Dorongan di dalam kepala Neil Bayu tidak lagi mendengarkan batasan yang digariskan oleh lembaran hukum negara. Mengabaikan larangan hukum yang dijatuhkan pihak berwenang Polsek Bintaro Tua, nalar pria agnostik itu yang cenderung obsesif menolak mentah-mentah untuk menyerah begitu saja pada takdir yang ia anggap berjalan cacat dan timpang. Baginya, jaminan materi yang dikeluarkan Hallee Jordan tidak lebih dari sekadar penebus fiisik atas raganya, namun jiwanya tetap terikat kuat pada rahim rumah kosong peninggalan keluarga Lebron. Di bawah sisa waktu skorsing mengajar yang dijatuhkan secara sepihak oleh kepala sekolah botak Pak Poe akibat rentetan kasus asusila yang mencoreng reputasinya, Neil memilih untuk membelah jalanan kota Jakarta yang gersang. Ia bergerak secara sembunyi-sembunyi, menghindari pasang mata para tetangga seberang kompleks maupun bayang-bayang pengawasan Hallee yang sedang sibuk mengejar tenggat naskah bayangannya di rumah. Langkah sepatunya membawa tubuh tegap itu menapak masuk ke dalam gedung perpustakaan kota yang sunyi, pengap, dan berbau jamur kertas akut.
Di dalam ruangan arsip yang terisolasi dari keriuhan urban perkotaan, Neil duduk berjam-jam di hadapan sebuah mesin pembaca mikrofilm kuno yang layarnya memancarkan pendar cahaya merkuri kuning redup. Sepasang matanya yang menghitam, bengkak, dan senantiasa berair akibat kehilangan vitalitas jam tidur selama tiga bulan terakhir, kini memicing tajam. Jemari tangannya yang besar dengan sabar memutar selot tuas mesin, membedah gulungan demi gulungan mikrofilm koran-koran lama dari medio tahun 2000-an dengan tingkat kesaksamaan yang teramat tinggi. Ia tidak lagi peduli pada rasa kantuk jahanam yang merongrong urat sarafnya; seluruh konsentrasinya telah disabotase oleh sebuah misi pembuktian objektif untuk mencari tahu detail malam berdarah penyergapan sepasang polisi terhadap Jatmiko. Lembar demi lembar berita kriminalitas masa lalu bergulir di depan pandangannya, memaparkan riwayat sengketa lahan agraria dan letup sentimen sosial yang dahulu menguliti kedamaian kompleks perumahan Bintaro Tua.
Batin Neil merayap liar menembus labirin kata-kata yang tercetak di atas layar buram itu, membandingkan teks berita resmi sosiologis dengan seluruh dongeng lisan yang sempat dimuntahkan dari bibir Nyai Sandy maupun Tuan Adler di ruang tengah tempo hari. Mengapa Jatmiko, seorang mantan pengkhotbah mimbar yang rutin membakar berahi kebencian jamaahnya setiap hari Minggu, bisa bertransformasi menjadi sesosok iblis merah yang perkasa di bawah naungan atap rumah itu, bisik Neil lirih ke arah keheningan meja perpustakaan. Jawaban dari nalar psikologisnya berputar pada satu titik: kebencian yang terlampau pekat dan murni ternyata mampu bermanifestasi menjadi jangkar energi spiritual yang mengikat eksistensi arwah itu di dunia . Ketika Jatmiko mendapati sepasang suami istri Keluarga Carter menempati bangunan termewah peninggalannya sebagai hadiah utang budi dari mantan majikan, egonya yang korup meledak menuntut pembantaian massal. Jatmiko menarik pistolnya, menembak mati seluruh anggota keluarga marjinal itu tanpa menyisakan satu pun detak jantung yang bernapas, sebelum akhirnya tubuhnya sendiri ditembus oleh timah panas aparat kepolisian di atas ubin teras yang kotor.