Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #20

BAB XX

Bunyi derit pintu besi yang dibuka paksa oleh petugas piket membuyarkan lamunan kelam yang sejak semalam bersarang di kepala Neil Bayu. Langkah kaki pria bertubuh tegap itu terasa teramat berat, terseok membelah koridor semen Polsek Bintaro Tua yang pengap dan menguar aroma kelembapan akut. Pagi telah datang, namun sisa hawa sedingin kutub dari dinding sel tahanan seolah enggan menguap dari permukaan kulit cokelatnya. Neil menuruti instruksi dingin seorang sipir yang menggiringnya menuju ruang kunjungan umum, sebuah bilik sempit yang dibelah oleh sekat kaca tebal berbingkai kayu lapuk yang buram oleh noda debu kompleks. Di balik kaca itulah dunia manusia hidup dan palung sunyi orang buangan dipertemukan secara paksa oleh yang namanya birokrasi hukum.

Halle Jordan sudah duduk menanti di seberang sekat kaca dengan pembawaan yang sarat akan beban batin yang meremukkan punggungnya. Ia melangkah datang dengan ritme kaki yang gontai, menyeret sepatunya di atas ubin seolah-olah seluruh pasokan energinya telah terkuras habis sepanjang malam. Wajahnya terlihat teramat kusut, jauh lebih berantakan ketimbang tumpukan lembaran naskah bayangan pesanan penerbit siber yang belakangan ini terlantar tidak disentuh di atas meja kerjanya. Dari balik ulasan bibirnya yang tipis dan kering, Halle menatap kedatangan Neil tanpa sederet pun senyuman hangat yang biasa ia obral secara royal. Tatapan sepasang matanya langsung menghujam lurus ke dalam bola mata Neil, melempar sebuah radiasi yang dipenuhi perpaduan ganjil antara rasa tidak percaya, kepedihan mendalam, serta benih-benih kecurigaan yang rupanya sempat mengendap rapat di dalam kepalanya sejak pertemuan kafe tempo hari.

Keheningan yang mencekik seketika mengunci ruang kunjungan itu sebelum salah satu dari mereka berani menggerakkan bibir. Dialog di antara pasangan yang terpisahkan jeruji hukum ini berjalan teramat kaku, mengandalkan lubang-lubang kecil pada sekat kaca pembatas untuk menyambung suara yang lirih dan gundah. Tidak ada lagi kehangatan sikap atau tautan jari yang biasa mereka pamerkan tanpa mengenal batas bosan. Yang tersisa hanyalah sekat kaca tebal yang memantulkan rupa wajah mereka yang sama-sama layu dan kusut didera kelelahan mental yang akut.

Neil, mengapa semuanya harus berakhir di tempat jahanam seperti ini, ucap Halle membuka suara, intonasinya terdengar parau, datar, dan berjarak seolah ia sedang menginterogasi seorang asing yang baru ia temui di selasar bioskop festival film independen Jakarta.

Neil mencengkeram pembatas kayu di depannya, merasakan jemarinya yang besar mendadak kelu dan gemetaran. Maryana menjebloskanku kemari karena prasangka buruknya yang tak berdasar, Halle, jawab Neil pelan, mencoba merajut pembelaan diri di hadapan orang dekatnya sendiri. Aku bersumpah demi detak jantungku yang masih tersisa, aku melangkah masuk ke kamar itu karena didorong kewajiban moral untuk menyelamatkan nyawa Binar dari amukan destruktif iblis Jatmiko, bukan karena motif kriminal terselubung seperti yang dituduhkan polisi padaku.

Halle menggelengkan kepalanya dengan gestur lambat, sebuah penolakan rasional yang teramat menyakitkan untuk disaksikan. Ia menopang kedua siku tangannya di atas meja pembatas, menuntut sebuah penjelasan jujur yang subjektif mungkin tanpa embel-embel takhayul dunia arwah yang selama ini ia anggap sebagai omong kosong fiktif pelipur lara seorang anak yang kesepian. Di dalam kepala Halle, segala narasi tentang hantu berbaju seragam sekolah atau siluet penyihir terbang hanyalah delusi psikologis yang telah meracuni kewarasan Neil hingga nekat bertindak di luar kendali hukum .

Lihat selengkapnya