Akhir-akhir ini Maryana Basundari memang didera rasa kurang enak badan yang teramat sangat, kepalanya sering kali pening berputar-putar hingga ia terpaksa melayangkan selembar surat keterangan dokter kepada manajemen kelab malam Jakarta tempatnya biasa mengais rupiah demi mendapatkan dispensasi cuti beberapa hari. Selama masa libur dari gemerlap panggung hiburan malam itu, ia memilih untuk mengurung diri sepenuhnya di bawah naungan atap rumah peninggalan keluarga Lebron, menghabiskan waktu senggangnya untuk merawat Binar sekaligus menata kembali puing-puing kewarasannya yang sempat koyak akibat drama penangkapan pria seberang kompleks tempo hari. Malam pertama, kedua, hingga malam ketiga pasca-kejadian jahanam di Polsek itu dilalui Maryana dengan kondisi yang teramat damai, senyap, dan tenang tanpa ada satu pun riak histeria atau jeritan gaib dari balik bilik kamar anak tunggalnya. Kedamaian semu yang mengalir lambat selama tiga hari berturut-turut itu kian menebalkan dinding ego kewanitaannya, menyuntikkan sebuah dogma keyakinan yang kian absolut bahwasanya silsilah dunia makhluk halus yang tempo hari digembar-gemborkan oleh Neil Bayu tidak lebih dari sekadar bualan omong kosong fiktif, delusi psikologis, atau trik asusila terselubung untuk menjerat kedekatan emosional dengan anaknya yang sedang menjelang puber. Namun, segala bentuk penyangkalan rasional itu runtuh berderai menjadi serpihan abu yang dingin tepat ketika malam keempat dari jadwal cuti kerjanya mulai merayap amblas membelah keheningan gang mati Bintaro Tua.
Di dalam kesunyian ruang tengah yang mencekik udara, Maryana mendadak merasakan ada sepotong kejanggalan yang teramat besar merusak sirkulasi udara di sekitar tempat tinggalnya; hawa di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi teramat pekat, hampa, dan menguar bau jamur akut bercampur aroma dupa mistis yang memualkan indra penciuman. Suhu udara di dalam ruang keluarga sekonyong-konyong merosot drastis secara ekstrem hingga mencapai taraf sedingin es kutub, mematikan seluruh kehangatan domestik yang ada dan memaksa permukaan kulit pualamnya memuntahkan gundukan meremang hebat diiringi getaran tubuh yang menggigil hebat, kendati ia telah memutar selot saklar mesin penghangat baju dan pendingin ruangan ke tingkat paling maksimal. Belum sempat nalar dewasanya merumuskan pembelaan medis atas perubahan iklim lokal yang absurd itu, sepasang bola mata biru gelap milik Maryana mendadak terperangah histeris, terkunci mati menatap lurus ke arah cermin antik berukuran masif yang berdiri angkuh di selasar samping kapstok ruang tamu. Di dalam pantulan permukaan kaca kuno yang kusam berselimut debu tipis itu, ia menyaksikan sebuah realitas dimensi lain bermanifestasi secara telanjang: cermin itu memantulkan siluet sesosok hantu perempuan tanpa sehelai benang pun, bertelanjang bulat dengan rambut hitam legam yang berkibar-kibar liar ditiup angin tak kasat mata, tengah melayang anggun di atas sebatang sapu lidi terbang tua yang bergerak lambat mendekati posisinya. Detik jahanam itulah yang memaksa ego Maryana luluh lantak dikuliti rasa ngeri yang luar biasa; untuk pertama kali dalam riwayat garis hidupnya yang keras di kota Jakarta, ia dipaksa menyaksikan dengan panca inderanya sendiri bahwasanya rentetan takhayul gaib yang disuarakan Neil Bayu bukanlah delusi kelainan jiwa, melainkan sebuah kebenaran absolut yang nyata bersarang di bawah atap rumah mereka sendiri.