Well hello, ujar sebuah suara yang bukan berasal dari para hantu yang ada di situ, disusul dengan tepuk tangan yang meriah, betubi-tubi, semakin dekat, nyaring, kemudian muncullah sesosok lelaki bersetelan jas hitam lengkap dengan celana hitam yang terlihat rapih jali dengan bekas lipitan setrika, wajahnya terlihat segar dengan kumis yang terpangkas terlalu rapih, potongan rambut under cut yang terlihat basah, sekali kamu memandangnya, kamu akan mengira bahwa ia adalah seorang pimpinan mapia, lengkap dengan sebuah cerutu kuba, dan raut wajah kalem tetapi licik.
Lelaki itu mulai memperkenalkan diri dengan cara lama, namaku Jatmiko, seraya membungkuk dan senyum ramah.
Setelah mengetahui bahwa hantu itu adalah Jatmiko, hal pertama yang muncul dalam benak Neil Bayu adalah; tak sesuai seperti yang kubayangkan. Dalam bayangan Neil tentang Jatmiko adalah; ia hantu urakan dan tak punya otak seperti dalam gambaran umum film-film horor, dengan wujud seram dan tak punya tata krama dalam bicara. Kenyataannya; Jatmiko yang ada di hadapannya adalah hantu yang punya kesantunan berlebih yang hanya bisa disamai oleh golongan aristokrat, dengan gaya yang tak kalah hebat dengan golongan borjuis. Neil akan terpesona melihat Jatmiko seandainya lelaki itu tak memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namun, kemudian, seperti tersadar diri dari daya hipnotis kuat, Neil Bayu kemudian menyadari bahwa lelaki inilah yang membuat hidup Binar Basundari jadi merana. Memang, penampilan dan sikap yang bagus tak menjamin punya hati yang baik pula, pikir Neil seraya menatap Jatmiko yang kali ini sedang bermonolog ria.
Jatmiko dengan gayanya yang luwes, kata kata yang juga terdengar luwes, menjelaskan perihat peraturan di dunia hantu.
Dari zaman iblis pendahulu kita, ujar Jatmiko, yang kini memegang gelas berisi wine merah, tak diperkenankan seorang manusia menghadiri acara sakral para hantu; terlarang. Dan bagi siapapun yang melanggarnya, maka mau tak mau manusia itu harus menjadi bagian dari kami; wajib hukumnya.