Di sini, Kita Pernah Jatuh Cinta.

Venia Amanda Putri
Chapter #10

Jogja Istimewa Setiap Sudutnya

“Kalau kamu menolak nggak apa-apa. Aku pasti kangen sama pisang gorengmu.”

Seperti sudah siap dengan penolakan dan perpisahan, laki-laki itu bangkit tanpa melihat lawan bicaranya yang bahkan belum lagi mengatakan keputusannya yang sebenarnya. Kelana berdiri hendak mengajak Juni untuk makan sate usus untuk yang terakhir kalinya. Karena bisa jadi mereka tidak akan beretmu lagi. 

“Boleh,” jawab Juni singkat, membuat Kelana mengehentikan langkahnya turun dari bangku pengunjung terminal. “Boleh?” Seakan tidak mengerti dengan apa yang dimaksud dengan 'boleh' itu, Kelana mengernyitkan dahi, berupaya mencari kebenaran dari sepatah kata itu. 

“Asal kita masih bisa berteman.”

Kemudian, hujan sore tadi memberikan bias cahaya matahari menjadi sebuah pelangi di sebelah barat bumi. Langit mulai berarak gelap, tapi mata mereka berbinar seperti bintang-bintang sirius. Juni percaya, keputusan Kelana itu tidak semata-mata ia pikirkan dengan kepala panas, ia percaya bahwa laki-laki itu cukup baik dalam bertanggung jawab dengan pilihannya sendiri. 

Juni sama sekali tidak merasa khawatir jika ke depannya Kelana tidak bisa hidup enak seperti manusia kebanyakan, atau seperti yang ibu dan bapaknya harapkan juga untuknya. Bahwa tidak ada jaminan mengenai itu adalah satu hal besar yang Juni percaya, bahwa tanpa ijasah pun Kelana akan baik-baik saja. 

Dunia memang keras, tapi laki-laki itu adalah orang terkuat yang pernah Juni temui meski baru beberapa saat. Ia tahu, di pundaknya tidak hanya sekadar beban yang seorang anak SMA miliki kebanyakan. Kelana lebih dari itu, dan Juni hanya harus percaya dengan apa yang diyakininya. Itu semua sudah cukup. 

Apakah ini karena Juni mulai menyukai laki-laki itu? Jawabannya bisa jadi iya dan tidak. 

***

Terminal hampir tidak pernah sepi. Ada yang pulang dan ada yang pergi, ada yang kembali dana da juga yang tidak. Juni memarkirkan mobilnya di salah satu agen bus yang lengang, matanya menyusuri satu persatu bangunan yang ada di sana, dari mulai warung sampai bus yang keluar masuk. 

Beberapa pedagang asongan terlihat keluar dari bus ketika penumpang yag lain ikut turun, beberapa pengamen juga terlihat akan ikut naik bus yang segera berangkat. Kehidupan terminal seakan tidak pernah istirahat. Dengan saksama Juni mencari ketiga teman-temannya, barangkali mereka ada di antara ratusan manusia-manusia ini. 

“Juni?”

Sebuah tnagan besar dan kasar menyentuh bahu Juni dengan lembut, itu Bejo. Laki-laki itu menghampiri Juni yang kelihatan sedang mencari sesuatu seperti orang linglung. “Cari siapa?”

Melihat wajah gadis itu, Bejo mengetahui satu hal, bahwa dunia Juni sedang tidak baik-baik saja.

“Dimana yang lain?” Tanya Juni. 

“Di warung.”

Lihat selengkapnya