Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #1

BAB I

Neil Bayu tak pernah mengira bahwa Jumat malam di hari ulang tahunnya yang ke tiga puluh tiga akan memaksa mengingat masa lalunya yang pahit. Ia baru saja datang ke rumahnya di daerah Bintaro Tua ketika suara teriakan—yang kemudian diketahui berasal dari rumah tetangganya, terdengar samar-samar di telinganya. Suara teriakan yang terdengar pedih, batinnya, seraya meneruskan membuka kunci pintu rumahnya, dengan kepala yang tak fokus melihat-lihat keadaan sekeliling: angin musim dingin yang begitu kencang menerbangkan sisa daun-daun yang menguning, jatuh, hingga ke pekarangan rumahnya, mobil-mobil yang terparkir sentosa, dan tak terlihat satu manusia pun hilir mudik padahal waktu masih menunjukkan pukul sepuluh malam, lampu-lampu merkuri yang redup yang tak semuanya menyala menjadikan Jumat malam menjadi semakin mencekam.

Neil berpikiran untuk menelefon 112 ketika teriakan itu kembali terdengar, tapi, pikirnya sekali lagi, lebih baik aku mendatangi sumber teriakan itu langsung. Setelah menaruh kertas belanjanya, tanpa sempat menggantungkan mantelnya, Neil Bayu menuju sumber suara yang letaknya tak jauh dari rumahnya dengan penuh penasaran dan curiga. Setelah ditelusuri, sumber suara itu berasal dari rumah kediaman Keluarga Basundari.

Keluarga Basundari adalah penghuni baru di lingkungan tempat tinggalnya, mendiami rumah tua bekas peninggalan keluarga Lebron yang seluruh anggota keluarganya melakukan bunuh diri masal di medio tahun 2000-an. Semenjak kejadian berdarah itu, rumah itu dibiarkan kosong dan tak terawat. Sebuah plang bertuliskan DIJUAL yang dicat putih menjadi semakin pudar, terkelupas dan berdebu karena sudah lama sekali tak ada seorang pun yang berniat membelinya. Baru tiga bulan ke belakang ini, rumah yang tadinya bercat putih kusam dengan halaman luas ini terlihat ada yang menempati: sebuah keluarga dengan seorang anak kecil.

Neil mengetuk pintu rumah keluarga Basundari dengan pelan untuk memastikan apakah benar ada seorang di dalam rumah yang membutuhkan bantuan, dengan gema jantung yang berdetak lebih cepat, dada yang naik turun beserta keringat dingin. Jika tak ada orang dalam rumah, barangkali memang benar rumor yang beredar di lingkungannya selama ini: rumah ini berhantu.

Rumor rumah berhantu memang santer terdengar jauh bertahun-tahun ke belakang, terbawa gosip-gosip tetangga dengan bumbu-bumbu cerita yang beragam, berbeda-beda versi, tinggal kamu pilih lebih percaya yang mana. Namun semua orang yang tinggal di jalan itu sepakat bahwa pada malam tertentu, rumah itu akan terdengar gaduh persis seperti suara-suara orang sedang berpesta, tawa membahana, teriakan, umpatan, canda-tawa berlebihan. Mulanya semua orang mengira itu memanglah suara-suara manusia—beberapa orang gelandangan atau urakan mengadakan janji temu untuk pesta narkoba di sebuah rumah kosong. Atas keluhan warga sekitar karena dianggap telah meresahkan, dua orang polisi turun tangan untuk melakukan investigasi. Hasilnya, tak ditemukan tanda-tanda keberadaan manusia yang sedang mengadakan sebuah pesta kecuali rumah gelap dan lembab nan berdebu dengan kecoa dan tikus bertebaran di dalamnya.

Bagi Neil Bayu sendiri, rumah ini merupakan rumah terseram menurut versi kanak-kanaknya. Aku tak akan pernah mau masuk rumah ini lagi, pikirnya pada masa itu setelah mendapat pengalaman paling buruk, hampir-hampir mati berdiri, pada suatu hari Sabtu yang cerah, ketika ia berjalan-jalan sore dengan sepeda kecilnya. Neil Kecil adalah laki-laki sekurus papan kayu, dengan wajah hitam yang selalu pucat karena sering kena penyakit. Ibunya jarang sekali membawanya ke luar kecuali pada hari-hari libur musim panas dan pergi ke pasar pada Kamis sore. Karena itulah, Neil Kecil merasa bosan dan memutuskan untuk bersepeda di sekitar rumahnya sore itu. Sialnya, tiba-tiba teman-temannya datang dan mengganggu kesenangannya, hendak memukulnya tanpa alasan jelas hingga Neil Kecil lari secepat yang ia bisa. Namun sayang, kecepatannya tak sebanding dengan kecepatan lari teman-temannya. Dillon Haart—si raksasa, mencengkram tubuhnya kuat-kuat, hingga ia tak bisa berkutik. Berteriak pun percuma, sebab tahu-tahu ia sudah ada di teras rumah berhantu. Si Raksasa itu mendorongnya masuk ke dalam rumah, mengunci pintunya dari luar. Mampus kau dimakan hantu, lesbo! teriak Dillon Haart seraya menjauh dari rumah.

Neil Kecil menghabiskan sepanjang senja itu di dalam rumah hantu; duduk pada lantai berdebu bagai orang kerasukan; ia ingin menangis tapi ketakutannya akan hantu penghuni rumah ini sungguh besar—hingga air matanya tak bisa keluar kecuali gerak tubuhnya yang kaku, bergetar bagai kena demam tinggi, dengan mata yang menerawang melihat ke sana ke mari ke seisi ruangan; ruangan itu terdiri dari sofa-sofa yang ditutup kain putih (bukan, bukan kain putih, tapi kain yang pernah putih) dengan debu yang hampir setebal es krim coklat, tangga-tangga lapuk, kamar-kamar kosong dan lembab. Angin bertiup menerbangkan debu-debu, debu-debu membuat Neil Kecil kecil kelilipan. Samar-samar, ketika senja sudah hampir tiada, sebuah siluet bayangan seorang perempuan telanjang dengan sebuah sapu terlihat di atas tangga, makin lama makin dekat, semakin dekat, hingga membuat Neil Kecil menjerit kencang, kencing di celana, menubruk satu-satunya kursi kayu di depannya hingga ia terjerembab jatuh. Aku akan mati dimakan hantu, gumamnya setelah bayangan hitam perempuan hadir di depan dirinya beserta kemunculan kucing hitam dengan mata menyala-nyala. Dua jam kemudian, Neil Kecil ditemukan oleh ayahnya sendiri jatuh pingsan di ubin kotor.

Lihat selengkapnya