Inilah kamar masa kecilku, ujar si hantu perempuan dengan suara parau. Suara itu mirip burung gagak, dengan aksen asing, dan cara bicaranya terkesan manja yang dibuat-buat. Mereka sedang mengadakan tur keliling rumah, pikirku, dan kutebak hantu lelaki yang menemaninya adalah kekasihnya. Dari caranya merespon, si lelaki tampak hanya berpura-pura antusias terhadap ucapan si perempuan. Oh begitu, wow, hebat, bagus, ya, ya, kata-kata itu terdengar ucapan basa basi yang terdengar cukup basi di telingaku. Pasti si hantu lelaki ada maunya, tebakku, dan ini terbukti ketika si hantu lelaki mencoba merayu si perempuan. Mereka duduk di atas ranjangku sebelah kanan, dan seketika ranjangku makin sedingin kutub selatan. Oh tidak, tidak, desahku dalam hati. Aku tak mau mereka bercinta di atas ranjang tidurku di saat aku sedang tidur di atasnya. Dan yang kutakutkan ternyata kejadian. Mereka saling tindih, saling cium sementara aku segelisah ular derik. Aku harus bagaimana? Apa aku harus mengusir mereka karena sudah berlaku tidak senonoh di dalam kamarku sendiri, dan berkata; hei kalian, harap pergi dari sini sekarang juga sebab kalian mengganggu privasi dan ketentramanku. Kalau misalnya aku berkata begitu, bukan tidak mungkin mereka akan balik memarahiku, karena sebenarnya mereka tidak benar benar salah juga. Sebagai hantu mereka pikir aku tak bakal melihat mereka bercinta di ranjang yang sama, sebab kami hidup di alam yang berbeda. Tetapi kenyataannya lain; aku bisa mendengar bahkan bisa mencium aroma tubuh mereka yang bikin mual. Aku sudah tidak tahan, gumamku sambil menggerutu, seraya melakukan gerakan gerakan sporadis sebagai upaya protes keras kepada mereka, sehingga kegiatan bercinta mereka terhenti dan saling bertanya-tanya; apakah aku bisa melihat mereka bercinta? Takut ketahuan dan karena sudah tak tahan dengan desah rayu mereka yang memualkan, akhirnya aku bangkit dari ranjangku, keluar dari kamarku tanpa peduli dengan para hantu yang sedang berpesta ria. Persetan dengan hantu!
Ketika pintu kamarku terbuka, aku bagaikan Alice yang pergi ke dunia ajaib, semuanya serba berbeda dengan ruang tamuku yang biasanya. Sejak kapan Mr dan Mr Adler sibuk mendekor seluruh ruangan menjadi begini merah-gelap dan menjijikan? Lukisan seekor ular memakan sebuah apel merah tergantung di ruang tamu, ukurannya tak terbayangkan dan masif, ada sebuah altar di tengah ruangan dengan bentuk segilima diterangi ribuan lilin putih. Aku tak berani melihat ke seluruh ruangan sebab aku takut mereka curiga bahwa aku bisa melihat semuanya—termasuk melihat keberadaan mereka. Ketika aku keluar kamar, otomatis para hantu melihat kehadiranku. Aku benci jadi pusat perhatian (satu hal yang paling tak kusukai di dunia ini). Untuk menghalau ketegangan, kucoba menerapkan apa yang biasa kulakukan ketika berjalan di lorong sekolah; aku tak membalas tatapan mereka, dan berpura-pura menganggap mereka tak ada dengan memfokuskan pandanganku pada satu titik, dengan begitu, tatapan sinis, ejekan, merendahkan, umpatan, penasaran, caci maki, guyonan, sampai pujian sekalipun tak bisa melukai perasaanku, karena aku sudah membentengi diri dengan mengenyahkan semua indera kecuali pengelihatan pada satu titik fokus. Cara itu rupanya berhasil diterapkan dalam kondisi membingungkan seperti ini; aku terus saja berjalan di antara kerumunan hantu yang berwujud sangat menyeramkan, kalau tak kubayangkan mereka seperti teman-teman sekolahku yang suka usil, mungkin saja aku sudah teriak-teriak sejak tadi atau kabur dari rumah karena rumahku malam ini bukanlah rumahku yang biasa melainkan neraka. Mataku berair ketika aku tiba di dapur mungilku (kebiasaanku setelah melewati kerumunan orang, mataku menjadi merah dan berair), langsung saja aku mengambil gelas dan mengisi air pada sebuah keran, lalu duduk di kursi makan yang tak sedang diduduki siapa pun. Ketika asyik duduk tanpa ada gangguan dari hantu manapun, tiba tiba beberapa hantu datang dan langsung mengerubuniku. Mereka menatapku seakan aku adalah barang antik yang dipajang di sebuah museum. Aku berusaha menjaga sikapku supaya tak mencolok. Meski harus kuakui badanku bergetar hebat, mataku merah dan berair, lakuku jadi kikuk tatkala mereka memperhatikanku lekat sekali.
Salah satu hantu berkata, bocah ini kelihatan tegang sekali.
Betul, tukas hantu lain. Tubuhnya bergetar, matanya merah dan berair.
Mungkin saja anak ini sedang terkena demam.
Tetapi panas tubuhnya terlihat merah muda dan wajar, ujar hantu yang berwujud ular kobra raksasa, yang dengan lidahnya yang panjang mencoba mengecek kondisi tubuhku.
Apa mungkin anak ini bisa melihat kita?
Oh, mana mungkin.
Betul, mana mungkin. Kalau pun mungkin, ia sudah teriak teriak atau kabur ketika melihat kita semua.