Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #21

BAB XXI

Dinding ruang pemeriksaan kantor polisi ini dilapisi busa empuk warna abu-abu dekil yang sudah robek di beberapa sudutnya. Baunya apek sekali, mirip bau tumpukan baju basah yang kelupaan diangkat Mama dari ember cuci di kamar mandi belakang. Aku duduk diam di atas kursi besi yang ketinggian untuk badan kecilku. Sepasang kakiku yang kurus menggelantung begitu saja, sama sekali tidak bisa menyentuh ubin lantai yang terasa dingin. Di depanku, seorang polisi wanita berambut pendek rapi dengan seragam cokelat kaku menatapku terus-menerus. Tangannya memegang pulpen di atas kertas putih yang masih kosong melongpong. Wanita itu berkali-kali menanyakan apa yang terjadi pada malam menakutkan itu. Suaranya sengaja dibuat pelan dan lembut, mirip suara Ibu Guru yang sedang membujuk anak TK agar mau bercerita. Tapi, aku memilih menutup mulutku rapat-rapat. Aku membiarkan meja kayu di antara kami menjadi sepi dan dingin.

Aku sebenarnya ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya sampai dadaku yang sesak ini lega. Aku ingin menceritakan kepada Ibu Polisi itu tentang rupa menyeramkan hantu Jatmiko yang bertubuh merah besar dengan sayap lebar seperti kelelawar raksasa. Hantu itu meraung kencang sampai seluruh lantai rumah kami bergetar, lalu kulit dahinya melepuh terbakar dan bau gosong setelah Niel dengan berani menempelkan salib kayu kuno ke wajahnya. Aku ingin menceritakan bagaimana hantu-hantu pelindungku terlempar menghantam dinding karena amukan hantu Jatmiko. Si kembar sampai berubah menjadi putri duyung bergigi tajam mirip macan untuk menggigit kaki hantu jahat itu, dan Mr dan Mrs Adler berubah menjadi beruang besar untuk menjagaku. Semua bayangan mengerikan itu berputar-putar di dalam kepalaku. Aku ingin mengatakannya agar orang-orang tahu kalau Niel yang berbadan tegap itu bukan orang jahat. Dia adalah satu-satunya orang dewasa yang mau mempertaruhkan nyawanya untuk melindungiku dari bahaya. Namun, setiap kali aku ingin membuka bibirku yang gemetaran, mataku langsung melirik ke sudut ruangan di dekat pintu keluar. Di sana, Mama berdiri diam sambil melipat kedua tangannya di dada. Malam itu Mama kelihatan lemas sekali. Bedak tebal yang biasanya dipakai Mama untuk bekerja di tempat hiburan malam sudah luntur semua karena air mata. Mata Mama menatapku tajam tapi kelihatan ketakutan setengah mati. Mama mengira anak laki-lakinya sudah diapa-apakan oleh pria asing dari seberang jalan. Setiap kali aku melihat mata Mama yang berkaca-kaca karena cemas, lidahku mendadak terasa kaku dan membeku seperti es. Rasa bersalah langsung membuat keberanianku hilang. Aku berpikir, kalau aku menceritakan tentang hantu-hantu dan pesta malam Jumat di ruang tengah rumah kami, Mama pasti akan menganggapku sudah gila. Mama mungkin akan memasukkanku ke rumah sakit jiwa dan memisahkan kami berdua, padahal Mama sudah capai-capai bekerja sampai pagi mencari uang demi menghidupiku. Akhirnya, aku mengambil keputusan yang paling penakut malam ini. Aku memilih menyembunyikan cerita tentang teman-teman hantuku dari polisi. Aku membiarkan Niel dituduh sebagai orang jahat oleh semua orang di kantor polisi ini. Air mataku mulai menetes pelan, membasahi kaus merahku yang kesempitan dan dekil. Aku merasa menjadi anak yang sangat jahat karena lebih memilih berpura-pura agar rumah tanggaku dengan Mama kelihatan normal-normal saja, daripada membela nama baik Niel yang jam tangan peraknya sekarang disita polisi. Di dalam hatiku yang paling dalam, aku merasa sangat sedih dan bingung. Aku terkurung di kursi besi ini, sementara di ruang tahanan bawah tanah, Niel mungkin sedang duduk sendirian sambil merasa kecewa dan marah kepadaku karena aku tidak mau menolongnya.

Binar, tolong lihat wajah Ibu Polwan, Nak, ucap wanita berseragam cokelat itu pelan. Dia mengetuk-ngetuk ujung pulpennya di atas meja agar anak laki-laki itu mau memperhatikannya lagi. Katakan pada Ibu dengan jujur dan jangan takut pada siapa pun, apa yang sebenarnya dilakukan Niel di dalam kamarmu malam itu waktu Mamamu belum pulang kerja. Apakah dia pernah memegang-megang tubuhmu, memintamu membuka baju, atau memaksamu melakukan hal-hal yang membuatmu takut dan tidak nyaman.

Lihat selengkapnya