruang guru waktu itu saling tatap, termasuk anak dan ayah itu, “tidak akan ada ruginya kalian mengeluarkan saya,” lanjut Kelana dengan mengeluarkan semua isi tasnya. Buku-buku pelajarannya dan semua soal yang sudah di-print out dari warnet dari hasil mengamen dengan Bejo di terminal.