Neil mengisap rokoknya pelan sekali. Pikirannya menerawang mengingat hal-hal dalam hidupnya yang telah lewat. Sejak kapan ia mulai merokok? Pertanyaan itu sekonyong-konyong muncul tatkala ia melihat rokoknya yang kini sudah tinggal separuh terbakar. Asapnya membumbung ke angkasa, membawanya pada ingatan tentang hari pertama ia mulai merokok bersama Hailey dan Brandon—dua orang sahabatnya sewaktu masih duduk di bangku kuliah. Suara kekasihnya di seberang telepon memanggil-manggil namanya, namun ia justru asyik mengingat saat pertama kali ia batuk-batuk tatkala nikotin masuk ke dalam pernapasannya, terasa pahit dan tidak enak, tetapi mau tak mau ia harus melakukannya demi sebuah pengakuan bahwa kini ia, Neil Bayu, adalah seorang lelaki peroko, yang akan dianggap macho. Demi anggapan itu pulalah, Neil Remaja, sibuk memaksa diri aktif dalam kegiatan olahraga yang dibencinya, ikut aktif dalam olahraga baseball dan renang setiap dua kali dalam seminggu, padahal kegiatan itu sama sekali menyiksa dirinya sendiri, meski kemudian tubuhnya yang dulu kurus dan lemah, menjadi terlihat kuat dan sehat, dan teman sekolahnya memujinya dengan sebutan itik berubah jadi angsa cantik. Tentu saja pujian semacam ini membuat Neil bahagia dibuatnya, karena selama mengenal mereka, tak pernah ada kata-kata pujian terlontar dari mulut teman-temannya kecuali melulu makian yang hampir sama persis dengan apa yang dialami oleh Binar. Bedanya; Neil mungkin lebih menyakitkan lagi; ia berkulit hitam plus punya kebiasaan berbeda dari kebanyakan lelaki pada umumnya, seperti peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga. Masa kuliah bagi Neil adalah masa di mana ia ingin mengejar mimpi-mimpinya (atau mimpi orang-orang di lingkungannya?), masa di mana ia ingin menguburkan masa lalunya yang penuh dengan makian, hidup baru di kampus baru, dengan orang-orang baru yang sama sekali tak mengenal masa lalunya (ia sengaja memilih kampus paling jauh dari lingkungan tempat tinggalnya supaya ia tak lagi bertemu dengan teman-teman sekolahnya, dengan begitu, ia pikir akan terbebas dari berita buruk tentang dirinya). Di kampus barunya, ia mulai berteman dengan para lelaki pemuja kekuatan fisik, yang lebih mementingkan otot daripada otak. Ucapannya yang biasanya haram berkata kasar, kini menjadi penuh dengan pisuhan yang selalu disisipkan di setiap kalimat yang dikeluarkannya. Utamanya, ia mulai mendekati seorang gadis manis dan seksi, seorang anggota cheerleader di kampusnya yang cukup punya reputasi, berambut blonda, bibir tebal, dengan payudara menantang, gadis itu bernama Kylie. Obsesinya kepada Kylie, sebenarnya adalah obsesi lamanya kepada sosok perempuan. Sejak memasuki sekolah lanjutan, ia selalu jatuh cinta (atau terobsesi?) pada gadis seksi—gambaran tipikal perempuan perempuan dalam video porno yang bertabur berahi. Ini bukan tanpa alasan, sebab, Neil pikir bahwa satu-satunya akses untuk mendapat gelar lelaki seutuhnya adalah dengan melakukan kontak seksual dengan perempuan. Satu-satunya tipe perempuan yang membuatnya merasa menjadi seorang lelaki seutuhnya adalah gambaran perempuan bertabur berahi; berpayudara besar, bibir tebal dan selalu basah, bentuk tubuh aduhai, dan mengenakan pakaian seminimal mungkin di setiap kesempatan. Dengan begitu, ia akan merasa bangga pada dirinya sendiri dan bilang bahwa ia sudah sama seperti lelaki kebanyakan. Sebenarnya ia bisa saja berpacaran dengan gadis-gadis kutu buku teman satu klub-nya, namun, rata-rata gadis-gadis itu tak bisa menggerakkan sifat kelelakiannya, sehingga menurutnya akan percuma saja jika dipaksakan untuk menjalin hubungan, sifatnya mungkin akan sebeku es di kutub selatan. Bersama Kylie, Neil Muda merasa mendapatkan hidup apa yang ada dalam impiannya. Kylie yang seksi dan penuh bosan, menerima Neil menjadi pacarnya setelah serangkaian pendekatan yang cukup menguras tenaga. