Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #22

BAB XXII

Aku memutar kunci selot pintu depan dengan sepasang tangan yang masih terasa kelu bekas guratan borgol baja kantor polisi. Ketika daun pintu kayu itu berderit terbuka, pemandangan yang menyambut kedatanganku hanyalah seonggok ruang mati yang mendadak menjelma menjadi orang asing bagi diriku sendiri. Rumahku kini terasa teramat sunyi, hampa, dan kehilangan seluruh denyut kehidupannya, seolah-olah hawa gaib dingin dari rumah keluarga Basundari ikut merembes menetap di dalam dinding-dinding batako ini. Aku mengedarkan pandangan nanar menyapu seisi ruangan tengah. Beberapa cangkir porselen bekas seduhan kopi hitam bersama Hallee beberapa hari lalu masih bertengger membeku di atas meja kayu yang mulai berselimut debu tipis. Sofa jins cokelat tua tempatku biasa menghabiskan malam dengan membaca buku fiksi tampak melongpong hampa, memantulkan kesunyian yang teramat akut menembus dadaku. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini, bahkan suara detak jam dinding tua di atas rak terdengar begitu membahana, berdentum berat layaknya bom atom yang meremukkan sisa-sisa kewarasanku yang telantar.

Aku berjalan gontai menuju kamar tidur, mengempaskan tubuhku di atas ranjang yang terasa gersang tanpa kehangatan. Di bawah pendar temaram cahaya sore yang menyelinap malu-malu dari sela ventilasi jendela, aku didera oleh sebuah rasa kesepian dan kekosongan yang teramat parah. Hatiku terasa seperti dikuliti hidup-hidup, meninggalkan sebuah lubang kecil di sudut batin yang kini telah pecah dan melar menjadi sebuah palung menganga yang teramat lebar, terus-menerus berdenyut ngilu menuntut sebaris jawaban logis atas takdir yang berjalan timpang. Mengapa ketika aku mencoba jujur pada esensi terdalam identifikasiku untuk menjadi pelindung bagi sesama jiwa yang rapuh, semesta justru mencambukku dengan belenggu hukum jahanam seperti ini, bisikku parau ke arah langit-langit kamar yang membisu.

Batinku mulai merayap liar membedah apa sebenarnya makna sejati dari kata rumah bagi garis perjalanan hidupku selama ini. Bagiku, sejak masa kanak-kanak dulu sewaktu aku masih menjadi bocah sekurus papan kayu dengan wajah legam yang pucat didera rundungan Dillon Haart, rumah tidak pernah murni mewujud sebagai sebuah struktur bangunan fisik beratap kokoh. Rumah bagiku adalah sebuah abstraksi tentang ruang aman, sebuah rahim emosional tempat di mana jiwaku tidak perlu lagi repot-repot memakai topeng kepura-puraan di hadapan kepuasan mata dunia luar. Dahulu, aku sibuk memaksa diriku merokok, mengisap asap ganjil, ikut aktif dalam latihan olahTubuh kasti dan renang yang menyiksa tubuh demi mengejar pengakuan normalitas dari komplotan mahasiswa di kampus baru bersama Amara. Semua sandiwara melelahkan itu kulakukan murni karena aku merasa tidak memiliki rumah di dalam diriku sendiri, aku merasa terusir dari esensi identitasku yang berbeda dari kebanyakan lelaki urban Jakarta pada umumnya.

Lihat selengkapnya