Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #3

BAB III

Agak gampang-gampang susah jika mau berteman dengan mereka, Neil. Pertama kamu harus menekan rasa takutmu pada taraf terendah (tentu saja ini perlu latihan panjang dan pengulangan menghadapi horor nyata; kamu harus bersedia melihat hal-hal ngeri, jijik, mual, terpampang nyata di depan wajahmu, kau harus membiarkan dirimu senam jantung (jika kau punya riwayat penyakit jantung sebaiknya tidak usah, mundur sajalah!) suaramu akan hilang karena teriakan, tubuhmu akan timbul semacam keringat dingin, dan seluruh syaraf-syarafmu akan menegang, tak tentu. Kemungkinan terburuknya kamu akan jatuh pingsan dan didera halusinasi. Aku telah mengalami fase-fase itu di bulan pertama aku tinggal di rumah ini—dan itu sangat menyiksa, bikin depresi, dan hampir hilang kewarasan. Selebihnya, aku sudah bisa berdamai dengan rasa takut dan segala macam itulah.

Tak gampang juga menarik perhatian para hantu. Contohnya hantu kembar itu. Merekalah yang paling jahil dan paling suka pamer kehebohan. Merekalah yang paling sering menggangguku pada awal-awal tinggal di rumah ini. Namun dibalik semua itu, justru merekalah yang sebenarnya paling penasaran pada manusia. Mungkin karena kesepian tak ada teman (aku sangat memahaminya) makanya berusaha cari cari perhatian. Melalui merekalah pada akhirnya aku bisa mengenal para penghuni rumah lain; seperti misalnya Mr dan Mrs Adler—sepasang hantu yang ramah dan baik hati. Tak mudah juga aku mendapat perhatian mereka sebab dua pasangan ini gampang curigaan. Mereka seperti menutup diri dari dunia luar—sebisa mungkin mereka menghindari masalah dengan manusia karena bagi mereka hal itu merupakan awal dari petaka besar. Namun, mereka akhirnya mau terbuka dan menerimaku sebagai yang lain, bahkan menganggapku sebagai anaknya yang telah hilang dalam masa perang saudara.

Lain hantu, lain pula pendekatannya. Mr dan Mrs Sandy, misalnya, merekalah yang paling gampang didekati. Karena kutahu bahwa Mrs Sandy terobsesi dengan penyihir, kuajak saja ia bicara tentang segala macam sihir yang pernah kubaca. Tentu saja ini efektif. Ia akan terus cerocos dengan aksen anehnya yang palsu. Dan dengan senang hati ia akan mengajakku jalan-jalan dengan sapu terbangnya. Tentu saja aku menolaknya sebab aku agak risih dengan ketelanjangan tubuhnya. Ketelanjangan tubuh perempuan membuatku mual. Mr Sandy, lebih gampang lagi. Ia, si tua yang baik hati, yang selalu memberiku hadiah-hadiah mengerikan yang menurutnya itu adalah benda paling menggemaskan. Ia terobsesi menjadi seperti Count Dracula. Malam hari ia bangun (padahal semua hantu tak punya batasan khusus apakah ia akan hidup di matahari terang atau sinar bulan. Baru aku tahu bahwa sinar mentari tak bakal membuat mereka musnah) duduk di beranda, membaca koran yang sama selama berpuluh-puluh tahun lamanya, seraya minum secangkir darah segar (kutahu kemudian bahwa itu bukan darah melainkan sirop strawberry buatan Mrs Adler). Ketika pagi datang, ia akan masuk ke dalam peti mati favoritnya di gudang bawah tanah, mengucapkan selamat malam pada setiap orang yang ada di rumah (termasuk padaku).

Tak cuman enam hantu itu sebenarnya yang tinggal di rumah ini, banyak hantu lain yaitu mantan penghuni rumah ini yang biasa datang atau kadang kadang datang pada malam tertentu. Namun, pada Jumat Hitam, semua hantu bekas penghuni rumah ini berkumpul dan mengadakan pesta.

Lihat selengkapnya