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa bangga pada pencapaiannya, dengan ekspresi wajah pongah dan kepala tegak, berjalan di sepanjang lorong kelas, bersama si seksi Kylie di sampingnya, dan orang-orang yang melihatnya menaruh hormat padanya (Neil mungkin akan segirang macan yang dapat limpahan daging, karena selama di sekolah lanjutan, hal yang paling ditakutinya adalah berjalan di antara lorong kelas yang mana semua mata tertuju padanya, penuh dengan penilaian, umpatan, dan caci maki, sehingga ia cuit nyali dan tubuhnya bereaksi dengan merasa persih di kedua matanya sampai meneteskan air mata (bukan menangis), seluruh tubuhnya bergetar, dengan sikap tubuh yang serba salah; mungkinkah cara jalanku terlalu mirip dengan para gadis?) Kylie didapat, namun justru masalah besar muncul kemudian; hari ketika ia hendak bercinta dengan Kylie. Malam itu terjadi pada sebuah pesta yang diadakan oleh salah satu teman sekolah Neil di kediamannya. Seperti pesta-pesta pada umumnya, mereka mabuk, dan Kylie mengajaknya bercinta untuk pertama kalinya pada sebuah kamar kosong di lantai atas. Pucuk cinta ulam tiba, Neil berkata dalam hati, ia kelewat semangat, juga kelewat gugup karena bagaimanapun, hal ini adalah impiannya sejak dulu. Ciuman pertamanya dengan Kylie adalah ciuman penuh dengan siksa tubuh. Boleh jadi Neil bersemangat sekali mencium seorang perempuan untuk pertama kalinya, boleh jadi ia juga keburu nafsu, namun ada satu hal yang mengganjal dalam benaknya setelah ciuman itu berhasil dilalui; ada perasaan jijik tak tertahankan yang tak bisa dijelaskan. Perasaan itu muncul tatkala ia mengingat kembali adegan ciuman pertamanya ketika malam telah tiba; adegan itu malah membikinnya mual tanpa sebab. Ketika Kylie sedang sibuk berusaha menelanjangi dirinya sendiri, Neil seperti tersadar bahwa sebenarnya dirinya tak pernah tertarik kepada perempuan secara seksual. Gambaran perempuan penuh birahi dalam benaknya selama ini hanyalah upaya dirinya untuk lari dari kenyataan bahwa dirinya tak bisa bernafsu melihat sosok perempuan penuh berahi sekalipun. Puncaknya, ketika Kylie sudah benar-benar dalam keadaan pasrah telanjang, dan berada di atas tubuhnya, tubuh Neil berkeringat dingin, menjauh karena merasa jijik melihat perempuan telanjang di depannya, karena bagi Neil gambaran Kylie telajang akan selalu mengingatkannya pada sosok ibunya yang selalu ia hormati; dan kapan pun ia melihat perempuan telanjang secara langsung, sekonyong-konyong ia akan ingat ibunya—hal itu tertanam jauh dibenaknya menjadi sebuah kejijikan tersendiri. Setelah kejadian memalukan itu, Neil seakan menarik diri dari lingkaran pertemanan kampusnya, putus dengan Kylie karena baginya hubungan seperti itu hanya akan menyakiti keduanya; Neil akan terus berpura-pura mencintai Kylie seperti sebelumnya, dan ia akan terus membohongi dirinya sendiri dengan berpikiran bahwa dengan terus berhubungan dengan Kylie hidupnya akan selalu bahagia, orang-orang akan senang, karena hubungan seperti inilah yang seharusnya dijalankan. Hingga pada suatu hari sampailah Neil pada pikiran seperti ini; selama ini aku hidup hanya untuk mengikuti keinginan orang-orang. Sudah kulakukan segala cara agar aku terlihat menjadi seorang lelaki biasa; kuubah cara bicaraku yang lembut menjadi kasar dan serba vulgar, kuubah cara berjalanku yang terlihat loyo dan tak bergairah menjadi sekaku tentara, kuubah bentuk tubuhku menjadi padat berisi, kucoba menyukai olahraga, kucoba merokok, mengisap ganja, kucoba membuka-buka video porno dan berharap aku bisa menyukai perempuan berpayudara besar, kucoba mendekati seorang gadis populer nan seksi—standar gadis idaman, kucoba dan kucoba—hampir semuanya, tetapi semakin kucoba semakin aku sadar bahwa semua yang kulakukan justru semakin tidak membuatku bahagia. Aku sudah terlalu lelah mengikuti apa yang menjadi standar kebahagiaan orang-orang. Apa yang sebenarnya kuinginkan? Pertanyaan inilah yang selalu merundungku, kupikirkan berulang-ulang, hingga pada akhirnya aku menemukan suatu jawaban; bahwa satu-satunya jalan untuk meraih kebahagiaan sejati adalah dengan membiarkan diriku masuk ke dalam lubuk hatiku—esensi terdalamku, bercakap-cakap dengannya, berdiskusi, dan merumuskan keputusan bersama; dan hasil keputusannya adalah dengan tidak mengorbankan kebahagiaan diriku sendiri, dan saatnya berkata cukup untuk semua usaha palsu yang hanya membuat diriku semakin terpuruk ke dalam pengaruh buruk, yang ujung-ujungnya cuma bisa menyesali diri sendiri dan berkata dengan penuh penyesalan, kenapa aku begini. Kenapa aku begini? Karena aku sudah begini, akhirnya kutemukan jawaban pertanyaan yang selama ini terus mengangguku. Jawabannya hanya semudah itu tetapi butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk menjawabnya.
Kau masih di situ? tanya Hall di ujung telepon.
Ya, aku masih di sini, Hall, ujar Neil tersadar dari lamunannya. Dan berkat lamunannya, Neil menjadi lebih yakin bahwa ia harus membantu Binar keluar dari masalahnya, bagaimana pun caranya, tak peduli jika nantinya aku mendapat masalah besar.