“Sepertinya Kelana ini kerasan tinggal di Sleman daripada di Jakarta. Dia seneng banget main pasir di rumah lek Sri sana itu.” Hanung menyesap teh tawar yang dihidangkan Rum sepuluh menit yang lalu. Masih panas tetapi sudah bisa diminum, membuat sore hari yang tenang itu mengingatkan Hanung pada harinya-harinya belasan tahun yang lalu.
“Dulu, waktu Juni kecil, dia juga suka main pasir di depan halaman rumah kita, Pak. Andaikan saja waktu itu kita tidak pindah ke Jakarta.”
Kalimat Rum menggantung di udara, Hanung tahu ke mana arah pembicaraan mereka sekrang, “Andaikan kita tidak pindah ke Jakarta, mungkin pulang ke sini rasanya tidak akan jadi sesedih ini, Pak.”
“Sudah tidak bisa disesali, Buk. Tidak ada manusia yang tahu apa yang akan terjadi besok. Kita ambil hikmahnya saja.”
Juni berada di balik pintu ketika orang tuanya sedang duduk-duduk di muka rumah. Langkahnya berhenti ketika mendengar percakapan mereka berdua. Perempuan itu juga sempat memikirkan hal yang sama, bagaimana jika keluarganya tidak pernah pindah ke Jakarta, itu tandanya, ia mungkin tidak akan bertemu dengan Kelana, tidak akan bertemu dengan Adimas.
Mungkin saja, dari rahimnya tidak akan lahir seorang anak laki-laki yang tampan dan juga pintar seperti putranya, mungkin saja benar kata Bapaknya, pulang kampung rasanya tidak akan menjadi sesedih ini.
Benar, dulu Jogja adalah kota yang pernah masuk ke dalam jajaran mimpi Juni, menjadi salah satu hal yang masuk ke dalam doa-doa semoga yang sering Juni panjatkan di setiap bahagia dan sedihnya. Tentu di dalam sana, tidak hanya ada Jogja, ada seseorang juga yang Juni harapkan bisa mengisi harapan-harapan Juni.
Namun, harapan hanya sebuah mimpi indah yang terwujudnya tidak pernah pasti meski sudah diupayakan setengah mati.
***
Kelana resmi keluar dari sekolah tepat sebelum enam bulan pelaksanaan ujian akhir nasinoal. Ia sudah memikirkan itu matang-matang, terlebih dengan melibatkan pertimbangan Juni. Kelana sama sekali tidak ingin memperpanjang masalahnya dengan sekolah biadab itu—katanya, dia sama sekali tidak ingin berurusan dengan hal-hal seperti itu lagi.
Setelah memutuskan untuk keluar dari sekolah, Kelana mengajar penuh waktu di sekolah melati, laki-laki sembilan belas tahun itu jungkir balik untuk memenuhi semua kebutuhan keluarganya dan dirinya seorang diri. Sesekali ia ikut dengan Eka menjadi kondektur bus di terminal, sesekali ikut menyanyi bersama Bejo dari angkutan satu ke yang lainnya.
“Lan,” Juni memanggilnya pelan. Mereka sedang makan nasi uduk di warung bibi pada hari minggu. Juni tidak bisa bolos sekolah lagi.
“Cita-cita kamu itu apa?”
“Kamu dulu,” kata Kelana. Mungkin saat itu Kelana masih asyik dengan nasi di piringnya. Kulitnya semakin gelap dan pipinya terlihat lebih cekung. Juni tahu orang di depannya itu sangat lelah, tapi masih mau meladeni Juni yang tidak jelas ini, pikirnya.
“Tidak tahu, cita-citaku sering berubah. Tapi ibuk sama bapak nggak pernah menuntut apapun, katanya aku bisa jadi apa saja yang aku mau. Kalau sekarang, sih aku lagi ingin jadi penulis.”
“Penulis, aku baru tahu kamu suka nulis.”
“Berati kapan-kapan kamu harus baca puisi-puisiku.”