Maryana Basundari tak mau membantuku, ucap Neil tanpa semangat seolah semua harapannya hancur, tiga malam kemudian, sebab dua malam setelah kejadian itu, Maryana lebih memilih untuk tinggal di rumah menemani Binar hingga sulit baginya untuk melakukan kontak dengan Binar juga dengan para hantu.
Neil juga bercerita bahwa sehari setelah penolakannya berlangsung, ia segera pergi ke gereja untuk minta pertolongan seorang pastur, barangkali saja hal ini merupakan solusi paling tepat untuk mengenyahkan masalah besar ini, namun kemudian, Neil justru pulang dengan hasil nihil dan penuh kejengkelan sebab mereka menganggap kasus Neil haruslah diajukan oleh pihak berwenang terutama pihak keluarga. Tak mau hilang harapan begitu saja, Neil pergi ke perpustakaan kota untuk mencari tahu siapa sebenarnya hantu Jatmiko namun ia tak urung menemukan sosoknya di berita koran koran lama—barangkali dengan mengetahui identitas musuhnya, ia bisa mencari tahu titik lemah Jatmiko.
Oh tentu pernah ada, Neil, jawab Mr Adler. Kejadiannya sudah lama sekali, satu generasi di bawah kami. Bukan begitu Mr Sandy?
Betul sekali, Mr Sandy yang pendiam itu berucap, sambil mencoba mengingat kejadian yang telah lampau.
Kejadiannya cukup menggemparkan seisi kota, kali ini Mrs Sandy ikut bicara. Tragedi itu berlangsung justru ketika masa damai sudah berjalan seperti sediakala. Setelah undang-undang penghapusan budak disahkan, disusul dengan pembentukan konfederasi dari tujuh negara bagian sebagai upaya menolak undang-undang, dan pecahlah perang saudara, yang kemudian kalah telak oleh uni dan mau tak mau tujuh negara bagian itu harus bergabung dan menerima undang undang itu sebagai suatu aturan yang harus dijalankan, dan menerima kenyataan bahwa budak-budak hitam mereka bukan lagi barang kepunyaan mereka seutuhnya. Bagi yang legowo, tentu saja keputusan ini gampang sekali dijalankan, tinggal menerima kenyataan bahwa budak-budak mereka kini punya hak hidup dan kewajiban yang sama. Tapi tak semua orang di kota ini menerima kenyataan itu; kebencian terus menerus dipupuk dan diturunkan secara kolektif dan tidak sadar. Kebencian itu juga ada dalam diri Jatmiko.
Kamu tahu sewaktu dia masih hidup Jatmiko berprofesi sebagai apa?
Neil hanya menggeleng, begitu juga dengan Binar.
Pengkotbah.
Pengkotbah?
Ya betul, kamu tidak sedang salah dengar, balas Mrs Sandy yang kali ini duduk di atas sapu kesayangannya. Dia adalah seorang pendeta di gereja lingkungan ini. Hari Minggu-lah hari di mana ia bisa menebarkan kebenciannya dengan bebas dan berapi-api kepada khayalak ramai yang selalu rutin pergi ke gereja. Dalam setiap kotbah Minggunya ia selalu mengingatkan tentang pentingnya sikap waspada terhadap musuh dalam selimut seraya mengutip ayat-ayat dalam mazmur. Mula mula ia menyampaikan sikapnya secara tersirat, lalu setengah tersirat, kemudian karena tak tahan dengan segala macam kiasan yang tak terlalu ampuh, dengan terang terangan dan tanpa tahu malu ia mengutuk-ngutuk sikap mantan para budak yang dianggapnya sudah tak punya batasan.
Kebenciannya itu terus menerus dikotbahkan hingga banyak orang yang teracuni, membenci dengan terang terangan maupun diam-diam.
Suatu hari datanglah keluarga Carter yang akan menempati rumah ini. Keluarga Carter menerima rumah ini sebagai hadiah dari mantan majikannya sebagai ucapan terima kasih dan sebagai utang budi karena telah bertahun tahun mengabdi. Dahulu rumah ini adalah salah satu rumah paling besar dan paling mewah di lingkungan ini. Kamu bisa bayangkan perasaan Jatmiko ketika tahu bahwa rumah sebesar ini dihuni oleh manusia yang selama ini dibencinya. Ya betul, dia bukan hanya marah begitu tahu kabar itu, tetapi benci sebenci bencinya benci, hingga kebencian itu membakar dirinya dan mampu menarik minat salah satu raja iblis neraka. Atas dasar kebencian itu dan dibantu oleh kuasa raja iblis, pada suatu malam Jatmiko menembak mati semua anggota keluarga Carter dengan sebuah pistol. Dan pada malam itu pulalah Jatmiko harus menemui ajalnya di tangan para polisi yang mengepungnya.