Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #9

BAB IX

Bisa kamu tebak siapa bintang tamu itu, Neil? Pasti kamu tak akan menyangka dengan kedatangan bintang tamu ini. Jika kamu di sana—buat orang yang hidup pada zaman yang sama dengan si penyanyi itu, kamu pasti akan teriak teriak seperti para hantu lain yang ada di sana saat itu. Betul kamu tak bisa menebaknya? Baiklah, aku akan mengatakannya, siapkan diri baik-baik, tahan napas, dan boom, dia adalah Freddie Mercury, Neil. Ya, betul, Freddie Mercury vokalis dari band legendaris Queen, yang posternya terpampang nyata di kamar ibuku bertahun tahun lalu. Memang betul, sebagai anak yang lahir di era sekarang, mana tahu si Freddie Mercury ini vokalis legendaris atau bukan, seperti yang sudah kukatakan barusan, aku hanya tahu tampangnya dari poster di kamar ibuku; rambut potongan pendek yang kelihatan terlalu banyak memakai minyak sehingga bagiku ia terkesan orang yang baru selesai mandi yang tak sempat handukan, kumis tebal dan terpangkas sempurna yang berguna untuk menutupi giginya yang agak tonggos (baru kutahu kemudian setelah bertemu langsung dalam pesta), cuman mengenakan singlet putih yang memamerkan bulu dadanya yang lebat, memegang mik dengan cengkraman tangannya yang besar dan mantap.

Kedatangannya malam itu cukup membuat para hantu histeris; sosoknya muncul pertama kali dalam jubah kebesaran seorang Count Dracula, dengan wajah tanpa ekspresi berbalut riasan tebal, potongan rambut sarang burung walet dengan panjang sampai bahu. Altar pesembahan itu berubah menjadi panggung kecil dilengkapi dengan peralatan musik dan para pemain band berupa kawanan jerangkong yang terlihat sudah tak sabaran memainkan alat musik mereka. Alat musik dimainkan, teriakan histeris makin menjadi-jadi. Terutama, si kembar, merekalah yang paling bahagia melihat kehadiran Freddie di panggung. Baru aku tahu kemudian bahwa ide mengundang Freddie Mercury ke acara itu atas usaha di kembar melobi Mr Sandy supaya menghadirkan artis idola mereka. Si kembar bercerita bahwa semasa mereka masih hidup, mereka sangat mengidolakan grup band asal Inggris itu. Menganggap lagu-lagu dalam album A Night at the Opera lebih indah ketimbang lagu puja puji tuhan. Singkatnya, si kembar yang masih hidup itu tergila-gila pada Queen.

Semua bergembira pada malam itu, termasuk aku. Aku merasa bahwa malam itu adalah malam yang paling membahagiakan dalam hidupku—dan mungkin saja, sebuah pesta kostum terindah dalam hidupku, yang mungkin tak pernah mungkin aku dapatkan selama hidup di dunia. Selama Freddie bernyanyi—yang sungguh di luar dugaanku, tiba-tiba saja ia melepas jubah ikonik drakulanya, dan aku tercengang dengan busana yang dikenakannya malam itu; kalau kamu pernah nonton film jadul The Rocky Horror Picture Show, bayangkan saja penampilan ia persis seperti itu; kemben latek hitam, celana dalam, dan stoking hitam dengan higheels tinggi, ditambah dengan kumis andalan dan bulu-bulu menggetarkan—aku terpaku pada penampilannya dan berharap aku bisa seperti dirinya yang begitu luwes dan penuh percaya diri dengan menjadi dirinya sendiri dan semua orang memujanya, tanpa memandang ia seperti apa dan bagaimana.

Apakah ini nyata, atau cuman khayalan semata? ujar Freddie Mercury melantunkan lirik lagu andalannya, Bohemian Rhapsody, diikuti oleh hantu lain yang kini membentuk sebuah lingkaran dan saling berpegangan tangan. Irama band yang menghentak membuat kami semua berputar dan berputar, berjoget, tertawa, bergembira, sampai akhirnya pesta itu tiba-tiba rusak seketika dihancurkan oleh sesosok hantu yang terlambat datang ke pesta. Kau tebak pesta itu rusak gara gara apa, Neil?

Lihat selengkapnya