“Aku kangen banget sama kamu, Jun.”
Juni membalas pelukannya, menghirup dalm-dalam aroma minyak wangi jeruk yang sudah Kinan pakai sejak SMA. Perempuan itu sangat konsisten dalam urusan aroma tubuhnya sendiri. “Aku juga kangen sekali sama kamu.”
Hanung dan Rum memeluk perempuan itu bergantian, setelahnya Hanung membantu Kinan mengeluarkan kopernya dari bagasi mobil. Melihat Kelana kecil sedang bermain di halaman rumah, Kinan langsung berlari ke arahnya, “Halo ganteng, kangen nggak sama bulek?”
Anak itu masih mencerna wajah asing di hadapannya, sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan Kinan, wajar jika Kelana memberikan respon seperti itu. Dia berlari memeluk lutut Juni ibunya, lantas menggeleng dengan kuat.
“Lana, ini teman ibu. Namanya bulek Kinan. Dia bukan orang jahat, jadi Lana nggak perlu takut ya.”
Saat menatap mata anaknya, Juni mendapati triliyunan rindu di dalam sana. Mencoba memberikan kepercayaan kepada seorang anak kecil adalah hal mudah yang dapat Juni lakukan terhadap anaknya. Lambat laun, Kelana pasti akan mengenali Kinan.
“Yuk kita masuk saja dulu, kita ngobrol di dalam, kasihan Kinan juga baru sampai,” kata Rum sambil menggandeng tangan Kinan untuk ikut masuk ke dalam rumah.
“Liat kan Jun, kalau ada aku di sini, ibumu jadi punya dua anak perempuan, dan sudah pasti dia lebih sayang sama aku.”
Mendengar itu Juni terkekeh sambil memutar matanya dengan bercanda. “Cukup tahu deh yang paling di sayang ibu mah. Hahaha.”
Setelah membantu Kinan bebenar barang di kamarnya, Juni terduduk di pinggir kasur. Matanya kosong menatap keluar jendela dan melihat Rum dan Hanung yang bermain dengan Kelana di luar.
“Kinan, apa aku merepotkanmu? Seharusnya kamu nggak perlu datang ke sini. Kalian hanya tinggal berdua saja, meninggalkan suamimu demi aku bukanlah sesuatu yang baik. Kamu tinggal saja di sini sebagai liburan, lalu pulang ke Bandung, aku bisa melakukannya send-”
“Jun!”
Andalan Kinan sejak SMA jika Juni sudah mulai mengatakan hal yang tidak penting untuk mereka berdua. “Aku sama sekali nggak pernah merasa direpotkan. Aku sudah menganggap kalian sebagai keluargaku sendiri, kalau kamu kehilangan sesuatu, maka aku juga merasakan kehilangannya. Dan sekarang, tugas kita berdua untuk mencarinya bersama-sama.”
“Makasih banyak ya, Nan.”
Entah mengapa berada di pelukan Kinan rasanya menenangkan sekali. Seperti ada sedikit beban di pundak Juni yang terangkat. “Aku minta maaf karena tidak bisa datang ke pemakaman Mas Adimas.” Raut wajah Kinan jelas mencetak penyesalan mendalam.
“Saat itu suamiku juga sedang sakit, dan nggak bisa ditinggal. “
“Nggak papa, aku seneng sekarang kamu sudah ada di sini,” ucap Juni sambil tersenyum. Kemudian Kinan melanjutkan pembicaraanya. Sebetulnya Juni sudah menceritakannya lewat telepon sebelum Kinan datang ke Sleman. Namun, Kina tidak berani menanyakan banyak hal lagi, barulah sekarang dia memberanikan diri untuk menanyakannya.