Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #14

BAB XIV

Neil sulit menerima kenyataan bahwa anak itu telah membohongi dirinya selama ini. Padahal ia sudah rela mengorbankan semuanya—termasuk keselamatan dirinya, kewarasannya, hubungannya dengan kekasihnya, juga reputasinya yang dipertaruhkan demi menolong anak itu dari ancaman hantu jahat. Semuanya sia-sia saja, pikir Neil. Tetapi untung saja hidupku belum sepenuhnya hancur—hanya kacau. Dan tugasku sekarang adalah menata kembali hidupku yang sudah lama berantakan. Yang akan dilakukannya ke depan adalah 1) istirahat sebanyak mungkin 2) tidur teratur 3) mengatur emosi—terutama saat pengajaran berlangsung 4) memperbaiki hubungan percintaannya yang agak renggang 5) belajar untuk bisa seobjektif mungkin dalam menghadapi masalah yang sama 6) lupakan Binar Basundari secepat mungkin dari dalam hidupnya—kalau bisa hapus sekalian nama itu dari inti ingatannya supaya ia tak selalu memikirkan betapa jahatnya anak itu. Namun ada garis jelas antara memikirkan seseorang dan memikirkan untuk tidak memikirkan seseorang*, dan Neil sepertinya memilih yang kedua. Berhari-hari, bahkan sampai berminggu-minggu anak itu masih tak bisa hilang dari pikirannya. Mungkin saja hal itu bisa dibilang wajar sebab anak itu telah mengisi malam-malamnya menjadi lebih hidup dan berwarna, juga berguna bagai sebuah cermin diri; selain mengingatkannya pada masa lalunya, anak itu berguna untuk melongok kembali dirinya sendiri, memantapkan kembali tujuan yang terlupakan. Ada yang hilang secara tidak langsung dalam diri Neil—seperti ada sebuah lubang kecil di hatinya yang menganga dan perlu untuk ditutupi, sebab jika tidak, lubang itu akan terus menerus menyakitinya, menimbulkan nyeri secara tak sadar, dan hanya waktu yang bisa menyembuhkan segalanya.

Kenyataannya tidak seperti itu, pikir Neil, aku tetap tak bisa melupakannya, bahkan dalam mimpi sekalipun.

Berikut ini mimpinya;

Tatkala aku membuka kedua mataku, hal yang pertama kali kulihat adalah dua bocah kembar yang sedang menatapku penuh curiga, dengan sepasang mata biru mereka yang bersinar-sinar layaknya mata seekor kucing. Dua orang kembar itu adalah sepasang gadis cilik bergaun cinderella, dengan sebuah pita merah tersemat di rambutnya yang blonda. Mereka berdiri dengan berlagak seorang putri raja yang ingin menebarkan titah. Entahlah, aku tak tahu aku berada di mana, yang jelas tempat itu terasa akrab bagiku (mungkin aku bakal mengenali tempat itu jika diberi sedikit saja penerangan—lilin barangkali, sehingga aku punya sedikit klu). Tempat itu segelap jika rumah dalam kondisi mati lampu, dan hanya lilin-lilin kecil saja menyala tepat di bawah kaki-kaki kecil si kembar layaknya lampu spotlight. Ruangan itu sedingin lemari es, dengan kesunyian yang takkan sanggup kamu lalui sampai seratus tahun, sampai sampai dengus napasmu sendiri terdengar layaknya sebuah bom atom di Hirosima. Kesunyian itu pecah oleh celotehan si kembar.

Hei, kamu, ujar si kembar berkata sama dan serentak, terdengar bagai dua orang manusia hasil kloningan.

Ya, aku? Ada apa?

Akhirnya, ujar si kembar masih serempak. Kita ketemu juga ya.

Kamu siapa?

Kamu sudah mengenal kami.

Siapa?

Siapa lagi kalau bukan si kembar yang pernah akrab di telingamu.

Lihat selengkapnya