Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #13

BAB XIII

Namaku Halle Jordan, ujar pasangan Neil seraya menjulurkan tangan kepada Binar Basundari. Binar membalas juluran tangan itu dengan tanpa tenaga, tak bersemangat seolah ia sedang kelelahan, sambil bilang, senang berkenalan denganmu, Halle.

Halle membalas sapaan itu dengan senyum manis di bibirnya yang tipis. Bibir yang tipis itu mengeluarkan kata-kata yang terdengar terlalu formal dan sopan untuk lawan bicaranya yang hanya seorang anak kecil. Mungkin sudah menjadi kebiasaannya.

Hal pertama yang diperhatikan Neil tatkala Binar bersalaman dengan Halle adalah raut wajah Binar yang tiba-tiba berubah menjadi masam ketika melihat sosok Halle dan memperkenalkan diri sebagai pasangannya. Wajah polos itu berubah menjadi seraut wajah campuran antara kesedihan dan amarah, sehingga mudah sekali bagi Neil untuk menebak perasaan Binar saat itu. Disusul dengan sikap diamnya selama obrolan itu berlangsung. Biasanya, Binar adalah tipe tipe anak yang jika merasa cocok dengan lawan bicaranya, akan banyak bicara, bahkan tak habis-habis. Dan Neil yakin sebenarnya Halle adalah salah satu orang yang cocok diajak bicara dengannya, terlebih mereka sama sama menyukai film film horor, tetapi pada kenyataannya anak itu tetap diam seperti batu. Apakah dengan kejadian seperti ini Neil sudah bisa menyimpulkan bahwa anak ini suka padanya? Belum, masih belum, masih harus terus diteliti dan dibuktikan, ujar Neil, dan yang ditunggu-tunggunya saat ini adalah kemunculan hantu jahat Jatmiko. Apakah dengan kehadiran Halle di situ sosok hantu itu akan datang? Selama tiga puluh menit Halle hadir di situ, tak ada tanda-tanda kemunculan hantu jahat itu; ekspersi Binar masih tetap sama dan terlihat kikuk; Halle dari tadi bicara lebih seperti bermonolog ketimbang berdialog, karena dari tadi Binar diam seperti batu.

Anak itu tak suka dengan kehadiranku di rumahnya, ujar Halle menyimpulkan, setelah lebih dari setengah jam berkutat dalam situasi yang cukup menjemukan, menilai dan menebak-nebak, Halle akhirnya pamit pulang untuk kembali berkutat mengejar tenggat waktu kerjanya. Sebaiknya kamu hati-hati, sayangku. Aku tak kamu dimanfaatkan oleh anak itu.

Lihat selengkapnya