Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #6

BAB VI

Sebelum para hantu mulai berdatangan, aku menyempatkan diri keluar kamar untuk menemui Mr dan Mrs Sandy dan Mr dan Mrs Adler, karena aku sungguh penasaran dengan penampilan mereka. Namun ketika aku melihat mereka, ada rasa kecewa muncul begitu saja dan mulutku dengan spontan berkata, uwh. Terutama Mr dan Mrs Sandy, penampilan mereka tak banyak berubah dengan kostum yang selalu mereka pakai sehari-harinya. Mr Sandy yang menganggap bahwa tiap hari adalah pesta kostum, malam ini tetap mengenakan pakaian yang sama dan berwujud sebagai Count Dracula, oh, bukan, bukan, tetapi berwujud Nosferatu seperti dalam sebuah film lama, dengan dua buah gigi taring panjang yang bersisian, yang bagiku lebih mirip gigi seekor kelinci yang skalanya tujuh puluh kali dipertajam, tiga diperpanjang, dan lima ratus kali diperjorok, dengan kuku-kuku runcing tajam dan sekotor tangan seorang gelandangan. Oh, tidak, tidak, ternyata ada yang berbeda dari penampilan biasanya; jubahnya, ya, betul jubahnya, yang biasanya berwarna hitam dengan garis tepi merah kini menjadi hitam sepenuhnya; dan yang lebih mengejutkanku, jubah itu bisa berubah menjadi sepasang sayap hitam kelelawar, berkepak anggun dan menimbulkan suara angin bertiup. Apakah ada juga perubahan dari penampilan Mrs Sandy? Pertanyaan itu terlintas dibenakku begitu saja setelah melihat aksi pamer Mr Sandy. Segera saja pandanganku beralih pada sosok Mrs Sandy yang masih tetap mempertahankan citra perempuan penyihirnya; ia masih tetap tanpa busana, dengan sebatang sapu di genggaman tangannya, bedanya—atau mungkin aku salah lihat, malam itu ia jauh terlihat lebih muda lima puluh tiga kali lipat—hampir menyerupai figur perempuan penyihir pemula di kota Salem yang hendak pergi ke pesta Sabat Hitam. Malam itu Mrs Adler terlihat sangat cantik, dengan rambut hitam panjangnya yang terkibar-kibar, tersenyum kepadaku dengan bibirnya yang merah—itulah pertama kalinya ia menyunggingkan senyum kepadaku selama aku mengenalnya; senyumnya indah sekali ditopang wajah yang begitu cantik dan mempesona; namun, sebelum aku membalas senyumannya, ada yang berubah dari sosok Mrs Sandy; timbul dua buah tanduk besar dari dua sisi keningnya—mirip sekali dengan tanduk seekor domba, melengkung dan berlekuk. Tak hanya itu, wajah Mrs Sandy seketika berubah jadi nenek tua penuh keriput dengan hidung melengkung, persis seperti gambaran stereotipe penyihir tua dalam film keluarga yang doyan makan anak-anak. Akulah ibu dari segala ibu penyihir, ucap Mrs Sandy dengan suara parau seperti menelan ribuan dahak. Berbeda dengan Mr dan Mrs Sandy, Mr dan Mrs Adler berpenampilan layaknya dua ekor siluman ikan; wajah mereka yang selalu terlihat ramah dan semringah kini menjadi wajah tanpa ekspersi; sepasang mata ikan yang terlihat besar, dengan sepasang bibir segede gaban, dengan tubuh penuh sisik berwarna emas, berkilauan ketika tertimpa sinar bulan. Wajah tanpa ekspersi itu segera sirna diganti dengan senyum simpul khas Mrs Adler yang menyuruhku untuk makan malam sebelum para tamu datang. Makan sampai kenyang sehingga kamu bisa tidur pulas.

