Sebuah tiket kereta yang dilipat empat kali menjadi sangat kecil itu Juni simpan di selipan pertama dompetnya. Ia memutuskan untuk pergi, tapi tidak sendiri, ia membawa semua yang bisa dia bawa, ia membawa anaknya, membawa kedua orang tuanya, membawa sisa-sisa perasaan dan harapannya yang mungkin saja bisa menuntunnya ke tempat Kelana berada sekarang.
Tanpa clue, tanpa tanda apa-apa, modal yang diyakini Juni hanya wasiat mendiang suaminya yang meminta Juni menemukan laki-laki itu, entah apa yang akan ia lakukan jika nanti sudah bertemu dengan Kelana juga tidak ada yang tahu. Lusa ia akan berangkat ke Jogja.
Setelah hampir tujuh tahun berada di Jakarta, Juni akhirnya pulang kampung, mereka akan tinggal di sebuah rumah kontrakan yang cukup besar milik kenalan Hanung dan Rum, usaha rumah makan mereka akan diurus oleh orang kepercayaan bapak Juni, dan atas permintaan Juni, Hanung dan Rum juga ikut pulang.
Hari ini Juni mengendarai mobilnya sendirian untuk pergi ke daerah SMA 45, ke terminal tepatnya, bertemu Bejo, Eka, dan mungkin juga Satria. Mereka masih di sana? Benar. Yang pergi hanya Kelana, hanya dia yang setega itu mengatakan bahwa ia tidak akan meninggalkan apa-apa dan siapa-siapa, justru adalah yang paling pertama mengatakan sampai jumpa.
Katanya, seperti yang terakhir Juni dengar, Bejo tidak akan meninggalkan Jakarta bagaimana pun kondisinya, ia besar di sini, jatuh cinta di sini, dan ia juga berharap bisa mati di sini, Bejo adalah laki-laki yang tidak neko-neko, yang penting tetap bisa makan dan udud, itu saja sudah cukup. Begitu pula dengan Eka, memang sebelas dua belas dengan Bejo, mereka seperti soulmate yang tidak terpisahkan, yang membedakan mereka hanya merek rokoknya saja.
Satria? Dia memutuskan untuk tidak pernah di wisuda sampai kapan pun, meskipun itu akan merusak nama baik orang tuanya karena anak semata wayang yang diharapkan menjadi sarjana tidak pernah terlaksana. Satria memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri, walaupun harus menerima pukulan berkali-kali dan bentakan setiap hari dari orang tuanya. Dengan uang yang Satria dapat dari meminjam kepada Kelana lima tahun lalu, Satria menjadi seorang pelukis, akhirnya ia benar-benar melakukan apa yang ia cintai. Ia benar-benar tidak ingin menjadi anak teknik, ia ingin menjadi anak seni.
Terakhir Juni bertemu dengan mereka adalah bulan Mei lalu, saat Kelana anaknya berulang tahun, mereka bertiga juga dekat sekali dengan keluarga Juni. Juni juga mengajarkan kepada Kelana untuk memanggil mereka dengan sebutan 'Pakde'. Setelah Kelana memutuskan untuk pindah ke Jogja, baik Bejo, Eka dan Satria sama sekali tidak pernah menyebut namanya di depan muka Juni. Mereka tahu, persoalan cinta dua anak manusia ini tidak mudah.
Seingat Juni, hanya mereka bertiga yang mengetahui kabar Kelana setelah dia pergi, dan Juni tidak pernah mempertanyakan hal itu, setidaknya sampai detik ini.
Sudah tujuh tahun, terminal ini sudah banyak berubah. Tukang bubur yang sate ususnya sering Juni beli waktu jaman sekolah sekarang sudah punya kios sendiri di samping terminal, banyak sopir dan orang-orang yang makan di sana. Bangku-bangku yang dulu masih terbuat dari kayu, sekarang dibuat permanen dengan semen, tiang-tiangnya kurang lebih sudah dipugar, dan dicat ulang.
Namun, untuk Juni, perasaan yang tumbuh di sini masih sama dan akan selalu sama. Tidak ada yang bisa mengubahnya, meski Adimas sekalipun. Adimas dan Kelana adalah dua hal yang berbeda, seperti terminal. Benar, Kelana seperti terminal, ia selalu bisa menunjukkan Juni banyak hal, membuat Juni menunggu, dan membuat Juni bingung, arah mana yang mesti ia tuju.
Sedangkan Adimas adalah bus asing yang datang ke terminal, menawarkan tiket perjumpaan seumur hidup dan akan membawa Juni pulang ke tempat yang paling ia inginkan. Adimas menawarkan banyak kepastian yang tidak bisa diberikan Terminal. Bus selalu lebih baik daripada harus berdiam diri di bangku pengunjung.
Seperti Terminal dan juga Bus, Juni terjebak di dalamnya, ia naik bus lalu turun lagi di terminal, naik, turun dan naik lagi dan turun lagi, hingga pernah satu kali Juni meminta agar Adimas tidak berhenti di terminal yang sama dengan sebuah ikatan pernikahan, dan mereka setuju. Tetapi pada akhirnya, perjalanan terakhir Adimas tetap berada di terminal ini, berhenti pada tempat yang paling ingin Juni jadikan rumah, tapi tidak bisa.
***
Entah kenapa, sore itu hujan, Tetapi Kelana enggan berteduh, laki-laki itu membiarkan seragamnya kebasahan dan buku-buku jarinya mengepal karena kedinginan. Sudah lima belas menit Kelana menunggu, dan Juni belum juga sampai. Apakah kekhawatirannya akan menjadi kenyataan secepat ini, pikir Kelana.