Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #15

BAB XV

Neil Bayu memutuskan akan pergi ke rumah Binar Basundari malam ini setelah mimpi itu datang berturut turut dan selalu sama; hantu kembar cerewet menghantui mimpinya, memaksanya datang sekali lagi, untuk membuktikan bahwa anak itu tidaklah sepenuhnya bersalah. Seperti perkataan hantu cerewet itu, tidak ada salahnya aku mencoba datang, ujar Neil yang sedang berpakaian; kali ini ia memilih kaus tanpa kerah warna abu abu yang memamerkan otot bicepsnya yang besar, celana jeans biru tua yang robek di bagian lututnya, dan sebuah jam tangan berwarna perak hadiah pemberian dari kekasihnya Hall. Seraya menatap dirinya di depan cermin ia berpikir kata kata apa yang akan ia keluarkan tatkala bertemu kembali dengan Binar Basundari; mungkin saja basa-basi atau semacam itulah, pikirnya, atau hei aku datang ke sini cuman untuk membuktikan mimpi-mimpi yang selama ini datang menghantuiku. Hei, wajahmu terlihat pucat dan tak bertenaga. Yang pasti akan ada rasa canggung dan demam panggung. Tetapi, tidak masalah lah. Yang pasti aku harus datang ke sana malam ini juga. Harus!

Malam yang ditunggu-tunggunya sudah turun, setelah senja memakan waktu terlalu lama karena matahari sulit sekali tenggelam. Karena sore itu tak ada jadwal bertemu dan kegiatan yang berarti, Neil Bayu jadi bingung sendiri dan tak sabaran menunggu malam tiba; ia coba menghabiskan waktu dengan membaca buku, tetapi kemudian ia menghentikan kegiatannya setelah menghabiskan dua tiga halaman karena tak fokus pada cerita yang disampaikan—yang ia pikirkan hanyalah kata-kata hantu kembar itu dalam mimpinya; bagaimana jika semua perkataan itu benar adanya? Bagaimana jika para hantu itu benar-benar ada dan ia bisa melihat langsung dengan kedua matanya yang telanjang? Pikiran itu melimpah ruah dan mendominasi segala pemikirannya sehingga tatkala menjalankan aktivitas apapun, ujung-ujungnya pikirannya pasti kembali pada hantu itu. Sekarang setelah pukul delapan malam telah lewat (jadwal rutin Maryana Basundari pergi ke tempat kerjanya); Neil Bayu buru-buru pergi dari rumahnya menuju rumah Binar Basundari.

Malam itu bulan bersinar begitu cemerlang, membulat seperti kue donat. Jalanan masih tetap sepi dan remang. Neil berjalan dengan perasaan was-was dan tak sabaran ingin cepat sampai. Akan ada apa, akan ada apa, pikirnya sambil berjalan gontai. Tibalah ia di depan rumah itu; rumah bercat putih dengan rumput hijau dan pohon elm di halamannya; rumah yang membuat masa kecilnya begitu tersiksa karena imejnya yang angker, rumah yang sekarang membuat dirinya tetap merana karena ada seorang anak kecil di dalamnya yang butuh bantuannya.

Ia mengetuk pintu rumah itu dengan jantung berdegup dua kali lebih kencang, kemudian pintu itu terbuka dan terpampang nyatalah sosok Binar yang berdiri lemah dengan kaus warna merah yang terlihat kebesaran di tubuhnya yang kecil.

Hei Neil, silakan masuk, ujar Binar dengan ekspersi wajah kaget campur senang. Sorot matanya yang tadinya tak bersemangat kini muncul secuil apa yang siap membakar kembali hari-harinya yang beku.

Neil masuk rumah itu, masih terlihat sama terakhir kali ia ke sana, tetap tak terawat dan berdebu, namun sekarang terasa jauh lebih dingin.

Akhirnya kamu datang juga, ujar sebuah suara yang berasal dari sudut gelap di bawah tangga, yang kemudian Neil sadar bahwa itu adalah suara hantu si kembar, sebab caranya bicara yang serempak dan senada, menjadi begitu khas di telinganya tanpa perlu melihat bentuk fisiknya. Namun, malam ini, suara itu mewujud berupa dua anak perempuan kembar. Malam itu si kembar mengenakan gaun pendek berenda dengan kaus kaki selutut, sepatu hitam, dengan rambut berpita putih susu. Melihat sosok si kembar Neil merasa bahwa semua itu terasa tidak nyata, ini hanya mimpi, ujarnya, ini cuman khayalanku saja. Tetapi ini bukan khayalan, ini nyata, hantu kembar itu nyata.

Belum sempat ia meredakan kekagumannya, muncullah hantu hantu lain yang terasa sangat akrab sekali oleh Binar; sepasang suami istri yang baik hati Mr dan Mrs Adler hadir dengan senyum mereka yang cerah, disusul dengan hantu Count Dracula yang tak lain adalah Mr Sandy yang kalem, dan di sampingnya hadir sesosok hantu perempuan telanjang duduk di atas sapu terbang, yang tak lain adalah Mrs Sandy—hantu yang pernah hadir di masa kecilnya, yang membuat malam-malamnya menjadi malam penuh perjuangan karena ingatan Neil tentang Mrs Sandy sangatlah kuat.

Selamat malam, ujar para hantu itu serentak. Senang sekali akhirnya kami bisa bertemu denganmu secara langsung.

Lihat selengkapnya