Kulakukan apa yang diperintahkan Mrs Adler kepadaku. Sebelum berangkat kerja, mamaku membuatkanku kentang goreng, dan pasta carbonara kesukaanku. Aku memakannya dengan lahap sampai perutku kenyang sekali. Setelah semuanya selesai, aku pergi ke kamarku, mematikan lampu, masuk ke dalam selimut, dan mencoba tidur, namun semua usahaku sia-sia; aku tak bisa tidur karena pikiranku terus menyala. Aku terus menerus memikirkan kemeriahan apa saja yang akan terjadi sebentar lagi di dalam rumahku ini. Sebagai manusia yang dibekali rasa ingin tahu bawaan, sikapku yang begini ini boleh kubilang wajar, karena hal-hal baru membuatmu bergairah dan mencoba pengalaman baru adalah suatu anugerah tersendiri, terlebih lagi untuk orang sepertiku; seperti yang pernah kubilang, bahwa ibuku selama ini tak pernah betah tinggal di suatu tempat berlama-lama, bisa beberapa bulan, bisa satu tahun, bisa juga dalam hitungan hari. Aku tak tahu akan sampai kapan aku akan tetap tinggal di rumah ini, bisa saja tiba-tiba besok mama mengajak pindah rumah—entah kemana lagi, sehingga aku tak punya waktu lagi untuk menunggu tahun depan untuk melihat acara khusus ini. Aku hampir saja keluar kamar ketika suara ribut-ribut di luar sudah mulai terdengar; para hantu sudah mulai berdatangan, pikirku seraya membuka selimut tebalku lalu menatap lekat lekat ke arah pintu kamarku, membayangkan apa yang sedang mereka lakukan di luar sana. Kuurungkan niatku tatkala aku teringat pesan Mrs Adler kepadaku untuk tidak keluar kamar dan tidur cepat. Maka malam itu menjadi malam yang paling menyiksaku. Aku gelisah sepanjang malam itu, bergulang-guling tak jelas, mencoba menutup mata dan berkhayal yang indah-indah seperti yang biasa kulakukan menjelang tidur, tetapi tentu saja khayalan itu buyar tatkala pendengaranku menangkap suara gelegar tawa, obrolan, musik klasik, nyanyian lirih, pidato pendek, disusul riuh tepuk tangan seperti sedang berlangsung sebuah upacara keagamaan. Lalu hening, persis seperti sedang mengheningkan cipta. Aku makin penasaran dengan apa yang mereka lakukan selama keheningan itu berlangsung. Dan tambah bikin penasaran ketika suara musik menghentak kencang sekali seakan itu adalah seruan gempa bumi, disusul dengan teriakan serempak dan menggelegar—tawa para hantu yang sedang bungah. Setelah itu mungkin sedang berlangsung pesta-pesti karena terdengar meriah sekali, dengan musik menggema, dan obrolan yang entah apa. Dan para hantu pun makin malam sudah tak lagi berpusat di lantai bawah sebab kudengar sangat jelas sekali bahwa mereka ada dibalik pintu kamarku, mengobrol dan mengobrol.

Malam itu, entah kenapa kamarku jadi sedingin lemari es, padahal pemanas ruangan sudah mamaku nyalakan agar aku tak kedinginan. Di luar salju tidak turun, namun kamu tak bisa keluar begitu saja tanpa sebuah jaket yang melekat di tubuhmu. Tak ada yang jendela yang kubiarkan terbuka, juga tak ada celah buat hawa dingin masuk kamarku. Lantas kenapa kamarku jadi sedingin ini? Tanyaku dalam hati. Ini pasti ada hubungannya dengan para hantu yang sedang pesta itu, ucapku menjawab pertanyaan diriku sendiri. Tepat ketika aku sedang berpikir tentang sumber dingin ini, tiba-tiba dua sosok hantu masuk ke dalam kamarku. Sebelum ia menyadari kehadiranku dan sadar akan kehadiran sosoknya, buru-buru kubenamkan diriku ke dalam selimut tebalku.


Lihat selengkapnya