Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #11

BAB XI

Bagi Neil, tuntutan-tuntutan Binar Basundari kepadanya tidaklah menjadi soal besar selama hal itu masih dalam jalur kewajaran; maksudnya—dengan senang hati ia akan memberikan kasih sayang yang berlimpah pada Binar, tentu saja, dan kasih sayang ini hendaknya tidak disalah artikan menjadi hal lain yang kurang pantas—hubungan cinta misalnya. Tetapi sejauh Neil mengenal Binar, tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa anak ini punya perasaan berbeda padanya, hanya saja akhir akhir ini, perasaan tak sukanya pada kekasihnya Hall menjadi begitu kentara, dan hal ini membuat Neil bertanya tanya, apa yang ada dipikiran anak ini sebenarnya.

Ketika memikirkan hal ini, tiba-tiba seluruh lampu di rumah itu padam sehingga acara makan malam mereka terhenti sebelum selesai. Angin bertiup kencang dari balik jendela jendela rumah yang terbuka, terasa dingin sekali di kulit Neil yang cokelat. Angin itu seperti ingin membisikan sesuatu pada Neil, semacam desisan seekor ular sanca. Binar berteriak teriak sambil melihat ke arah pojok dapur, tempat di mana wastapel berada. Dia di sana Neil, ujar Binar dengan tubuh bergetar. Matanya merah menyala, dengan gigi-gigi runcing tajam, dan membawa sebilah pisau dapur di tangan kanannya. Dia bilang ia akan membunuhku dengan pisau dapurnya yang mengilat, ia akan mencincang-cincang tubuhku seperti daging sapi, lalu akan ia berikan daging itu pada kawanan babi. Dengar, dengar, Neil, ia terus mengoceh.

Binar lari dari ruang makan secepat yang ia bisa menuju kamarnya. Neil berusaha menyusulnya, tetapi kakinya seperti sulit sekali digerakan, padahal tidak ada benda atau apapun yang menghalanginya, seolah kakinya diberi sebuah jangkar kapal, karena dengan mengerahkan seluruh tenaga pun sulit sekali untuk bisa berjalan. Apa hantu itu sedang memegangi kakiku sehingga aku tak bisa bergerak? tanya Neil penasaran. Atau mungkin saja ini hanya sugesti diriku akan hantu yang sedang mengancam Binar sehingga kakiku menjadi kram dan tak bisa berjalan? Neil tak tahu jawabannya, yang ia tahu bahwa ia harus secepat mungkin menggerakan kakinya supaya bisa menyelamatkan Binar dari ulah hantu itu. Tetapi sebelum ia sempat mengerahkan tenaganya supaya bisa jalan, kaki-kakinya yang besar itu sudah bisa digerakan hampir seringan kapas. Neil pergi ke dalam kamar Binar di mana saat itu Binar sedang berteriak teriak supaya hantu itu segera pergi dari hadapannya dan tak lagi menganggunya. Lagi lagi, karena Neil bingung karena ia tak melihat penampakan hantu itu, yang dilakukan Neil adalah mendekati Binar dan memeluknya erat-erat, barangkali dengan begitu hantu itu tak bisa menyakiti Binar, pikir Neil nekat. Hantu itu hilang, menurut pengakuan Binar, entah kemana.

Lihat selengkapnya