Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #19

BAB XIX

Dinding sel tahanan Kepolisian Sektor Bintaro Tua terasa teramat dingin, pekat, dan lembap, merembeskan hawa sedingin kutub yang langsung menusuk hingga ke sumsum tulang. Di dalam ruangan sempit berjeruji besi, atmosfer yang menguar hanyalah bau apak dari sisa-sisa lantai semen yang jarang dibersihkan, bercampur dengan aroma keringat dari kecemasan manusia-manusia lain yang pernah mendekam di sini sebelumnya. Bau itu begitu menyengat, seolah-olah sengaja hadir untuk mengubur dalam-dalam sisa kehangatan Jumat malam yang seharusnya menjadi perayaan manis bagi hari ulang tahunku yang ke-33. Di bawah temaram lampu neon batangan yang menggantung rapuh di langit-langit—berkedip-kedip sekarat memuntahkan cahaya putih pucat. Neil duduk meringkuk di sudut ruangan yang paling gelap. Kedua lututnya ia tarik rapat menjepit dada tegapnya, sementara sepasang matanya menatap nanar ke arah telapak tangannya sendiri yang bergetar hebat tanpa bisa ia kendalikan.

Tuduhan asusila, penculikan anak di bawah umur, serta pelanggaran wilayah privasi yang dilayangkan secara resmi oleh Maryana Basundari benar-benar membakar hidup-hidup seluruh sisa martabat yang kupunya. Ironi jahanam ini merobek-robek kesadaranku hingga berderai menjadi serpihan abu yang tak berharga. 

Niat tulusku yang teramat mulia—mengorbankan waktu tidur, menguras energi spiritual, dan nekat menerjang bahaya demi menyelamatkan nyawa Binar dari cakaran berdarah iblis Jatmiko—kini berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi belenggu besi yang siap menghancurkan reputasi, nama baik, serta masa depanku yang telah kubangun dengan jerih payah sebagai seorang pendidik di sekolah. Dunia luar yang rasional dan dipenuhi dogma hukum tidak akan pernah mau peduli pada eksistensi makhluk tak kasat mata. Bagi lembaran berita hukum acara pidana besok pagi, aku, Neil Bayu, hanyalah sesosok pria agnostik dewasa yang kedapatan menyusup secara ilegal ke dalam kamar seorang bocah laki-laki berusia dua belas tahun di tengah malam buta.

Suara detak jam di ruang utama Polsek terdengar lapat-lapat menembus jeruji besi, bergaung ganjil layaknya ketukan palu hakim yang siap menjatuhkan vonis mati atas seluruh karierku. Neil mengusap wajah cokelatnya yang kini tampak teramat kusut, kusam, dan layu akibat akumulasi kelelahan mental yang akut. Pikirannya berputar liar, memutar kembali gulungan rekaman beberapa jam yang lalu ketika Maryana datang mendobrak pintu rumah Lebron bersama sepasang aparat polisi urban Jakarta. Jeritan histeris Binar, tatapan penuh prasangka menjijikkan dari Maryana, hingga moncong dingin senjata api yang ditodongkan tepat di atas kepalanya, masih terasa begitu riil merajang batinnya. Neil mengingat bagaimana kedua tangannya dipaksa bertekuk di belakang punggung, dikunci oleh selot borgol baja yang dingin, lalu diseret kasar membelah selasar ruang tamu di hadapan ratusan pasang mata koloni arwah yang hanya bisa melayang diam menatap dengan pandangan sayu penuh rasa bersalah. Tuan Adler yang ramah, Mbah Sandy yang kalem, hingga sepasang hantu kembar yang lucu, semuanya lumpuh tidak berdaya untuk bersaksi di hadapan hukum fana manusia hidup. Di hadapan negara, kesaksian makhluk halus adalah omong kosong yang haram untuk dicatat dalam Berita Acara Pemeriksaan.

Mengapa takdir ini harus berjalan sekejam ini, Neil lirih ke arah sudut sel yang senyap, suaranya parau tersumbat oleh rasa sesak yang merongrong kerongkonganku.

Aku mengingat kembali komitmen hidupku selama ini. Aku adalah Neil Bayu, seorang guru teladan yang sepanjang karierku paling gencar mengampanyekan gerakan anti-perundungan di sekolah. Aku adalah pria yang selalu memasang badan paling depan ketika melihat anak-anak yang lemah diintimidasi oleh komplotan murid yang bebal. Dan kini, aku justru dijebloskan ke dalam sel tahanan atas tuduhan yang paling kubenci di dunia ini: merusak masa depan seorang anak. Setiap jengkal reputasi bersih yang kurawat dengan sikap hangat, dinamis, dan tahu diri di hadapan para murid kelasku, mendadak luluh lantak dalam satu malam jahanam. Di mata hukum, ketulusanku bertransformasi menjadi motif kriminal yang teramat vulgar. Aku memejamkan mata erat-erat, membiarkan punggungku bersandar pada dinding semen yang berjamur, merasakan hawa ektoplasma dingin sisa pertempuran dengan Jatmiko masih sedikit merembes di pakaian flanel merah marunnya yang kini tampak kumal dan berdebu.

Lihat selengkapnya