Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #12

BAB XII

Sore itu Neil bertemu dengan Hall di sebuah cafe favorit mereka. Sudah lama ia tidak bertemu dengan kekasihnya Hall. Semenjak Hall sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai penulis hantu, hidupnya berubah menjadi semacam makhluk nokturnal; tidur di pagi sampai siang hari, sore hari ia akan bangun, mandi, sarapan, dan siap untuk kembali bekerja. Sebenarnya hal ini hampir tak ada bedanya dengan Neil. Semenjak ia mengenal Binar dan pergi ke rumah anak itu setiap malam, Neil jadi kehilangan waktu tidur tujuh jamnya, kini, kantung matanya terlihat lebih hitam dan bengkak, mata sayu dan selalu berair, dan kelihatan tak bertenaga—seperti kehilangan vitalitas hidup yang biasanya penuh semangat. Hal ini diakui sendiri oleh Neil yang berimbas pula pada kegiatan mengajarnya, selama di kelas, ia dihinggapi rasa kantuk yang tak tertahankan, dan tak bisa dihilangkan oleh bergelas gelas kopi sekalipun, dan untuk bisa memfokuskan diri pada pengajarannya, ia harus berusaha keras mengenyahkan rasa kantuk dan pikiran-pikiran yang mengganggunya—terutama keselamatan Binar dan keberadaan para hantu. Sikapnya pun, harus Neil akui, mulai berubah menjadi lebih sensitif dan emosional. Selama ini sikap Neil di kelas cenderung hangat dan dinamis—lebih mementingkan keharmonisan kelas daripada memaksa diri menjadi pengajar yang otoriter; Neil dikenal sebagai pengajar yang memiliki kedekatan dengan murid-muridnya, tentu saja dalam batas wajar dan tahu diri: ia juga dikenal sebagai seorang pengajar yang giat sekali mengkampanyekan anti risakan antar sesama siswa; ia tak mentolerir sikap muridnya yang punya tendensi untuk merundung, dan bertindak tegas terhadap setiap tindakan rundungan. Dan akhir-akhir ini, setiap lelucon spontan yang biasa keluar dari para siswa, yang biasanya dibiarkan begitu saja karena menurut Neil lelucon itu cuman sebatas candaan spontan, dan tak punya makna, kini menjadi kedengaran sangat mengganggunya. Ada pesan terselubung dibalik sebuah lelucon, ujar Neil teringat akan kata-kata seorang psikoanalisis. Maka tak pelak lagi para siswa yang membikin lelucon menjadi sasaran amarahnya.

Tak hanya kehidupannya di lingkungan sekolah, kehidupan percintaannya dengan dengan Hall menjadi sedikit runyam sebab Neil terlalu kukuh pada dirinya sendiri bahwa ia sudah bertindak benar dengan membantu anak itu.

Ada hal yang ingin aku bicarakan, Hall, ucap Neil membuka pembicaraan. Sore itu, cafe itu terlihat lengang dan sunyi; hanya ada beberapa orang pengunjung dan para pramusaji yang terlihat sedang berdiri siaga layaknya patung spink. Ada alunan lagu mengalun pelan dari penyanyi pop yang sedang naik daun, suaranya begitu mendayu dayu, dan terdengar merengek-rengek, membuat sore yang seharusnya syahdu itu menjadi sedikit terganggu. Neil memesan cokelat panas kesukaannya dan Hall memesan kopi hitam tanpa gula. Sore itu Neil mengenakan flanel merah marun yang terlihat kekecilan di tubuhnya yang besar (atau memang ia sengaja memakainya sebagai upaya memamerkan otot-ototnya yang besar) celana jins hitam, dan sepatu cokelat. Semuanya terlihat rapih kecuali wajahnya yang kusut. Ekspersi itu, adalah ekspersi wajah yang selalu dipasang Neil akhir-akhir ini. Sekalipun ia bertemu dengan kekasihnya, ekspersi itu tak bisa hilang dari wajahnya. Hal itu justru membuat kekasihnya makin khawatir dengan kondisi Neil yang tak stabil.

