Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #10

BAB X

Kemunculan Jatmiko sering terjadi akhir-akhir ini. Neil Bayu menjadi semakin cemas dan mengkhawatirkan keselamatan jiwa Binar Basundari. Sebenarnya ia ingin sekali bertemu dengan Maryana Basundari untuk membicarakan hal ini, barangkali saja dengan adanya bantuan manusia lain, terutama ibu Binar sendiri, akan membantunya menjaga Binar dari ancaman Jatmiko. Jika aku bertemu dengan Maryana Basundari dan mengatakan bahwa anaknya—Binar Basundari sedang dalam bahaya besar sebab ada sesosok hantu yang akan membawanya ke neraka, bukan tidak mungkin ia akan dianggap tidak waras oleh Maryana, bukan juga tidak mungkin bahwa Maryana pada akhirnya akan mencurigai bahwa Neil menjalin kedekatan dengan Binar; jika itu terjadi dan Maryana memaksa anaknya untuk menceritakan semuanya, maka sia-sia-lah sudah semua usahanya, sebab tak mungkin ia bakal punya kesempatan kedua untuk membantu Binar keluar dari masalah ini. 

Tak ada seorang pun yang akan membantuku, gumam Neil seraya berpikir keras untuk menuntaskan masalah ini sesegera mungkin. Masalahnya memang tidak semudah yang dibayangkan, pelik dan serba salah. Kalau memang ancaman itu datang dari manusia lain, ia tidak perlu repot-repot sampai mau ikut campur sampai sejauh ini; ia tinggal memanggil polisi untuk menyelesaikan masalah yang sedang dialami Binar; selesai dan praktis, tetapi, masalahnya adalah mereka sedang berurusan dengan hantu. Hantu yang ia sendiri tak pernah melihatnya secara langsung dengan kedua matanya; hanya berdasarkan apa yang sedang diucapkan oleh Binar dan fenomena lain yang tak masuk akal. Juga tak mungkin ia minta bantuan pada pihak gereja sebab selama ini ia tak pernah pergi ke gereja manapun kecuali ketika ia masih kecil ketika ibu dan ayahnya mengajaknya ke gereja yang letaknya tak jauh dari kompleks perumahannya. Lantas aku harus bagaimana?

Tak banyak yang dilakukannya kecuali tetap siaga dengan segala kemungkinan yang akan terjadi ke depan. Neil Bayu, membuka kembali alkitab milik mendiang ibunya yang sudah lama tak digunakan dan sekarang tampak berdebu, mengeluarkan kembali rosario milik ayahnya dalam laci, bersama perangkat keagamaan lain seperti sebuah salib dan patung bunda maria. Tidak ada salahnya aku mencoba hal hal yang berbau keagamaan seperti ini, pikir Neil seraya sibuk mengingat kembali doa-doa apa saja yang pernah dipelajarinya, atau ayat yang mana saja yang menurut ibunya bisa ampuh mengusir hantu. Ia juga mencoba menerapkan tehnik pengusiran hantu seperti dalam film-film horor yang pernah ditontonnya. Ketika malam setelah Maryana pergi bekerja, Neil datang ke rumah Binar dengan membawa sebuah tas besar yang berisi puluhan salib yang khusus dibelinya pada seorang tukang kayu. Salib itu ditempelkan pada seluruh dinding kamar Binar sehingga kamar itu terlihat lebih mirip sebuah ruang pengakuan dosa dibanding kamar anak anak. Tak hanya itu, ia juga menggantung puluhan bawang putih di depan kamar Binar karena katanya bawang putih akan membuat hantu tak tahan akan baunya seperti dalam film Dracula. Neil memberikan rosario milik ayahnya kepada Binar, menyuruh Binar untuk memakai kalung itu di lehernya. Ditempatkan pula sebuah patung bunda maria di atas meja kecil, untuk berdoa bersama dan memohon perlindungan Perawan Maria dari kejaran hantu jahat.

Binar tak berkomentar apa-apa tatkala Neil sibuk melakukan kegiatan barunya, Binar merasa bahwa Neil terlihat tak biasa dari biasanya; karena selama malam-malam panjang dengan percakapan intens dan rutin itu, yang bisa Binar simpulkan tentang Neil, juga menurut pengakuan yang keluar dari mulutnya sendiri adalah bahwa Neil tak terlalu percaya pada hal-hal gaib. Tetapi sekarang, Neil berubah layaknya penganut agama konservatif. Agak aneh memang, tetapi bagaimana pun Binar harus mengucapkan terima kasih karena telah berusaha membantunya keluar dari masalah ini.

Malam itu menjadi malam yang paling mengerikan sekaligus menegangkan yang pernah mereka alami bersama. Setelah segala persiapan untuk menangkal bahaya yang akan datang selesai, mereka menikmati makan malam yang dibawa Neil dari rumahnya. Ia memasak steik sapi dengan kentang tumbuk dan kacang polong. Mereka memakannya di meja makan sambil membicarakan tentang kegiatan apa saja yang dilakukan Binar selama di sekolah.

Lihat selengkapnya