Mrs Sandy membawaku ke ruang tamu setelah itu, memperkenalkanku pada khalayak ramai atas seizin Mr Sandy (tentu saja setelah melalui berbagai silang pendapat yang cukup alot di antara para pemimpin perkumpulan keluarga, beberapa hantu menolak keras, beberapa setuju, beberapa yang abstain, hingga diputuskan bahwa aku berhak untuk ikut pesta Jumat Hitam kali ini). Semua mata tertuju padaku malam itu, Neil. Padangan mereka beragam; ada yang senang, biasa-biasa saja, tanpa ekspresi, jijik, benci. Biarin saja, ujar Mrs Adler disusul dengan senyum khasnya, kita tidak bisa memaksa mereka untuk suka atau tidak suka pada kita, Sayangku. Sama halnya dengan mencintai, mereka juga tak butuh alasan buat membenci seseorang. Dan sudah sifat dunia seperti itu. Tak perlu kamu ambil pusing terhadap mereka yang tidak menyukaimu, sebagaimana kamu tidak perlu ambil pusing juga terhadap gerak-gerik mereka. Nah, yang kamu harus lakukan sekarang adalah, berbaulah dengan para hantu di sini, berkenalanlah, nikmati pesta malam ini sampai kamu benar-benar lelah.
Si kembar-lah yang paling senang dengan kehadiranku di pesta itu. Tetapi sebelum aku diperkenalkan kepada teman-temannya, mereka bilang kepadaku begini; syarat wajib untuk ikut serta dalam pesta ini adalah dengan memakai kostum. Kamu tak boleh bergabung sebelum kamu memakai kostum. Khusus buatmu, karena kamu bukan hantu, kau bebas memakai kostum apapun, asalkan tampilanmu berbeda dengan penampilanmu sehari-hari.
Aku tak punya kostum untuk dipakai, ujarku sedikit kecewa karena tak ada satu pun pakaian di lemariku yang setidaknya mirip kostum. Tetapi kemudian rasa kecewaku hilang dihempas oleh ide luar biasa yang datang entah dari mana; aku ingat ada beberapa kostum di lemari pakaian ibuku yang sudah tak dipakainya lagi sebab ia sekarang sudah beralih profesi; kostum itu adalah kostum cinderella sepatu kaca—kostum yang ingin sekali aku pakai pada malam haloween, tetapi tak pernah kesampaian sebab ibu melarangku untuk memakainya. Sekaranglah saatnya aku bisa memakainya sebebas-bebasnya karena tak ada mama, tak ada teman-temanku yang sudah pasti akan menghinaku habis-habisan ketika melihatku berpakaian ala cinderella.
Aku pergi ke dalam kamar mamaku bersama hantu kembar, menyusuri isi lemari pakaiannya untuk mencari kostum itu, dan akhirnya ketemu. Kucoba kostum itu dan terlihat kebesaran beberapa ukuran, tetapi masih bisa dipakai, berkat bantuan hantu kembar yang pandai sekali mengepas-ngepaskan kostum itu di tubuhku—entah dengan cara apa, hingga bagian dada yang harusnya sangat longgar kini pas sekali di tubuhku. Supaya kamu benar-benar jadi seorang cinderella, kamu harus pakai rambut palsu juga, ujar si kembar menyarankan. Aku lihat ada beberapa model wig di laci ibumu yang ada di pojok kamar itu. Aku mencoba mencarinya, dan ternyata benar adanya; ada beberapa wig berbagai warna dan berbagai model rambut hadir di situ. Aku memilih wig panjang blonda yang kemudian kupakai untuk menutup rambut asliku sehingga terpampang nyatalah diriku yang baru; gadis Cinderella berambut blonda. Aku mematut matut diri di depan cermin, mengagumi diriku sendiri karena malam ini aku terlihat cantik sekali. Inilah kostum yang kuinginkan, ujarku pada diriku, lalu senyum puas mengembang di wajahku yang terlihat semringah malam itu. Si kembar mendandaniku dengan peralatan kosmetik mamaku, hingga aku jadi jauh terlihat lebih cantik sembilan kali lipat.
Ulala, ujar si kembar sambil mengagumi sosokku, menatapku dari ujung kepala sampai sepatu kaca. Kamu bahkan terlihat lebih cantik dariku.
Benarkah itu? pujian si kembar membuat kebahagiaanku berlimpah ruah dan menitikan air mata haru sebab tak ada seorang pun selain si kembar yang memuji penampilanku seperti ini. Aku langsung memeluk mereka dan mengatakan terima kasih karena telah membantuku menyiapkan kostum indah ini.