Apa itu? Tanya Hall penasaran. Keduanya terlihat canggung seolah mereka adalah dua orang asing yang baru saja dipertemukan lewat situs kencan. Tak ada kehangatan sikap yang biasa ditunjukkan Neil pada kekasihnya, tak ada tatapan penuh yang menghujam yang biasa dilakukannya tanpa mengenal bosan—singkatnya tak seperti biasanya. Yang ada dipikiran Neil sekarang adalah; ia ingin masalah ini cepat selesai, kembali menjalani rutinitasnya seperti sedia kala, dan tidur dipelukan kekasihnya selama mungkin (kalau bisa seharian penuh tanpa harus pergi kerja), karena selama ini ia sudah merasa lelah dengan drama-drama yang menurutnya mulai tak jelas ini. Yang ingin disampaikan Neil sekarang adalah; ia akan berkata pada kekasihnya bahwa ia sedang bingung dan curiga dengan perilaku anak itu, karena menurutnya, sikap anak itu mulai terasa dibuat buat dan mengada-ngada. Ia ingin cerita bahwa ia mulai meragukan kehadiran hantu jahat dan semua cerita-cerita hantu yang pernah diceritakan oleh anak itu, karena bisa jadi semua teman-teman hantunya; sosok si kembar digambarkan sebagai sosok sahabat yang terlalu baik hati, Mr dan Mrs Adler sebagai pengganti sosok orang tua ideal dan Mrs dan Mrs Sandy sebagai sosok kakek-nenek yang tak banyak omong dan penyayang, hanyalah khayalan Binar Basundari semata sebagai pelipur lara hidupnya yang kesepian. Sosok hantu Jatmiko merupakan manifestasi ketakutan terdalam Binar perihal sosok manusia yang merundungnya selama ini. Dan yang terakhir adalah Jumat Hitam. Yang Neil anggap sebagai khayalan terindah yang pernah diceritakan Binar kepadanya. Jumat Hitam bagi Binar adalah manifestasi ideal tentang sebuah pesta. Selama ini, teman-temannya menganggap Binar sebagai anak yang tak layak diterima apalagi didekati, oleh sebab itu Binar membuat pesta khayalannya sendiri tentang sebuah pesta hantu—dirinya diterima dengan tangan terbuka dan ikut serta di dalamnya meskipun ia adalah seorang manusia. Sedangkan tentang kostum Cinderella yang dipakaiannya, adalah kostum impiannya ketika Halloween datang. Tentu saja—seperti yang ia bilang, bahwa di dunia nyata ia tak mungkin memakai kostum itu, sebab dunia akan memakannya hidup hidup jika itu terjadi. Mengenai Freddie Mercury, Neil yakin bahwa anak itu telah mencari tahu sebelumnya tentang kehidupan vokalis nyentrik itu, juga tentang film queer musikal Rocky Horror Picture Show. Semua itu terasa bagai omong kosong, pikir Neil dengan perasaan kecewa menyadari bahwa selama ini ia telah dibohongi, oleh seorang anak kecil pula. Tetapi semua itu terasa wajar, Neil kemudian berpikir ulang, sebagai seorang anak lelaki yang terbuang, satu-satunya cara untuk menghapus kesepian dari dalam dirinya adalah dengan cara berimajinasi, berkhayal sehebat mungkin sampai kamu lupa bahwa perasaan kesepian yang sudah terlanjur melekat di tubuhmu akan hilang begitu saja, tergantikan oleh perasaan senang karena akhirnya kamu punya teman yang melimpah dalam khayalanmu, teman yang tak pernah berusaha menyakitimu atau mencelakakanmu. Pilihan hidup seperti itu, sungguh bukan pilihan yang buruk, pikir Neil, sebab aku pun pernah melakukan hal itu, meski memang tak seekstrim yang dilakukan Binar. Yang membuat Neil bertanya-tanya adalah, apakah Binar menjelang remaja itu sedang memanfaatkannya? Kalau memang ia dimanfaatkan karena Binar butuh seorang teman, oh, tentu saja ia sangat tidak keberatan. Tetapi jika ia dimanfaatkan oleh kepentingan lain, secara seksual atau romansa misalnya, tentu saja ia akan marah semarah marahnya. Bagaimana mungkin anak yang terlihat polos itu menyimpan hasrat seksual terhadap dirinya yang selama ini telah tulus membantunya? Setiap manusia punya hasrat seksualnya masing-masing, pikir Neil, dan itu terasa wajar bahkan pada anak kecil sekalipun. Kebangkitan seksualnya akan segera tiba, dan Neil tak ingin dirinya menjadi semacam kelinci percobaan atau katakanlah objek seksual bagi anak itu. Tak boleh dan terlarang. Neil tak ingin dirinya masuk dalam perangkap anak itu jika memang ia punya niatan seperti itu. Yang harus dilakukannya sekarang adalah membuktikan semua rasa curiganya selama ini, sebab itu adalah satu-satunya jalan keluar dari segala masalah dan pikiran yang menimpanya selama ini.

Aku ingin mengenalkanmu pada anak itu, ucap Neil setelah hening yang lama.

Maksudku, setelah ini kamu ikut aku ke rumah anak itu untuk aku perkenalkan padanya, tambah Neil menjelaskan, rencana-rencana yang sudah susah payah ingin dikatakannya perihal masalahnya, urung ia katakan pada kekasihnya. Sebaiknya tak perlu, bantah Neil dalam hati. Lebih baik aku sendiri yang menyelesaikan masalah ini.

Lihat selengkapnya